- Masyarakat Suku Musi di Tempirai, Sumatera Selatan, merawat hutan campuran bernama jongot untuk menjaga sumber pangan dan keseimbangan alam.
- Peneliti lingkungan Nopri Ismi menemukan bahwa tradisi jongot berfungsi melindungi lahan gambut tetap basah guna mencegah bencana kebakaran hutan.
- Praktik kearifan lokal jongot ini terikat kuat pada ingatan kolektif keluarga serta hukum adat tanpa menggunakan batas wilayah formal.
SuaraSumsel.id - Di tengah ancaman krisis iklim, hutan tidak selalu harus dipahami sebagai hamparan luas yang jauh dari kehidupan manusia. Di Sumatera Selatan, ada pengetahuan masyarakat adat tentang cara merawat hutan, menjaga sumber pangan, dan mempertahankan keseimbangan alam yang diwariskan lintas generasi.
Salah satunya hidup dalam tradisi jongot milik masyarakat Suku Musi di kawasan Tempirai, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Jongot bukan sekadar kebun buah. Ia merupakan hutan campuran warisan keluarga yang menyimpan beragam jenis vegetasi, sumber pangan, kayu, sekaligus ikatan sosial dan budaya masyarakat. Di tengah perubahan bentang alam akibat pembukaan lahan dan tekanan terhadap ekosistem gambut, keberadaan jongot menawarkan cara pandang lain tentang bagaimana manusia semestinya hidup berdampingan dengan alam.
Ancaman krisis iklim sendiri semakin nyata. Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) mencatat 2024 sebagai tahun terpanas dalam sejarah pengamatan instrumental, dengan suhu rata-rata global mencapai 1,55 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.
Sementara itu, 2025 kembali masuk dalam tiga tahun terpanas yang pernah tercatat. Berdasarkan data Copernicus, suhu rata-rata global pada 2025 berada sekitar 1,47 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.
Angka tersebut menjadi peringatan bahwa pemanasan global bukan lagi ancaman yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dampaknya dapat dirasakan melalui perubahan pola musim, meningkatnya risiko cuaca ekstrem, kekeringan, hingga tekanan terhadap sistem pangan dan ekosistem.
Di Sumatera Selatan, persoalan iklim berkelindan dengan perubahan bentang alam. Pembukaan hutan, ekspansi perkebunan monokultur, pembangunan infrastruktur, dan aktivitas pertambangan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga keseimbangan lingkungan.
Pada kawasan gambut, perubahan tata air akibat pembangunan kanal dapat membuat lahan kehilangan kelembapan alaminya. Ketika musim kemarau datang, gambut yang mengering menjadi lebih rentan terbakar. Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan hutan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga keberlanjutan sumber pangan.
Di perkotaan seperti Palembang, berkurangnya ruang terbuka hijau dan dominasi permukaan beton serta aspal juga dapat memperkuat fenomena pulau panas perkotaan atau urban heat island. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kawasan hutan, tetapi juga dengan cara manusia mengelola ruang hidupnya.
Baca Juga: Jongot, Benteng Ekologis Masyarakat Musi di Sumatera Selatan Menghadapi Karhutla
Jongot, Benteng Ekologis di Tengah Lanskap Gambut Tempirai
Di tengah persoalan tersebut, jongot menjadi salah satu praktik pengelolaan lahan berbasis pengetahuan lokal yang menarik untuk dibaca kembali.
Hal itu mengemuka dalam diskusi buku Jongot: Sebuah Pengantar Harapan di Roemah Tumbuh Kembang, Palembang. Dalam agenda tersebut, Nopri Ismi, pegiat budaya sekaligus jurnalis lingkungan, memaparkan hasil penelitiannya mengenai keberadaan jongot di lanskap masyarakat Penukal, PALI.
Selama lebih dari satu tahun melakukan penelitian, Nopri menemukan bahwa jongot memiliki peran yang tidak sebatas menyediakan buah-buahan bagi masyarakat. Keberadaannya juga berkaitan dengan cara masyarakat mengelola ruang, mempertahankan vegetasi, dan menjaga hubungan dengan lingkungan sekitarnya.
Menurut Nopri, terdapat lebih dari seratus titik jongot yang bertahan di atas bentang tanah mineral atau talang di tengah kawasan rawa gambut Tempirai. Vegetasi yang beragam dan keberadaan pohon-pohon besar di dalamnya dinilai memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari menjaga tutupan lahan, menyimpan karbon, hingga membantu mempertahankan kelembapan lingkungan.
Berbeda dengan perkebunan monokultur yang didominasi satu jenis tanaman, jongot mempertahankan keragaman vegetasi. Keberagaman tersebut membuat kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga berpotensi mendukung keseimbangan ekosistem di sekitarnya.
Tag
Berita Terkait
-
Jongot, Benteng Ekologis Masyarakat Musi di Sumatera Selatan Menghadapi Karhutla
-
Festival Lahan Basah Tempirai Hidupkan Lagi Joadah, Kuliner Beras Hitam Masyarakat Musi
-
Festival Lahan Basah Tempirai: Kedatuan Sriwijaya Menjaga Lahan Basah Sungai Musi
-
Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi
-
Jongot, Tradisi Orang Musi yang Bertahan Ratusan Tahun Saat Kebun Tumbuh Menjadi Hutan
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh
-
Hujan Sudah Turun, Karhutla Sumsel Belum Tuntas, Seberapa Efektif Dry Ice dan OMC?
-
Kambang Iwak Diterjang Pohon Tumbang, Palembang Hadapi Ancaman Pohon Tua saat Musim Hujan
-
Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim
-
Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?