Permintaan Bahan Bakar Fosil Kian Menurun Hingga 2050, Ekspor Batu Bara Anjlok

Dalam Stated Policies Scenario, porsi bahan bakar fosil pada bauran energi global turun dari sekitar 80% menjadi hanya 60% pada 2050.

Tasmalinda
Jum'at, 28 Oktober 2022 | 12:14 WIB
Permintaan Bahan Bakar Fosil Kian Menurun Hingga 2050, Ekspor Batu Bara Anjlok
Ilustrasi batu bara dari tambang. Permintaan bahan bakar fosil kian menurun hingga 2050, ekspor batu bara bakal anjlok (shutterstock)

Di Asia Tenggara, pertumbuhan permintaan energi rata-rata tahunan lebih dari 3 persen dibanding tahun 2021 hingga 2030, dengan batu bara terus mendominasi sektor kelistrikan.

Dengan implementasi penuh dari janji yang telah diumumkan oleh pemerintah negara-negara di kawasan, terutama Indonesia yang ingin menghentikan PLTU batu bara pada 2050, penggunaan batu bara di sektor ketenagalistrikan turun lebih dari setengah pada 2050 dan energi terbarukan akan dengan cepat menjadi sumber pembangkit listrik terbesar.

Menurut Birol, Perjalanan menuju sistem energi yang lebih aman dan berkelanjutan mungkin tidak mulus.

"Tetapi krisis energi global saat ini memperjelas mengapa kita perlu terus maju.” imbuhnya.

Baca Juga:Instruksi Keras Kapolda Sumsel Larang Anggota Gerebek Pakai Baju Preman, Tanpa Indentitas

Analis energi dari lembaga pemikir iklim dan energi EMBER, Achmed Shahram Edianto mengatakan laporan ini mempertegas bahwa kenaikan permintaan batu bara global di sektor ketenagalistrikan hanya bersifat sementara.

Porsi pembangkitan listrik batu bara (unabated coal) akan terus mengalami penurunan. Walaupun krisis energi telah mengurangi perhatian dunia terhadap krisis iklim namun jawaban untuk mengatasi keduanya ternyata sama: transisi menuju energi bersih.

Analis energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Putra Adhiguna mengatakan peran gas sebagai ‘jembatan’ transisi energi akan semakin dalam tekanan besar.

Dengan terpinggirkannya Rusia sebagai eksportir gas raksasa ke Eropa, dorongan untuk memendekkan jembatan perdagangan ini semakin menguat.

"Volatitas harga menyulitkan negara-negara berkembang importir LNG (gas cair) dalam berkompetisi dengan pasar-pasar besar. Hal ini turut menekan reputasi gas sebagai energi yang kerap menjanjikan opsi energi yang ‘affordable and reliable’." ujar ia,

Baca Juga:Cuaca Sumsel Hari Ini: Palembang Hujan Siang Sampai Dini Hari

Putra menambahkan, "Indonesia masih memiliki cadangan gas yang bisa bertahan beberapa dekade, namun harus sangat berhati-hati dalam mendorong penggunaan gas besar-besaran dengan ‘harga semu’. Melindungi pembangkit listrik dan industri dengan harga semu yang ditopang pemerintah hanyalah landas pacu yang harus digunakan dengan baik."

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini