Pupus Harapan Sekolah di Lumbung Sawit Sumsel

Anak-anak putus sekolah di daerah-daerah lumbung sawit Sumatera Selatan (Sumsel) masih terjadi setiap tahun

Tasmalinda
Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:07 WIB
Pupus Harapan Sekolah di Lumbung Sawit Sumsel
Petani sawit di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan [Suara.com/Tasmalinda]

Menurutnya, anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena kebutuhannya tidak bisa terpenuhi oleh orang tua mereka. Sementara bagi yang sudah di usia sekolah lanjutan lebih memilih meninggalkan desa untuk bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga. “Yang putus sekolah atau terhenti ini yang anak-anaknya banyak. Yang punya 2-3 orang masih kesulitan memenuhi kebutuhan harian pendidikan apalagi yang lebih dari itu,” imbuh Ari.

Di Desa Sumber Jaya terdapat sekolah dasar (SD) negeri yang biaya pendidikannya gratis. Selain itu, ada juga sekolah tingkat lanjut berupa di Madrasah Pondok Pesantren yang dibantu oleh pihak yayasan di desa sebelah. Ada pula SMP dan SMA Negeri yang jaraknya cukup jauh dari desa. “Tapi jika ada keterbatasan maka sekolah di yayasan Islam di desa tetangga, gratis juga,” ungkap ia.

Angka partisipasi sekolah di Kabupaten Muara Banyuasin terbilang rendah untuk kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, rata-rata angka partisipasi sekolah di tingkat SD di Kabupaten Muara Banyuasin hanya sebesar 62,88 persen. Ini artinya hanya enam dari 10 orang anak yang berusia 7-12 tahun yang belajar di sekolah dasar. Empat orang lainnya tidak bersekolah dasar.

Baca Juga:Cuaca Hari Ini: Sumsel Potensi Berawan Dengan Hujan Sedang Hingga Dini Hari

Sementara rata-rata tingkat partisipasi sekolah untuk SMP sejak 2015-2020 sebesar 75 persen. Ini artinya ada sekitar 3 orang yang tidak bisa mengecap bangku SMP.

Padahal, Kabupaten Musi Banyuasin ini merupakan salah satu lumbung sawit terbesar di Sumatera Selatan. Berdasarkan data BPS, luas lahan perkebunan sawit di Kabupaten Muara Banyuasin mencapai lebih dari 200 ribu hektare dengan tingkat produksi sebesar hampir 1 juta ton pada 2020 lalu. Lahan perkebunan sedikit menyempit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 300 ribu hektare.

Kendati demikian, produktivitas sawit di Kabupaten Musi Banyuasin ini tetap tertinggi diantara daerah penghasil sawit di Sumatera Selatan. Rata-rata produksi sawit Kabupaten Muara Banyuasin sejak 2015 sampai dengan 2020 merupakan yang terbesar diantara kabupaten-kabupaten penghasil sawit lainnya di Sumatera Selatan.

Rata-rata produksi sawit Kabupaten Musi Banyuasin mencapai hampir satu juta ton. Angka produksi sawit ini dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan daerah produksi sawit terbesar kedua di Sumatera Selatan yang sekitar 450 ribu ton.

Baca Juga:Pengusaha Sawit Mularis Djahri Dibebaskan, Anaknya Masih Ditahan Polda Sumsel

Minimnya angka partisipasi sekolah di Kabupaten Musi Banyuasin tidak berkaitan langsung dengan ketersediaan fasilitas sekolah dan anggaran pendidikan. Ada 475 sekolah dasar dan 156 SMP di kabupaten yang berpopulasi sekitar 850 ribu orang ini. Sementara alokasi dana pendidikan selama 2015 sampai dengan 2020 cenderung meningkat. Anggaran pendidikan di Kabupaten Muara Banyuasin mencapai Rp3,28 triliun pada 2020. Rata-rata anggaran pendidikan Kabupaten Musi Banyuasin selama 2015 hingga 2020 merupakan yang terbesar dibandingkan daerah penghasil sawit lainnya yakni sebesar Rp3 triliun per tahun.

Kondisi serupa juga terjadi di dengan daerah penghasil sawit lainnya di Sumatera Selatan. Luas lahan yang semakin luas dan tingkat produksi sawit tidak selamanya berdampak positif bagi tingkat pendidikan anak-anak.

Di Kabupaten Banyuasin, daerah penghasil sawit terbesar kedua di Sumatera Selatan pada 2020, angka partisipasi sekolah justru cenderung menurun dibandingkan pada 2015 lalu. Bila pada 2015, seluruh anak ikut sekolah dasar maka pada saat lahan perkebunan dan produksi kelapa sawit di Kabupaten Banyuasin melompat empat kali lipat dari 2015 tingkat anak yang bersekolah justru turun menjadi menjadi 99,49%. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan ada 606 orang anak putus sekolah dasar pada 2020. Ini angka putus sekolah terbesar dalam lima tahun terakhir di saat jumlah bangunan sekolah dasar justru semakin bertambah.

Kepala Desa Sidomulyo Kabupaten Banyuasin Rahmat menceritakan rata-rata anak yang putus sekolah di daerahnya mulai dari jenjang SD yang akan melanjutkan ke SMP. Ada juga lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Dia menyebutkan setiap tahun jumlah tak lebih dari 10 orang. “Sudah tidak mau bersekolah lagi karena penghasilan orang tua dari sawit terbatas, tidak juga ada penghasilan tambahan lainnya,” ujarnya kepada Suara.com, Minggu (22/10)

Potret buram masa depan pendidikan di lumbung sawit diakui oleh Wakil Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Sumatera Selatan, M. Yunus. Menurutnya, bertanam sawit membutuhkan dukungan modal yang cukup besar apalagi bila dihadapkan pada infrastruktur atau penyeberangan sungai yang tidak ideal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak