facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kenangan Buya Syafii Maarif: Guru Bangsa Nan Hidup Sederhana, Rela Naik KRL, Antre di RS yang Dibesarkannya

Tasmalinda Jum'at, 27 Mei 2022 | 11:51 WIB

Kenangan Buya Syafii Maarif: Guru Bangsa Nan Hidup Sederhana, Rela Naik KRL, Antre di RS yang Dibesarkannya
Ahmad Syafii Maarif atau akrab dipanggil Buya Syafii Maarif - (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)

Sosok buya Syafii Maarif telah meninggalkan kita, namun kenanangan akan hidup penuh kesederhanaan dan punya prinsip dalam hidup akan terus terkenang.

SuaraSumsel.id - Indonesia tengah berduka, sosok guru bangsa Ahmad Syafii Maarif atau buya Syafii Maarif tutup usia, Jumat (27/5/2022). Sosok sejarawan, pendidik dan ulama ini sangat dekat dengan hidup sederhana.

Hidup sederhana terlihat dari buya yang selalu menggunakan sepeda saat berpergian. Kehidupan sederhana ini sudah menjadi kesehariannya di kawasan Nogotirto, Yogyakarta.

Kesaksian warga mengungkap kesederhanan buya, mulai dari makan di angkringan, naik KRL, memilih kelas ekonomi saat menaiki pesawat hingga tidak segan membeli sendiri sabun di warung.

Bahkan ia pun sabar mengantre saat berobat di rumah sakit milik Muhammadiyah yang turut dibesarkannya.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca 27 Mei 2022: Sejumlah Daerah di Sumsel Ini Diguyur Hujan Sedang Hingga Lebat

Meski menjadi pemimpin ormas Muhammadiyah, Buya sangat menghargai kebhinnekaan. Ketegasannya bahkan menjadi panutan bagi banyak pejuang pluralisme di Indonesia.

Buya lahir di Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Ayahnya adalah Ma'rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, dan ibunya bernama Fathiyah. Ibunya meninggal ketika Buya baru berusia 1,5 tahun.

Dia kemudian hidup bersama adik ayahnya, Bainah.

Melansir voaindonesia.com-jaringan Suara.com, Buya menikah pada usia 28 tahun dengan Nurkhalifah, gadis yang ketika itu baru berumur 19 tahun.

Pernikahan di Masjid Rajo Ibadat itu berlangsung pada 5 Februari 1965. Dia kemudian tinggal di Yogyakarta karena menjadi dosen di kampus tersebut yang sebelumnya pernah menempuh pendidikan di IKIP atau Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam bidang sejarah. 

Baca Juga: Harga Hewan Kurban di Sumsel Naik Terdampak Penyakit Mulut dan Kuku, Warga dan Peternak Was-Was

“Islam tidak identik dengan Arab. Menurut Buya, salah satu yang menjadi penyebab kemunduran umat Islam adalah ketika arabisme ini mencengkram sejarah Islam dan menghilangkan dimensi paling utama dari Islam, yaitu egalitarianisme,” kata Sahal, Tokoh muda Nahdlatul Ulama, Akhmad Sahal saat diskusi daring bertema "Islam Berkemajuan Perspektif Ahmad Syafii Maarif". 

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait