Tasmalinda
Selasa, 29 September 2026 | 10:35 WIB
pemutaran film jongot yang digelar di kampus UIN Raden Fatah Palembang [Mohamad Shabir Fikri/Suara.com]
Baca 10 detik
  • Masyarakat Suku Musi di Penukal mempertahankan jongot, kebun buah hutan warisan leluhur yang menjaga kelembapan serta mencegah kebakaran lahan.
  • Akademisi Ainur Ropik menemukan bahwa vegetasi lebat dan sumber air di dalam jongot mampu menahan laju kebakaran hutan.
  • Pemerintah daerah Kabupaten PALI berencana mengusulkan jongot agar mendapat pengakuan resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda.

SuaraSumsel.id - Ketika musim kemarau memanjangkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, masyarakat Musi di Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), memiliki cara lain dalam menghadapi api yakni dengan mempertahankan jongot.

Jongot merupakan hutan buah hutan atau agroforestri yang dikelola masyarakat secara turun-temurun. Di dalamnya tumbuh pohon-pohon besar, buah-buahan hutan, tanaman obat hingga berbagai vegetasi yang membentuk kanopi rapat.

Di tengah lanskap Penukal yang berhadapan dengan kekeringan dan kebakaran setiap musim kemarau, keberadaan jongot mulai dibaca bukan sekadar sebagai warisan leluhur. Jongot juga menyimpan fungsi ekologis yang penting bagi ketahanan masyarakat menghadapi bencana karhutla.

Data BNPB yang dikutip Databoks mencatat indikasi luas lahan terbakar di Sumatera Selatan mencapai 1.926,23 hektare per 14 September 2026. Sementara pemantauan SONGKET Sumsel pada 27 September mencatat 759 titik panas, dengan 12 di antaranya berada di PALI.

Di tengah angka tersebut, jongot menghadirkan cerita berbeda.

Akademisi UIN Raden Fatah Palembang, Ainur Ropik, menjelaskan karakter jongot tidak bisa dilepaskan dari vegetasi penyusunnya. Jongot didominasi pohon-pohon besar dan tanaman buah hutan. Vegetasi tersebut membuat kemampuan kawasan dalam menyerap dan menyimpan air tetap terjaga.

“Jongot itu tanaman hutan, tanaman buah-buahan yang memang basisnya itu kayu-kayu besar. Dengan adanya pohon-pohon besar, serapan airnya itu akan utuh ketimbang di tanaman sawit,” ujarnya.

Menurut Ropik, karakter tersebut membuat jongot memiliki hubungan erat dengan tata air. “Jongot itu lahan basah di daratan. Setiap jongot itu ada aliran airnya, ada mata airnya,” sambungnya.

Mata air di sekitar jongot bahkan dikenal masyarakat Tempirai sebagai ulu talang. Dalam sejumlah jongot, mata air tersebut dijaga dan disakralkan karena menjadi sumber air yang tetap mengalir sepanjang tahun.

Baca Juga: Ekosida Peradaban Air Sumsel, Ketika Lahan Basah Tak Lagi Menjadi Ruang Hidup

Penelitian dan laporan lapangan sebelumnya juga menunjukkan bahwa mata air di sekitar jongot dapat tetap mengalir ketika musim kemarau panjang. Air tersebut kemudian mengalir menuju ekosistem lahan basah di sekitarnya. Karena itu, menjaga jongot sesungguhnya juga berarti menjaga bagian dari sistem air di lanskap Penukal.

Ketika lahan di sekitarnya terbakar

Ada satu temuan lapangan Ropik yang membuat fungsi ekologis jongot semakin menarik untuk ditelusuri. Dalam penelitian lapangannya, ia menemukan tidak ada jongot yang terbakar ketika lahan di bagian pinggirnya terbakar.

“Ketika kami mengambil data langsung di sana, tidak ada jongot yang terbakar. Hanya lahan pinggirannya saja yang terbakar, seperti kebun karet.”

Temuan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa jongot kebal terhadap api. Namun, kondisi itu menunjukkan ada karakter ekologis yang patut dipelajari lebih jauh.

Vegetasi yang beragam, pohon berukuran besar, kanopi yang rapat, serta keberadaan sumber air membuat jongot memiliki kondisi mikro yang berbeda dibandingkan lahan terbuka atau kawasan yang vegetasinya lebih seragam.

Load More