SuaraSumsel.id - Dua hari yang lalu, polisi berhasil membongkar jaringan prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur. Tiga ABG ditangkap bersama dengan mucikari yang baru berusia 20 tahun.
Dari penyelidikan polisi, aktivitas ini bermula dari menawarkan para anak baru gede atau ABG melalui sebuah aplikasi Me Chat. DI aplikasi ini, para anak di bawah umur, ditawarkan aktivitas kencan dengan harga beragam. Pusat Pembelaan Perempuan dan anak mengungkapkan jika aktivitas ini meningkat seiring pandemi COVID 19.
Menurut Direktur Pusat Pembelaan Perempuan dan Anak, Women Crisis Center (WCC), Yenni Roslaini Izi mengatakan prostitusi ini meningkat seiring pandemi dengan banyak faktornya.
Beberapa faktor utama ialah, saat pandemi semua aktivitas lebih banyak dihabiskan anak-anak dengan berselancar di media sosial. Termasuk bagaimana mereka pun memulai mengenal lawan jenis, seperti halnya pacaran.
Baca Juga:BMKG: Sumsel Tetap Alami Hujan Meski Musim Kemarau
Dengan makin banyak aktivitas di smartphonenya, berbagai potensi bertemu dengan jaringan prostitusi online makin terbuka. Apalagi, sifat anak-anak yang ingin mengetahui banyak hal, sehingga cendrung melakukan hal-hal bermula dari keingintahuan atau keisengan.

"Sumbernya bagaimana fokus mereka (anak-anak) sekarang lebih banyak ke gadget. Mulai dari awal bangun tidur sampai tidur lagi," ujar ia.
Setelah bertemu itu, ia menemukan orang-orang yang mulai dipercayanya. Kemudian menjadi pacar, teman dekat dan atau lainnya.
Dari situ, dikenalkan bagaimana ada aktivitas yang bisa menghasilkan uang. Apalagi, bermain di smartphone tentu membutuhkan pulsa atau uang membeli kuota pulsa.
Belum lagi, bicara dengan gaya hidup.
Baca Juga:Masyarakat Tionghoa Salurkan Bantuan COVID 19 Rp 2 Miliar, Kapolda Sumsel: Akidi Effect

Misalnya anak-anak mulai mengenal dengan gaya hidup makanan instans, atau minuman yang lagi hits. Tentu, harga makanan dan minuman tersebut tidak murah bagi keluarga yang terdampak pandemi COVID 19.
"Belum lagi, misalnya anak-anak mulai meniru gaya hidup yang cendrung ada di media sosial. Saat dikenalkan ada orang yang dipercayanya kemudian, bisa memberikan yang dia butuh. Biasanya si anak ini mengikuti keinginan atau bersedia saja, diminta ini dan itu," sambung ia.
Dengan demikian, anak-anak yang tidak dibentengi pendidikan seks yang memadai, bersedia menuhi keinginan jaringan prostitusi ini.
Dengan hanya minta difoto atau bertemu dan akhirnya terjadi hubungan suami istri, anak-anak tersebut mau menuruti kehendak orang yang ia percaya tadi.
Padahal, dan tanpa sadar ia terjebak dalam perdagangan manusia.
"Sehingga faktor penyebab muncul prostitusi online itu, banyak pendukungnya," ujar ia.