Minoritas yang Bersolidaritas

Terik matahari yang menyengat siang ini makin mempekeruh suasana hati Agus Salim, Minggu (30/8) lalu. Raut mukannya nampak lesu karena salon yang diusahakannya sepi pengunjung di akhir pekan.

Tasmalinda
Jum'at, 04 September 2020 | 08:03 WIB
Minoritas yang Bersolidaritas
Agus Salin, transpuan di Palembang yang menceritakan bagaimana pandemi telah mempengaruhi pendapatan bisnis salon yang telah dirintisnya selama hampir 40 tahun terakhir.

“Pelan-pelan kita dibenahi keahlian anggota. Harus pada jalannya dan terus berkarya,” ujarnya.

Untuk di Sumsel sendiri, menurut pengakuan keduanya sudah cukup terbuka atas kalangan transpuan. Penilaian kehadiran transpuan semakin mengalami pergeseran ke arah yang lebih baik, mulai dari menghargai keberadaan dan mengakui karya-karya transpuannya.

"Keadaannya mulai membaik. Kita terus mengkampanyekan jika transpuan juga bisa berkarya dan bermanfaat" pungkasnya.

Terbentuknya komunitas masyarakat transgander, dinilai Psikolog Agiersda Siregar bukan tidak ada penyebabnya. Kesadaran berkumpul dalam organisasi lebih disebabkan adanya kesamaan kondisi.

Baca Juga:Dipukul Pandemi Corona, Kuta Bali Bak Kota Mati, Sangat Sepi

“Begitu pula bagi transpuan tersebut. Dengan wadah organisasi, para transpuan akan lebih mudah terbuka, berbaur dan saling menyatu satu sama lainnya,” katanya.

'Berdasarkan pengertian komunitas, Macqueen, 2001, Agi menjelaskan komunitas terbentuk akibat tiga hal yakni ikatan sosial, pandangan yang sama, serta terlibat dengan aksi bersama. Sementara komunitas transpuan bisa terbentuk sebagai pandangan indentitas seksual yang sama.

Dari beberapa penelitian mengenai komunitas, para transgender seperti halnya gay, lesbian dan lainnya akan berusaha bertemu sekaligus memperluas lingkaran persahabatan.

“Selain itu, komunitas juga terbentuk akibat memvalidasi, memberdayakan serta mendukung satu sama lainnya. Sebagai kelompok minoritas, mereka butuh kesamaan dalam bahasa, baik dijadikan media komunikasi, atau lainnya” kataya.

Para transgender ialah bagian dari komunitas individual marginal (community of marginalized individuals) yang memahami mengenai asal muasalnya sehingga tidak diperlukan upaya menjelaskan identitas mereka. “Dengan berkelompok sama, mereka bisa lebih nyaman menjadi diri mereka sendiri dalam menjalani hidupnya," pungkas Agi.

Baca Juga:Pandemi Covid-19 Belum Mereda, Gubernur Kepri Minta Maaf

Liputan ini didukung oleh hibah Story Grant dari Serikat Jurnalis Keberagaman (SEJUK) - Internews.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini