facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pasal 2d Maklumat Polri Larang FPI Dinilai Bertentangan UU Pers

Tasmalinda Jum'at, 01 Januari 2021 | 21:12 WIB

Pasal 2d Maklumat Polri Larang FPI Dinilai Bertentangan UU Pers
Kapolri Idham Aziz. (Foto: Antara)

Sikap komunitas pers di Indonesia menyikapi maklumat Polri yang melarang organisasi FPI

SuaraSumsel.id - Larangan atas kegiatan, pengguna simbol, atribut serta penghentian kegiatan Front Pembela Islam (FPI) tertuang pada maklumat Kapolri Jendral Idham Azis, tertanggal 1 Januari 2021.

Polri beralasan, maklumat memberikan perlindungan dan menjamin keamanan serta keselamatan masyarakat pasca dikeluarkan keputusan bersama tentang larangan kegiatan, penggunaan simbol dan atribut serta penghentian kegiatan FPI.

Kegiatan FPI dilarang berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Menteri Komunikasi dan Informatika, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian Negara, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Nomor: 220- 4780 Tahun 2020; M.HH 14.HH.05.05 Tahun 2020; 690 Tahun 2020; 264 Tahun 2020; KB/3/XII/2020; 320 Tahun 2020 tanggal 30 Desember 2020 tentang Larangan Kegiatan, Penggunaan Simbol dan Atribut Serta Penghentian Kegiatan FPI.

Ada empat hal yang disampaikan dalam maklumat kapolri, salah satunya dinilai komunitas pers Indonesia tak sejalan dengan semangat demokrasi yang menghormati kebebasan memperoleh informasi.

Baca Juga: Maklumat Kapolri, Masyarakat Temukan Simbol dan Atribut FPI Diminta Lapor

Selain itu dinilai bisa mengancam jurnalis dan media yang tugas utamanya adalah mencari informasi dan menyebarluaskannya kepada publik.

Maklumat yang dimaksud yaitu pada Pasal 2d yang isinya menyatakan: "Masyarakat tidak mengakses, mengunggah, dan menyebarluaskan konten terkait FPI baik melalui website maupun media sosial."

Menyikapi maklumat di Pasal 2d, komunitas pers yang terdiri dari Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, Persatuan Wartawan Indonesia, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, Pewarta Foto Indonesia, Forum Pemimpin Redaksi, Asosiasi Media Siber Indonesia, menyatakan:

Pertama, maklumat kapolri dalam Pasal 2d berlebihan dan tidak sejalan dengan semangat sebagai negara demokrasi yang menghargai hak masyarakat untuk memperoleh dan menyebarkan informasi.

Soal ini tertuang jelas dalam Pasal 28F UUD 1945 yang menyatakan, “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.” 

Baca Juga: Maklumat Kapolri, Masyarakat Dilarang Unggah hingga Sebarkan Konten FPI

Maklumat Polri [jepretan instagram kepolisian daerah Sumsel]
Maklumat Polri [jepretan instagram kepolisian daerah Sumsel]

Kedua, Pasal 2d dinilai mengancam tugas jurnalis dan media, yang karena profesinya melakukan fungsi mencari dan menyebarkan informasi kepada publik, termasuk soal FPI. Hak wartawan untuk mencari informasi itu diatur dalam Pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang isinya menyatakan, "

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Berita Terkait