- Sekitar 50.000 bayi baru lahir di Indonesia setiap tahunnya mengalami Penyakit Jantung Bawaan akibat berbagai faktor risiko.
- Indonesia kekurangan tenaga medis spesialis karena hanya memiliki kurang dari 100 dokter jantung anak dari kebutuhan 400 orang.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia mendorong program Cek Kesehatan Gratis untuk mendeteksi penyakit tersebut secara dini sejak lahir.
SuaraSumsel.id - Penyakit Jantung Bawaan masih menjadi masalah besar di Indonesia sebab tidak selalu langsung terdeteksi saat bayi lahir.
Berdasarkan data dunia, 1 dari 100 bayi yang lahir mengalami Penyakit Jantung Bawaan. Jika melihat data kelahiran di Indonesia 5 juta anak pertahun artinya 50 ribu anak mengalami Penyakit Jantung Bawaan. Diantaranya sekitar 20-25 persen (12.500 anak) mengalami PJB kritis yang perlu penanganan segera baik non bedah maupun bedah.
Melihat data tersebut artinya perlu adanya deteksi dini pada bayi, termasuk mengenali gejala yang kerap tidak disadari oleh para orang tua.
Ketua Unit Kerja (UKK) Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Rizky Ardiansyah M.Ked, Sp.A, Subsp. Kardio(K), mengatakan Penyakit Jantung Bawaan sudah dimulai sejak di dalam kandungan tapi baru diketahui saat sudah lahir.
"Penyebab pasti belum diketahui memang, tapi banyak faktor resiko yang membuat janin pada ibu hamil mengalami Penyakit Jantung Bawaan. Faktor genetik menjadi salah satu faktornya, asap, nutrisi ibu, lingkungan, berpengaruh terhadap pertumbuhan janin terutama jantung," kata Rizky di sela kegiatan Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-14 dan Peluncuran Buku Panduan Gizi untuk Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan, di Hotel Novotel Palembang, Senin (26/10/2026).
Rizky mengungkapkan dengan fasilitas yang dimiliki saat ini Indonesia baru bisa menangani 20 persen kasus dari 50 ribu anak tersebut yang bisa ditangani di fasilitas kesehatan mulai dari tingkat pertama hingga RS rujukan.
Faktor utamanya Sumber Daya Manusia (SDM). Indonesia butuh 400 dokter jantung anak, sementara saat ini yang ada tidak sampai 100 orang. Dari jumlah tersebut 60 persen ada di Jabodetabek jadi untuk di daerah tidak tertangani karena tidak di rujuk dan ahlinya tidak ada di wilayah tersebut.
Para orang tua perlu mengenali gejala Penyakit Jantung Bawaan yang bervariasi. Tanda awal yang bisa dikenali seperti anaknya membiru di bibir, sesak sesak nafas.
"Anak yang terlambat terdeteksi akan mengalami berat badan sulit naik. Jika diatasi dengan bedah atau kateterisasi jantung berat badan anak akan lebih mudah naik," katanya.
Baca Juga: Palembang Diguyur Hujan Usai Kemarau Panjang, BMKG Ungkap Peran OMC dan Dinamika Atmosfer
Pencegahan dini PJB dimulai dari 1000 hari pertama kehamilan. Ibu hamil harus mendapatkan nutrisi yang baik agar bayi tidak mengalami gangguan pertumbuhan terutama Jantung. Ibu hamil harus mengonsumsi mikro nutrisi seperti asam folat, zat besi, yang terdapat diantaranya pada susu, daging dan sumber protein lainnya.
"Hindari paparan obat-obatan, asap rokok dan kabut asap PM2.5 yang bisa menjadi faktor resiko pemicu Penyakit Jantung Bawaan," jelasnya.
Rizky menegaskan, anak yang sudah terdiagnosis Penyakit Jantung Bawaan maka akan terdiagnosa bisa diatasi, atau tidak bisa bertahan dan meninggal. Penyakit Jantung Bawaan jenis ringan atau bisa diatasi punya tingkat keberhasilan 80-90 persen jika ditangani dengan baik. Tapi jika kompleks sering terjadi kasus meninggal di usia 1 bulan pertama bahkan di seminggu pertama.
IDAI mendorong Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk bayi-bayi di fasilitas kesehatan agar tidak terlambat terdiagnosa. Selain itu pemerintah mesti menambah fasilitas dengan bertambahnya kesadaran orang tua membawa anak melakukan CKG.
Berita Terkait
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Usai Totok Sirih Viral di Palembang, IDAI Sumsel Ingatkan Orang Tua Cerdas Pilih Pengobatan Anak
-
Apa Itu Totok Sirih pada Bayi? Ini Risiko dan Manfaat Menurut Dokter
-
Usai Video Totok Sirih Bayi Viral di Palembang, IDAI Soroti Risiko Nyeri dan Trauma
-
Viral Bayi Menangis saat Totok Sirih di Palembang, IDAI Sumsel Ingatkan Risiko Cedera
Terpopuler
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- Ini 3 Pilihan Terbaik HP Snapdragon Termurah dengan Layar AMOLED
- Lagu Runaway Menggema di SUGBK, Jadi Penutup Konser Kanye West di Jakarta
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
IDAI Ungkap 12.500 Bayi per Tahun Berisiko Alami Penyakit Jantung Bawaan Kritis
-
Palembang Diguyur Hujan Usai Kemarau Panjang, BMKG Ungkap Peran OMC dan Dinamika Atmosfer
-
Napi Tewas di Lapas Muaradua, 4 Tersangka Ditetapkan, Petugas Jaga Ikut Diperiksa
-
DPRD Sumsel Desak Polisi Tindak 20 Korporasi Karhutla, Sejauh Mana Penyidikannya?
-
4 Orang Tewas dalam Kecelakaan Brio vs Fuso di Bangka Tengah, Begini Dugaan Awal Polisi