Gawat, Udara Palembang Sudah di Level Berbahaya bagi Pernapasan

Berdasarkan pemantauan ISPU yang dimiliki oleh Kementerian Kehutaanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) beberapa kali memperlihatkan udara Palembang berada di berbahaya.

Tasmalinda
Jum'at, 29 September 2023 | 11:04 WIB
Gawat, Udara Palembang Sudah di Level Berbahaya bagi Pernapasan
Suasana Jembatan Ampera yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (5/9/2023). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU]

SuaraSumsel.id - Kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) tercatat pada pekan ini sudah pada level berbahaya bagi pernapasan. Ketebalan asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sangat tidak baik  bagi pernapasan manusia.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis menyebutkan berdasarkan data dari BMKG kualitas udara buruk atau di angka PM 2.5 lebih dominan terjadi pada malam hari hingga paagi hari, menjelang pukul 09.00 wib.

Dia pun menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di saat jam bersebut.

Berdasarkan pemantauan ISPU yang dimiliki oleh Kementerian Kehutaanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) beberapa kali memperlihatkan udara Palembang berada di berbahaya, atau dengan nilai ISPU berada di atas 300.

Baca Juga:H-3 Masa Jabatan Berakhir, Herman Deru-Mawardi Rombak Puluhan Pejabat Pemprov Sumsel

Angka tersebut sangat berbahaya bagi pernapasan manusia. Jika partikel udara buruk yang mengandung polutan masuk ke dalam saluran pernapasan, maka akan terjadi berbagai potensi ancaman kerusakan jaringan tubuh.

Melansir sumselupdate,com-jaringan Suara.com, BMKG memperkirakan kondisi El Nino akan melemah pada awal 2024 atau memasuki musim hujan. Sumsel masih berada di puncak musim sejak Agustus 2023 dengan dampak yang dirasakan sepanjang September.

BMKG perkirakan masih ada potensi hujan terjadi di Sumsel terutama Palembang pada 30 September 2023. Apabila hujan tak kunjung turun artinya potensi mengecil.

“Kalau dari grafik, angka PM 2.5 hari ini yang tertinggi karena sudah tidak terjadi hujan lagi. Hujan hasil TMC terputus, sehingga lahan kembali mengering dan tempat terbakar meningkat,” ujarnya menjelaskan.

Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya (Unsri), Dwi Septiawati menjelasakan standar udara yang sehat yakni jika udara dengan komposisi 78 persen hidrogen, 20 persen oksigen dan sisanya ialah kandungan campuran lainnya seperti CO2.

Baca Juga:Masa Jabatan Herman Deru Tersisa 3 Hari Lagi, DPRD Bocorkan PJ Gubernur Sumsel

Kondisi udara yang ideal diberikan oleh Allah, pencipta agar manusia bisa bernafas.

"Namun jika konsentrasi kandungan zatnya berubah, lebih banyak CO2 seperti karbon dioksida dari hasil pembakaran lahan atau hutan (Karhutla) maka akan berbahaya bagi pernapasan manusia," ujar ia.

Masyarakat diharapkan melakukan upaya pencegahan.

Pemerintah pun sebaiknya melakukan migitasi yang diantaranya bisa dengan memberikan warning, atau kebijakan peringatan agar masyarakat melindungi diri dari udara yang berbahaya bagi kesehatan pernapasannya.

Kondisi udara yang tidak sehat, sambung Dwi akan mengancam kesehatan masyarakat.

"Ancaman kesehatan tidak hanya pada organ pernapasan saat menghirup udara tersebut namun juga bisa mempengaruhi kualitas kesehatan suatu daerah," sambung ia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak