Hampir sebagian besar transpuan lainnya juga mengalami permasalahan yang sama.“Tidak semua dari transpuan sanggup bertahan saat pandemi. Usaha dijalani transpuan juga sangat terdampak,” katanya di pertengahan Agustus lalu.
Seperti bisnis jual beli pakaian pengantin yang digelutinya. Heri yang juga dikenal dengan nama Helena menceritakan jika pendapatan yang diperolehnya kini sangat berkurang jika dibandingkan sebelum pandemi.
“Banyak transpuan berhasil mengembangkan usaha, tetapi menjelang usia tuanya mengalami kesulitan ekonomi,“ sambung ia.
Pandemi virus tidak hanya mempengaruhi transpuan secara ekonomi namun juga psikologisnya. Banyak transpuan yang harus memutar otak guna bertahan selama pandemi dengan mengandalkan keahlian yang dimiliki atau beralih ke jenis usaha lainnya.
Baca Juga:Dipukul Pandemi Corona, Kuta Bali Bak Kota Mati, Sangat Sepi
“Dengan berbagai kesulitan ini, akhirnya kami tetap bertahan dan saling menguatkan. Melalui media komunikasi yang kami buat seperti group whatsapp dan lainnya, kami berbagi cerita termasuk informasi kerja,”ucap dia.
Di tengah kesulitan yang dihadapi saat pandemi ini, banyak transpuan juga cendrung tidak tersentuh bantuan pemerintah.
Direktur Eksekutif Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumsel Nindi Tanjung mengatakan kalangan transpuan jarang mendapatkan bantuan karena permasalahan identitas kependudukan. Salah satu penyebabnya ialah para transpuan tersebut berasal dari luar Sumsel sehingga dianggap bukan sebagai penduduk setempat.
“Mereka tidak ber-KTP Sumsel, karena itu tidak banyak terima bantuan,” ujarnya.
Padahal banyak dari transpuan yang terdampak secara ekonomi karena kondisi pandemi saat ini. Transpuan kehilangan lapangan pekerjaan hingga harus berpindah ke daerah lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Baca Juga:Pandemi Covid-19 Belum Mereda, Gubernur Kepri Minta Maaf
“Ada dari mereka pindah kosan, menutup sementara usaha,” kata Nindi.