Tasmalinda
Senin, 27 April 2026 | 12:04 WIB
Viral Totok Sirih Bayi di Palembang, Sumatera Selatan.
Baca 10 detik
  • Video terapi Totok Sirih di Palembang viral karena memperlihatkan bayi menangis histeris akibat tindakan fisik yang dianggap kasar.
  • IDAI Sumatera Selatan memperingatkan bahwa tindakan medis tanpa pertimbangan profesional pada bayi berisiko tinggi menyebabkan cedera fisik serius.
  • Orang tua diimbau agar lebih bijak dan berkonsultasi dengan dokter sebelum memilih metode pengobatan alternatif bagi kesehatan anak.

SuaraSumsel.id - Viralnya video seorang bayi menangis histeris saat menjalani terapi Totok Sirih Palembang memicu perdebatan luas di masyarakat. Sebagian orang menilai praktik tersebut sebagai bagian dari pengobatan tradisional yang dipercaya turun-temurun, namun tak sedikit pula yang khawatir terhadap dampak yang bisa ditimbulkan pada kondisi fisik anak.

Peristiwa ini pun menjadi perhatian serius Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Selatan. Organisasi profesi dokter anak itu mengingatkan para orang tua agar lebih cermat dan cerdas dalam memilih metode pengobatan untuk buah hati, terutama jika tindakan yang dilakukan melibatkan tekanan fisik pada tubuh bayi yang masih rentan.

Ketua IDAI Sumsel, dr. Julius Anzar, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), menegaskan bahwa anak, terutama bayi, memiliki tubuh yang sensitif dan belum memiliki kekuatan fisik seperti orang dewasa. Karena itu, setiap tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan medis dapat berisiko menyebabkan cedera.

“Kami melihat ada beberapa tindakan yang secara visual terkesan kasar dan menyakitkan. Kami mengingatkan agar proses pengobatan anak tidak sampai menimbulkan cedera atau memperburuk kondisi fisik anak. Kalau anak sedang sakit, seharusnya kondisinya menjadi lebih baik, bukan justru bertambah sakit,” ujar Julius.

Kasus Totok Sirih yang viral itu memperlihatkan seorang bayi menangis keras saat menjalani terapi di sebuah rumah pengobatan di Palembang. Tangisan bayi tersebut memicu kekhawatiran banyak orang karena dianggap sebagai tanda ketidaknyamanan, rasa takut, atau bahkan rasa sakit.

Menurut IDAI, tangisan keras pada bayi saat menjalani terapi fisik tidak boleh diabaikan. Bayi belum mampu menyampaikan rasa sakit atau ketidaknyamanan dengan kata-kata, sehingga tangisan sering menjadi sinyal utama yang harus dipahami orang tua.

Sebagai bentuk edukasi, IDAI Sumsel membagikan panduan mengenai pijat bayi yang benar. Dalam poster yang dibagikan, IDAI menegaskan bahwa pijat bayi bukan ditujukan untuk mengobati penyakit, melainkan untuk menstimulasi tumbuh kembang melalui sentuhan lembut, gerakan ringan, suara, dan komunikasi antara orang tua dengan bayi.

Jika dilakukan dengan cara yang benar, pijat bayi dapat memberikan manfaat seperti membantu bayi tidur lebih nyenyak, membuat tubuh lebih rileks, membantu kenaikan berat badan, serta mendukung sistem pencernaan dan sirkulasi darah.

Namun, IDAI menekankan bahwa pijat bayi harus dilakukan saat kondisi anak nyaman. Orang tua harus memastikan bayi dalam keadaan tenang, tidak sedang demam atau sakit, tidak baru menyusu atau makan, serta tidak dalam kondisi lapar atau mengantuk.

Baca Juga: Fakta Kronologi Ladang Ganja 20 Hektare di Empat Lawang Terbongkar, Bermula dari Palembang

“Kalau bayi belum nyaman, lebih baik tunda dulu,” demikian pesan edukasi yang disampaikan IDAI Sumsel.

IDAI juga menjelaskan bahwa pijatan pada bayi harus dilakukan dengan lembut dan tanpa tekanan berlebihan. Tujuan utamanya adalah membuat bayi merasa nyaman, bukan menimbulkan rasa takut, nyeri, atau terpaksa. “Tujuannya buat bayi nyaman. Bukan takut, nyeri, atau terpaksa,” tulis IDAI dalam materi edukasinya.

Viralnya kasus Totok Sirih di Palembang ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat bahwa tidak semua pengobatan alternatif aman untuk anak. Orang tua diimbau untuk lebih bijak dalam menerima informasi, tidak mudah percaya pada klaim yang belum terbukti secara medis, dan selalu berkonsultasi dengan dokter atau fasilitas kesehatan resmi sebelum memilih terapi tertentu.

Dengan meningkatnya arus informasi di media sosial, edukasi kesehatan anak menjadi semakin penting. Orang tua bukan hanya dituntut cepat bertindak saat anak sakit, tetapi juga harus cerdas menentukan langkah yang aman agar tumbuh kembang anak tetap terjaga tanpa risiko yang tidak perlu.

Load More