Tasmalinda
Senin, 02 November 2026 | 23:02 WIB
Dosen, perangkat desa, dan masyarakat berfoto bersama dalam kegiatan soft launching Living Lab Bioenergi Ganesha di Desa Ganesha Mukti, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin
Baca 10 detik
  • Universitas Sriwijaya meluncurkan program Bioenergi Ganesha untuk mengolah limbah pertanian di Desa Ganesha Mukti, Banyuasin, Sumatera Selatan.
  • Peluncuran program yang menerapkan konsep zero waste tersebut dilaksanakan pada hari Senin, 26 Oktober 2026.
  • Program ini memperkenalkan teknologi mesin briket dan pirolisis guna mengubah limbah menjadi energi serta produk bernilai ekonomi.

SuaraSumsel.id - Di desa yang kelapanya tumbuh melimpah, panen tidak selalu berakhir dengan keuntungan. Ada bagian yang tertinggal setelah buah dipetik dan diolah yakni tempurung keras, sabut berserat, hingga sekam dari hasil penggilingan padi.

Selama ini, sisa-sisa tersebut kerap berakhir sebagai tumpukan limbah yang belum termanfaatkan. Namun, di Desa Ganesha Mukti, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, sisa pertanian itu mulai mendapat kehidupan baru.

Tempurung kelapa, sabut, dan sekam tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sampah, tetapi sebagai bahan baku yang berpotensi menghasilkan energi sekaligus nilai ekonomi.

Perubahan cara pandang tersebut diperkenalkan Universitas Sriwijaya (Unsri) melalui program Bioenergi Ganesha. Program ini diluncurkan dalam kegiatan Pamit Desa, sekaligus penutupan program Land4Lives di tingkat desa, yang berlangsung di Kantor Desa Ganesha Mukti, Senin (26/10/2026).

Melalui program tersebut, Unsri memperkenalkan sejumlah teknologi pengolahan limbah pertanian agar masyarakat dapat memanfaatkan potensi sumber daya yang selama ini belum tergarap optimal.

Limbah yang Menunggu Jawaban

Persoalan limbah pertanian bukan hal asing bagi masyarakat pedesaan. Di wilayah penghasil kelapa dan padi, sisa produksi sering kali menumpuk tanpa pengelolaan yang memadai. Padahal, sebagian material tersebut masih memiliki potensi untuk diolah kembali.

Dosen Universitas Sriwijaya, Santa Maria Lumbantoruan mengatakan program Bioenergi Ganesha berangkat dari persoalan limbah yang ditemukan di lingkungan masyarakat, terutama tempurung dan sabut kelapa serta sekam padi.

Dari persoalan tersebut, tim Unsri kemudian menghadirkan sejumlah teknologi dan inovasi yang dirancang untuk membantu masyarakat mengolah limbah menjadi produk bernilai guna.

Baca Juga: Bank Sumsel Babel Gandeng Unsri Cetak Talenta Unggul, Perkuat Literasi Keuangan

“Ada sejumlah teknologi dan inovasi yang kami gunakan, yang kemudian diaplikasikan nantinya oleh Masyarakat diantaranya mesin cocopeat, mesin pirolisis, mesin briket dan mesin granul” kata Mulyadi selaku ketua tim kegiatan bioenergi ganesha.

Pendekatan yang digunakan dalam program ini mengarah pada konsep zero waste atau sebisa mungkin minim limbah. Prinsipnya, material sisa dari suatu proses produksi tidak langsung dibuang, tetapi dicari kemungkinan pemanfaatannya agar kembali memberikan manfaat.

Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Unsri, Prof. Susilawati, M.Si., mengatakan potensi sumber daya lokal di Ganesha Mukti menjadi alasan penting pengembangan program tersebut.

“Kita tahu di desa ini banyak limbah buah kelapa, dan inilah program berdampak,” ujarnya.

Selain kelapa, desa ini juga memiliki potensi pertanian jagung dan persawahan yang menghasilkan sekam sebagai salah satu residu produksi. Dengan mengolah berbagai jenis limbah tersebut, program Bioenergi Ganesha diharapkan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih menyeluruh.

“Sehingga benar-benar zero waste,” kata Susilawati.

Dari Tempurung Menjadi Briket

Unsri sebelumnya juga menjalankan program pengabdian kepada masyarakat melalui skema BIMA di desa yang sama. Program tersebut berfokus pada pengembangan biochar, yakni arang yang dihasilkan melalui proses pengolahan biomassa, termasuk tempurung kelapa dan sekam padi.

Kini, pengembangan itu diperluas melalui Bioenergi Ganesha.

Tempurung kelapa diolah menjadi briket yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Untuk mendukung penggunaannya, diperkenalkan pula tungku khusus. Sementara itu, sabut kelapa diolah menggunakan mesin pencacah untuk menghasilkan bahan baku produk turunan.

Tidak berhenti di sana, biochar juga dikembangkan sebagai bahan campuran pupuk granul yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat.

Rangkaian inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana satu jenis komoditas pertanian dapat menghasilkan beberapa produk turunan. Bagian yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai jual berpeluang masuk kembali ke dalam rantai pemanfaatan ekonomi masyarakat.

Dari perspektif lingkungan, pendekatan ini juga penting untuk mendorong pengelolaan residu pertanian yang lebih bertanggung jawab.

Limbah biomassa yang tidak dikelola berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, terutama ketika dibakar secara terbuka atau dibiarkan menumpuk.

Karena itu, pemanfaatan tempurung, sabut, dan sekam menjadi bahan bakar maupun produk pertanian membuka peluang untuk mengurangi limbah sekaligus mengoptimalkan sumber daya lokal.

Susilawati mengatakan peralatan yang diperkenalkan dirancang berdasarkan kebutuhan dan potensi desa. Harapannya, pengolahan limbah kelapa tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Pengembangan Bioenergi Ganesha merupakan bagian dari Program Bestari Saintek. Program Bestari Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi) diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Dit. Minat Saintek), Kemdiktisaintek, dengan pendanaan dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), yang bertujuan menjembatani hasil riset perguruan tinggi agar langsung berdampak bagi masyarakat. Program ini menerapkan konsep living lab (laboratorium hidup) untuk mengolaborasikan kampus, industri, dan masyarakat demi meningkatkan ekonomi berbasis sains dan teknologi.

Susilawati mengungkapkan, proses memperoleh pendanaan tidak berlangsung mudah. Dari tiga proposal yang diajukan, hanya satu yang berhasil mendapatkan dukungan, yakni Bioenergi Ganesha.

“Alhamdulillah, lolos. Sebelumnya ada tiga proposal, dan satu proposal yang didanai, yakni Bioenergi Ganesha,” katanya.

Bagi Unsri, program ini menjadi salah satu bentuk penerapan hasil pemikiran dan inovasi perguruan tinggi di tengah masyarakat.

Susilawati berharap pola pengembangan serupa dapat terus dilakukan. Perguruan tinggi, menurut dia, perlu hadir langsung ke desa untuk melihat persoalan yang dihadapi masyarakat, mengidentifikasi potensi sumber daya, kemudian merumuskan solusi yang sesuai dengan kebutuhan setempat.

Dengan demikian, inovasi tidak berhenti sebagai hasil penelitian atau teknologi yang dipamerkan di lingkungan kampus, tetapi benar-benar dapat digunakan oleh masyarakat.

Penerapan program Bioenergi Ganesha juga melibatkan mahasiswa Unsri melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik selama 40 hari.

Kehadiran mahasiswa menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengetahuan akademis dengan persoalan nyata di lapangan. Mereka tidak hanya mempelajari teori di ruang kuliah, tetapi juga berhadapan langsung dengan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat desa.

Susilawati menyebut KKN sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

“Di kuliah, belajar di kelas. Sedangkan di lapangan, langsung kepada masyarakat,” ujarnya.

mahasiswa menunjukkan produk olahan biomassa yang dikembangkan melalui Laboratorium Hidup di Desa Ganesha Mukti, Banyuasin, Sumatera Selatan.

Di Ganesha Mukti, pembelajaran tersebut menemukan bentuknya melalui pengenalan teknologi pengolahan limbah pertanian. Sebuah upaya yang mempertemukan pengetahuan kampus dengan potensi desa.

Pada akhirnya, masa depan Bioenergi Ganesha tidak hanya bergantung pada teknologi yang diperkenalkan, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk melanjutkan pengelolaan secara mandiri.

Sebab, ketika tempurung kelapa, sabut, dan sekam mulai memiliki nilai baru, yang sedang dibangun bukan sekadar cara mengolah sampah. Lebih dari itu, sebuah peluang agar sumber daya desa dapat dimanfaatkan tanpa terus meninggalkan beban bagi lingkungan. Dengan motto bioenergi ganesha ”Limbah Bermakna Desa Berjaya”

Load More