alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Setahun Pandemi Covid 19, Kisah Para Penyitas Berjuang Melawan Stigma

Tasmalinda Jum'at, 05 Maret 2021 | 15:40 WIB

Setahun Pandemi Covid 19, Kisah Para Penyitas Berjuang Melawan Stigma
Petugas tenaga kesehatan tengah mempersiapkan tempat tidur untuk pasien Corona. [ANTARA] Kisah para penyitas yang berjuang melawan stigma.

Setahun pandemi di Indonesia, para penyitas mengisahkan saat terpapar virus, selain melawan virus, mereka pun berjuang melawan stigma.

SuaraSumsel.id - Sudah genap setahun pandemi covid 19 melanda Indonesia termasuk Sumatera Selatan. Tepatnya, pasien pertama yang diungkapkan terkonfirmasi di Palembang, pada akhir Maret tahun lalu.

Setahun berlalu, jumlah masyarakat yang terpapar virus asal Wuhan, China tidak sedikit. Mereka berjuang melawan virus, sekaligus melawan stigma sebagai pasien terpapar covid 19.

Perjuangan yang memang tidak mudah untuk dilalui saat pengetahuan masyarakat mengenai virus tidak begitu matang.

 Salah satunya dialami Freelance Fotografer Ahmad Rizki Prabu. Ia sempat dinyatakan positif terserang virus corona 19 pada 14 Juni 2020 lalu saat bertugas mengabadikan rangkaian di Pemakaman Pasien Covid 19 Gadus, Palembang, Sumatera Selatan.

Baca Juga: Tahun Ini, Restorasi Sungai Sekanak-Lambidaro di Palembang Dilanjutkan

Dia pun mengaku terkejut dan tidak menyangka dapat menjadi salah orang yang diserang virus tersebut.

Ia tidak merasakan gejala yang menonjol, sebelumnya hanya mengalami susah tidur yang dianggapnya hal biasa karena kelelahan kerja. Dinyatakan positif terinfeksi virus covid 19, Prabu mulai menjalani isolasi mandiri di rumah  dengan terpisah dari keluarga.

Sebulan ia bertarung melawan covid-19 termasuk khawatiran yang menyertainya.

Freelance Fotografer Ahmad Rizki Prabu [istimewa]
Freelance Fotografer Ahmad Rizki Prabu [istimewa]

 “Covid itu tidak hanya menyerang fisik, tapi psikis. Jadi dukungan dari orang terdekat dengan pikiran yang positif menjadi sangat penting bagi mereka yang terpapar,”ungkapnya kepada Suarasumsel.id, Kamis (4/3/21).

Upaya melawan virus terus dilakuka Prabu. Ia berjemur setiap pagi, memperbanyak konsumsi vitamin dan hanya berteman dengan ponsel pintar di dalam kamar.

Baca Juga: Ditangkap BNN, Mantan Anggota DPRD Palembang Dituntut Hukuman Mati

Terutama, ia selalu di pantau oleh tenaga kesehatan dan melaksanakan rapid test secara rutin hingga dinyatakan negatif virus covid 19.

“Setelah dinyatakan negatif, kehidupan saya kembali seperti semula. Hidup tanpa stigma negatif,” akunya.

Bagi kalangan tokoh ulama, Ketua Pengurus Wilayah Naudhatul Ulama (PWNU) Sumsel KH. Amiruddin Nahrawi atau yang akrab disapa Cak Amir juga memiliki kisah melawan virus covid 19.

 Sejak terkonfirmasi positif Covid-19 pada 29 Januari lalu ia hanya merasakan gejala ringan.

Namun oleh dokter, Cak Amir diminta menjalani isolasi di RS Siti Fatimah selama 10 hari. Selama di rumah sakit, semua aktivitas hidup berjalan normal, termasuk juga beribadah.

“Saat terpapar itu, indra penciuman dan perasa saya masih baik, selama di rumah sakit banyak mendapat dukungan yang saya terima, mislanya banyak yang mirip makanan sekaligus vitamin kesehatan,” ungkap ia.

Stigma negatif mengenai mereka yang terpapar atau akhirnya menjadi seorang penyitas memang kerap dialami.

Baik Prabu dan Cak Mir mengaku justru terus menerus mendapatkan dukungan dari orang terdekat, terutama keluarga.

“Dukungan dan doa dari orang-orang terdekat sangat diperlukan,” ujar Cak Amir.

Aparatur Sipil Negara (ASN) mengikuti tes usap (swab test) antigen di kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Jakarta, Senin (25/1/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Aparatur Sipil Negara (ASN) mengikuti tes usap (swab test) antigen di kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Jakarta, Senin (25/1/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Epidemiolog Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Iche Andriyani Liberty mengatakan, satu hal tantangan dari  pandemi adalah infodemik, yakni informasi mengenai virus.

Sayangnya, banyak informasi mengenai virus yang keliru beredar di masyarakat sehingga muncul stigma negatif yang menyebabkan kasus covid 19 malah makin sulit ditangani.

“Masyarakat harus mengetahui jika penyintas sudah dinyatakan negatif berarti memang sudah bersih dari Covid-19. Yang tengah dibutuhkan Indonesia saat ini adalah bersinergis dan kompak agar segera pulih dari pandemi yang melanda negeri ini,” ungkapnya.

Indonesia akan segera bangkit jika saling bersinergis jika disiplin melakukan 3T yaitu Testing (Pemeriksaan dini), Tracing (Pelacakan) dan Treatmen (Perawatan), 3M dan vaksinasi.

“Masyarakat dan stake holder harus kompak,” harapnya.

Vaksinasi covid 19 pada pedagang Cinde Palembang [KominfoSumsel]
Vaksinasi covid 19 pada pedagang Cinde Palembang [KominfoSumsel]

Saat diwawancarai Iche menyebutkan Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 1,35 juta kasus sedangkan di Sumatera Selatan sudah terdapat 16.014 orang yang terkonfirmasi positif.

Dengan jumlah penyintas atau yang sudah sembuh sejumlah 14.223 atau 88,82% sedangkan angka kematian sebesar 4,8%.

“Dalam perkembangannya kasus sembuh cenderung meningkat capai 88,82% sementara kasus positif dan meninggal terus turun, dengan kasus aktif 27%,” terang ia.

Hingga tahun 2022, saat ketersedian vaksin  bisa memenuhi kebutuhan 70% masyarakat Indonesia maka menjadi harapan mengakhiri pandemi ini.

“Tapi karena masih bergantung dengan pihak luar, vaksin dilakukan dengan bertahap dan sampai saat ini, pengurangan jumlah kasus di Indonesia belum dapat dilihat karena grafik masih bersifat fluktuatif,” terang ia.

Iche menegaskan masyarakat tidak boleh lengah. Dengan adanya varian covid 19 dengan resiko penularan yang lebih cepat juga lebih infeksius.

“Harus ada keoptimisan agar pandemi ini bisa kita akhiri bersama,” pungkasnya.

Kontributor: Fitria

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait