- Pelemahan nilai tukar rupiah mencapai Rp17.691 per dolar AS membuat pedagang dan peternak di Sumatera Selatan merasa khawatir.
- Kondisi tersebut memicu kekhawatiran kenaikan harga bahan baku pakan ternak serta meningkatnya biaya operasional distribusi barang usaha.
- Pelaku usaha kecil takut daya beli masyarakat menurun jika harga kebutuhan pokok naik akibat ketidakstabilan kurs rupiah.
SuaraSumsel.id - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai membuat pedagang dan peternak di Sumatera Selatan resah. Saat kurs dolar AS menembus Rp17.691, kekhawatiran soal kenaikan harga barang dan biaya usaha perlahan mulai terasa di lapangan.
Bukan hanya pelaku usaha besar, pedagang pasar hingga peternak ayam kini mulai waswas jika kondisi rupiah terus melemah dalam waktu lama.
“Kalau dolar terus naik, kami bisa susah. Biasanya efeknya ke harga barang dan pakan,” ujar salah seorang peternak ayam, Rahmat di Palembang, Kamis (21/5/2026).
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Banyak kebutuhan usaha, terutama bahan baku pakan ternak dan distribusi barang, ikut terdampak ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar terus tertekan.
Baca Juga:Bank Sumsel Babel Dorong UMKM dan Wirausaha Muda Lahat Lewat Program Sultan Muda
Sejumlah pedagang di pasar tradisional Palembang juga mulai mengaku khawatir daya beli masyarakat bisa menurun apabila harga kebutuhan pokok ikut naik.
“Kalau harga naik terus, biasanya pembeli mulai mengurangi belanja,” kata seorang pedagang sembako di kawasan Pasar 16 Ilir.
Harga dan Ongkos Distribusi Jadi Sorotan
Pelemahan rupiah sering berdampak pada naiknya biaya distribusi dan harga bahan baku. Kondisi itu membuat pelaku usaha kecil harus mulai berhitung agar usaha mereka tetap bertahan.
Apalagi sebagian barang dan bahan usaha masih bergantung pada komponen impor atau distribusi luar daerah yang sensitif terhadap pergerakan dolar AS.
Baca Juga:Proyek Panas Bumi di Sumsel Dikebut, Pertamina Geothermal Perkuat Energi Hijau Nasional
Tak sedikit pedagang kini memilih lebih berhati-hati dalam menambah stok barang karena khawatir harga kembali berubah dalam waktu dekat.
Selain ancaman kenaikan harga, pelaku usaha juga dihantui penurunan pembeli. Sebab ketika harga barang naik, masyarakat biasanya mulai menekan pengeluaran harian.
Situasi itu membuat pedagang kecil berada di posisi sulit. Di satu sisi biaya usaha meningkat, namun di sisi lain mereka takut menaikkan harga karena khawatir pelanggan berkurang.
“Sekarang orang belanja sudah mulai pilih-pilih. Kalau harga naik lagi, takutnya makin sepi,” ujar pedagang lainnya, Ismi.
Dampak Rupiah Melemah Mulai Terasa hingga Daerah
Pengamat ekonomi Sumsel, Sri Rahayu melansir Susmelupdate.com-jaringan Suara.com, menilai pelemahan rupiah dapat berdampak hingga ke daerah, termasuk sektor perdagangan dan peternakan di Sumsel.