- Masyarakat Tempirai, Sumatera Selatan, melestarikan kuliner tradisional Joadah berbahan beras hitam melalui Festival Lahan Basah tahunan.
- Proses memasak Joadah dilakukan secara gotong royong menggunakan metode tradisional sebagai simbol kebersamaan dan nilai budaya masyarakat.
- Tradisi ini menjaga keberlanjutan varietas padi lokal serta mempererat hubungan harmonis antara masyarakat dengan ekosistem lahan basah.
SuaraSumsel.id - Di atas tungku kayu bakar, sebuah kuali besi berdiameter hampir satu meter terus diaduk tanpa henti. Asap tipis mengepul bersama aroma kelapa sangrai yang memenuhi udara. Sedikit demi sedikit, adonan berwarna hitam berubah menjadi liat, mengilap, dan mengeluarkan wangi yang khas. Bagi masyarakat Tempirai, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), adonan itu bukan sekadar dodol.
Namanya Joadah, kuliner tradisional yang lahir dari bentang lahan basah Sumatera Selatan dan selama puluhan tahun menjadi hidangan istimewa dalam pesta pernikahan, kenduri, hingga berbagai upacara adat masyarakat Musi.
Namun, kuliner yang dahulu hampir selalu hadir dalam setiap hajatan itu kini mulai jarang ditemui. Melalui Festival Lahan Basah Tempirai, masyarakat kembali memasak Joadah sebagai upaya menghidupkan ingatan kolektif tentang kuliner yang lahir dari hubungan panjang manusia dengan sungai, rawa, dan lahan basah.
Berbeda dengan daerah pertanian lainnya, masyarakat Tempirai hanya dapat menanam padi sekali dalam setahun, umumnya pada Oktober. Bentang lahan basah yang dipengaruhi pasang surut air membuat pola tanam masyarakat mengikuti siklus alam.
Karena itu, setiap musim tanam menjadi sangat berharga. Di antara hamparan padi putih dan ketan, masyarakat selalu menyisihkan sebagian kecil lahan untuk menanam padi arang atau beras hitam.
Ketua Pelaksana Festival Lahan Basah Tempirai, Azizah Syamsudin, mengatakan tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun. Menurutnya, masyarakat mengenal puluhan varietas padi lokal yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.
Mulai dari padi pulut, padi kumpal bawah, padi puyuh, padi kure, padi alus, padi beras merah, padi puring, padi telok ikan, padi arang atau beras hitam, padi serai putih, padi seni, padi ketumbar, padi ketan hitam, padi paing kancil, padi kumpai, hingga padi selasi.
"Semua jenis padi itu ditanam bukan hanya untuk dimakan sehari-hari. Ada padi yang digunakan untuk membuat makanan pada hari-hari besar atau upacara adat, seperti padi pulut, padi abang, padi arang, dan padi kumpal bawah yang diolah menjadi lemang maupun makanan tradisional lainnya," kata Azizah.
Keberagaman benih tersebut menjadi bukti bagaimana masyarakat lahan basah mengembangkan sistem pangan yang menyesuaikan diri dengan kondisi alam selama ratusan tahun.
Baca Juga: Festival Lahan Basah Tempirai: Kedatuan Sriwijaya Menjaga Lahan Basah Sungai Musi
Azizah menjelaskan, beras hitam memiliki makna khusus dalam kehidupan masyarakat Tempirai. Selain diolah menjadi Joadah, padi arang juga digunakan dalam berbagai ritual adat. Pada tradisi Sedekah Sungai, misalnya, beras hitam dimasak tanpa minyak sebagai bentuk persembahan rasa syukur masyarakat atas hasil ikan dan berkah yang diberikan sungai.
Sementara dalam pesta pernikahan, beras hitam menjadi bahan utama pembuatan Joadah, makanan yang hampir selalu hadir sebagai simbol kebersamaan dan doa bagi keluarga yang baru dibentuk. "Beras hitam memang tidak pernah ditanam banyak. Tetapi dalam setiap musim tanam, masyarakat selalu menyisihkan sedikit lahan untuk menanamnya karena dibutuhkan untuk kepentingan adat," ujarnya.
Rasa yang Dijaga Bersama
Azizah mengingat bagaimana setiap musim tanam keluarganya selalu menyisihkan petakan sawah untuk padi arang. Meski hasilnya tidak sebanyak padi putih, keberadaannya tidak pernah ditinggalkan.
"Kalau musim tanam, pasti ada beras hitam yang ditanam. Walaupun sedikit, harus tetap ada karena dipakai untuk kebutuhan adat," katanya.
Untuk memasak Joadah diperlukan percampuran beras hitam kemudian dicampur dengan beras ketan putih. Sekitar empat kilogram beras ketan dipadukan dengan beras hitam, lalu dimasak bersama kelapa sangrai, santan, minyak kelapa, dan rempah-rempah yang menjadi resep turun-temurun masyarakat Tempirai.
Berita Terkait
-
Festival Lahan Basah Tempirai: Kedatuan Sriwijaya Menjaga Lahan Basah Sungai Musi
-
Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi
-
Jongot, Tradisi Orang Musi yang Bertahan Ratusan Tahun Saat Kebun Tumbuh Menjadi Hutan
-
Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
-
Festival Lahan Basah Pertama di Indonesia Hadir dari Tempirai, Merawat Tradisi yang Hampir Hilang
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Pestapora 2026 Makin Meriah Bareng BRImo, Ada Cashback hingga Aktivitas Berhadiah
-
PHR dan Kejaksaan Agung Kawal Kerja Sama Produksi Sumur Minyak BUMD, Koperasi, dan UMKM
-
Dari Energi untuk Negeri, Kilang Plaju Hadirkan Harapan Dengan Donor Darah
-
Sumsel Raih 3 Penghargaan TPID dan TP2DD Awards 2026
-
Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?