Tasmalinda
Minggu, 01 November 2026 | 23:29 WIB
Kekeruhan perairan tersebut diduga kuat berkaitan dengan adanya aktivitas pertambangan timah di DAS Kampak.
Baca 10 detik
  • Nelayan Desa Air Nyatoh mengeluhkan penurunan hasil tangkapan ikan teri akibat air laut keruh.
  • Kekeruhan perairan tersebut diduga kuat berkaitan dengan adanya aktivitas pertambangan timah di DAS Kampak.
  • Bupati Bangka Barat merespons dengan menyiapkan langkah penertiban berkoordinasi bersama pemerintah provinsi dan aparat.

SuaraSumsel.id - Laut yang keruh bukan sekadar perubahan warna air bagi nelayan Desa Air Nyatoh, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi tersebut dikeluhkan mulai menggerus hasil tangkapan dan pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut.

Dalam sebulan terakhir, nelayan mengaku mengalami penurunan hasil tangkapan ikan teri. Jika sebelumnya sekali melaut mereka bisa memperoleh sekitar 100 kilogram, kini hasilnya disebut hanya tersisa puluhan kilogram.

Ketua Nelayan Desa Air Nyatoh, Asbaru, mengatakan perubahan kondisi perairan sangat dirasakan nelayan yang menggunakan bagan untuk menangkap ikan.

Menurut pria yang akrab disapa Baba itu, ikan tidak lagi banyak masuk ke area bagan ketika air laut keruh mencapai lokasi penangkapan.

"Desa Air Nyatoh ini sangat bergantung kepada laut. Artinya kalau laut ini rusak, ya kami juga rusak ekonomi kami," ujar Asbaru setelah audiensi dengan Bupati Bangka Barat pada Kamis (29/10/2026).

80 persen warga Air Nyatoh menggantungkan hidup dari laut

Penurunan hasil tangkapan menjadi persoalan serius karena sebagian besar masyarakat Air Nyatoh bekerja di sektor perikanan.

Asbaru memperkirakan hampir 80 persen warga desa tersebut berprofesi sebagai nelayan bagan. Sebagian lainnya mencari ikan menggunakan rawai, bubu, dan jaring, sementara warga lain bekerja di sektor perdagangan maupun perkebunan.

Kondisi perairan yang keruh dikhawatirkan tidak hanya memengaruhi hasil tangkapan ikan teri, tetapi juga aktivitas nelayan lainnya.

Baca Juga: 4 Orang Tewas dalam Kecelakaan Brio vs Fuso di Bangka Tengah, Begini Dugaan Awal Polisi

Bagi masyarakat pesisir, berkurangnya hasil laut berarti berkurangnya pendapatan harian. Situasi ini dapat berdampak pada kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Nelayan pun khawatir persoalan tersebut berlangsung semakin lama tanpa penanganan yang jelas.

Para nelayan menduga kekeruhan air laut berkaitan dengan aktivitas pertambangan timah di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampak, Desa Jebus, Kabupaten Bangka Barat.

Dugaan tersebut muncul karena perubahan kondisi perairan dirasakan ketika air keruh mencapai wilayah bagan mereka.

Asbaru menilai aktivitas pertambangan di kawasan tersebut berpotensi mengganggu ruang hidup masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari laut.

Ia juga menyinggung persoalan pengaturan zonasi wilayah pesisir yang menurutnya telah memasukkan kawasan Air Nyatoh, Rambat, hingga Sungai Buluh dalam zona pertambangan sejak 2020.

Load More