facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Film Invisible Hopes Karya Lamtiar Simorangkir, Potret Kehidupan Anak-Anak Lahir dari Ibu Narapidana

Tasmalinda Minggu, 29 Mei 2022 | 15:56 WIB

Film Invisible Hopes Karya Lamtiar Simorangkir, Potret Kehidupan Anak-Anak Lahir dari Ibu Narapidana
Pemutaran film Invisible Hopes di Palembang Sumatera Selatan [Suara.com/Melati Arsika Putri]

"Di negara-negara maju itu bagus banget sistemnya, bahkan anak tidak boleh lihat sel walaupun masih di dalam lingkungan penjara," sampainya.

SuaraSumsel.id - Film Invisible Hopes karya Lamtiar Simorangkir mengulas kehidupan narapidana (napi) perempuan yang sedang hamil, menyusui hingga menghidupi anaknya di dalam sel jeruji besi. 

Film dokumenter ini menjadi gerbang informasi kehidupan para ibu di dalam penjara. Ketika akan menggarap film ini, tujuan Lamtiar hanya untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa ada anak yang lahir dan dibesarkan dalam penjara.

Setelah melakukan riset panjang, ternyata Lamtiar menemukan permasalahan yang kompleks. Ia mengibaratkan permasalah itu seperti bola salju, makin ditelusuri makin membesar.

"Kita menemukan perempuan hamil ditangkap, masuk penjara, kemudian melahirkan, membesarkan anaknya. Anak harus keluar sementara ibunya belum bebas. Akhirnya anak tidak tahu berakhir ke mana. Makin ke belakang persoalan ini makin besar," ujarnya usai nonton bareng di Bioskop Palembang Sumatera Selatan, Sabtu (28/5/2022).

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumsel 29 Mei 2022, Palembang Diguyur Hujan Malam Ini

"Kita sebagai orang awam juga kaget ternyata ada kondisi seperti itu. Saya secara personal sedih banget ketika tahu. Saya dari kelurga miskin, tetapi saya hidup bebas. Sementara anak-anak napi ini lahir dan hidup dalam penjara," tambahnya.

Kehidupan anak-anak yang dihabiskan di dalam penjara menjadi keprihatinan Lamtiar. Apalagi ketiga pihak keluarga enggan mengambil dan mengasuh anak-anak itu. "Dan yang paling menjadi masalah adalah negara ke mana. Ketika keluarga tidak mau mengambil anak ini atau mengasuhnya, seharusnya negara mengambil alih," jelasnya.

"Anak memang butuh kedekatan dengan ibu, tetapi kondisinya jangan di dalam film ini juga. Di negara-negara maju itu bagus banget sistemnya, bahkan anak tidak boleh lihat sel walaupun masih di dalam lingkungan penjara," sampainya.

Dari besarnya masalah yang dia temukan membuatnya bersemangat untuk menyelesaikan garapan film dokumenter tersebut, dimulai dari tahun 2018 hingga selesai pada 2020, dan berhasil rilis di tahun 2021. 

Besar pula  harapan Lamtiar untuk Presiden Joko Widodo menonton film Invisible yang telah berhasil memenangkan Piala Citra FFI kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik. Surat undangan pun sudah dirinya sampaikan namun tak jua mendapatkan respon. 

Baca Juga: 7 Kabupaten di Sumsel Rawan Karhutla, Gubernur Perintahkan Bentuk Pos Komando Siaga

"Kita sudah mengirimkan surat undangan kepada Pak Presiden, tetapi belum ada respon. Ini suatu masalah yang sangat kompleks, tidak mungkin bisa diselesaikan di daerah-daerah melainkan harus ada perubahan regulasi," ucapnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait