- Komunitas Ghompok merayakan Hari Buku Nasional 2026 di Palembang dengan menayangkan film dokumenter berjudul Halaman Terakhir di Cafe Ningrat.
- Film tersebut mendokumentasikan perjuangan Pak Anwar yang konsisten mengelola perpustakaan mandiri sejak tahun 1981 di tengah arus digital.
- Berbagai komunitas literasi Palembang mengadakan diskusi untuk memperkuat akses masyarakat terhadap buku melalui ruang baca alternatif yang inklusif.
SuaraSumsel.id - Di tengah derasnya arus informasi digital dan semakin menyempitnya ruang baca publik, sejumlah pegiat literasi di Palembang memilih melawan dengan cara sederhana yakni merawat buku dan mempertemukan orang-orang yang masih percaya pada kekuatan membaca.
Momentum itu terlihat dalam peringatan Hari Buku Nasional (Harbuknas) 2026 yang digelar komunitas Ghompok bersama sejumlah komunitas literasi Kota Palembang melalui pemutaran film dokumenter berjudul Halaman Terakhir di Cafe Ningrat, Palembang.
Film tersebut bukan sekadar dokumenter tentang buku. Ia menjadi potret kegelisahan generasi muda terhadap budaya membaca yang perlahan terdesak perubahan zaman.
Executive Producer film sekaligus anggota Ghompok, Ahmad Rizki Prabu mengatakan Halaman Terakhir merupakan karya kedua Ghompok setelah film Tunggu Tubang.
Baca Juga:Warga Pernah Menang Gugatan Banjir, Tapi Palembang Masih Tergenang
Menurut Prabu, gagasan film lahir dari perjumpaan mereka dengan sosok-sosok yang selama puluhan tahun tetap menjaga nyala literasi di Palembang.
“Salah satu inspirasi kami adalah Pak Anwar yang merupakan pemilik perpustakaan mandiri di Kota Palembang yang tetap konsisten membuka perpustakaannya sejak tahun 1981 hingga hari ini,” katanya.
Bagi Ghompok, sosok Anwar bukan sekadar pemilik perpustakaan rumahan. Ia dianggap sebagai representasi nyata pejuang literasi yang menjaga ruang baca tetap hidup di tengah minimnya perhatian terhadap budaya membaca.
Rumah yang disulap menjadi perpustakaan mandiri itu bahkan kerap dikunjungi mahasiswa lokal hingga peneliti internasional.
“Menurut kami, sosok Pak Anwar adalah riil penggiat literasi yang memang perlu diketahui oleh orang banyak,” ujar Prabu.
Baca Juga:Cara Melapor Jika Ada Pungli atau Titipan Saat SPMB 2026 di Palembang, Disdik Buka Kanal Pengaduan
Melalui pendekatan visual yang intim dan dekat dengan keseharian, Halaman Terakhir mencoba menghadirkan kembali makna buku sebagai medium pengetahuan, ingatan, bahkan perlawanan sosial.
Film itu juga merekam bagaimana toko buku, perpustakaan alternatif, hingga ruang baca komunitas perlahan menghadapi tantangan besar di era digital.
Tak hanya pemutaran film, kegiatan tersebut juga diisi dengan diskusi lintas komunitas yang membahas kondisi literasi di Palembang, keterbatasan akses buku, hingga pentingnya menghadirkan ruang baca alternatif bagi masyarakat.
Prabu menilai Hari Buku Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan semata, melainkan menjadi momen untuk kembali membicarakan masa depan literasi.
“Film ini lahir dari kegelisahan kami tentang bagaimana buku perlahan kehilangan ruangnya dalam kehidupan sehari-hari. Kami ingin mengajak publik melihat bahwa membaca masih penting, dan ruang-ruang literasi perlu terus dijaga,” ujarnya.
Kegiatan itu juga mempertemukan berbagai komunitas pegiat literasi di Palembang, salah satunya Palembang Bookparty yang selama ini aktif menghadirkan lapak buku jalanan agar buku lebih mudah diakses masyarakat.