- Nelayan Desa Air Nyatoh mengeluhkan penurunan hasil tangkapan ikan teri akibat air laut keruh.
- Kekeruhan perairan tersebut diduga kuat berkaitan dengan adanya aktivitas pertambangan timah di DAS Kampak.
- Bupati Bangka Barat merespons dengan menyiapkan langkah penertiban berkoordinasi bersama pemerintah provinsi dan aparat.
Menurutnya, aktivitas pertambangan di kawasan yang selama ini menjadi ruang hidup nelayan berpotensi menimbulkan persoalan bagi keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
Meski demikian, dugaan hubungan antara aktivitas pertambangan dan kekeruhan perairan masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan kualitas air serta penelusuran sumber material yang menyebabkan perubahan kondisi laut.
Bupati Bangka Barat siapkan langkah penertiban
Keluhan nelayan Air Nyatoh telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Bangka Barat. Dalam audiensi bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Bupati Bangka Barat Markus menyatakan akan menindaklanjuti persoalan aktivitas pertambangan di DAS Kampak.
Markus mengatakan penanganan akan dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung karena kewenangan perizinan pertambangan berada pada tingkat provinsi.
Koordinasi juga direncanakan melibatkan unsur TNI, kepolisian, Polisi Perairan dan Udara (Polairud), serta Satuan Polisi Pamong Praja sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.
Pemerintah daerah menyatakan ingin mencegah persoalan tersebut berkembang menjadi konflik sosial di tengah masyarakat.
Bagi nelayan Air Nyatoh, tindak lanjut pemerintah menjadi penting karena persoalan yang mereka hadapi berkaitan langsung dengan keberlangsungan mata pencaharian.
Mereka berharap keluhan mengenai air laut yang keruh tidak berhenti pada audiensi, tetapi dilanjutkan dengan pemeriksaan di lapangan untuk memastikan sumber persoalan dan menentukan langkah penanganan.
Baca Juga: 4 Orang Tewas dalam Kecelakaan Brio vs Fuso di Bangka Tengah, Begini Dugaan Awal Polisi
Sebab, bagi masyarakat yang hidup dari laut, perubahan kondisi perairan bukan sekadar persoalan lingkungan. Ada pendapatan keluarga dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir yang ikut dipertaruhkan.
Berita Terkait
-
4 Orang Tewas dalam Kecelakaan Brio vs Fuso di Bangka Tengah, Begini Dugaan Awal Polisi
-
Kebakaran di Bangka Selatan, 600 Rumah Terdampak dan 2.400 Warga Jadi Korban
-
Timah Rakyat Kembali Diserap PT Timah, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Bangka Belitung?
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Bank Sumsel Babel Dukung Program Mudik Lebaran Masyarakat Bangka Belitung Bersama TNI Angkatan Laut
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh
-
Hujan Sudah Turun, Karhutla Sumsel Belum Tuntas, Seberapa Efektif Dry Ice dan OMC?
-
Kambang Iwak Diterjang Pohon Tumbang, Palembang Hadapi Ancaman Pohon Tua saat Musim Hujan
-
Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim
-
Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?