- Video praktik totok sirih pada bayi di Palembang viral karena memicu kekhawatiran publik terkait keamanan terapi fisik tersebut.
- IDAI Sumatera Selatan menegaskan bahwa tekanan fisik berlebihan pada bayi berisiko menyebabkan cedera jaringan hingga trauma serius.
- IDAI mengimbau orang tua agar berkonsultasi ke fasilitas kesehatan resmi demi menjamin keselamatan serta tumbuh kembang bayi.
SuaraSumsel.id - Video praktik totok sirih pada bayi di Palembang, Sumatera Selatan, yang viral di media sosial masih terus menjadi sorotan publik. Tangis histeris sang bayi dalam video tersebut memicu kekhawatiran banyak pihak soal keamanan terapi fisik pada anak.
Menanggapi viralnya video itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Selatan mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap praktik terapi atau pijat bayi yang dilakukan tanpa dasar medis yang jelas.
Ketua IDAI Sumsel, dr. Julius Anzar, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), menegaskan bahwa tubuh bayi sangat rentan terhadap tekanan fisik berlebihan.
“Kami melihat ada beberapa tindakan yang secara visual terkesan kasar dan menyakitkan. Kami mengingatkan agar proses pengobatan anak tidak sampai menimbulkan cedera atau memperburuk kondisi fisik anak. Kalau anak sedang sakit, seharusnya kondisinya menjadi lebih baik, bukan justru bertambah sakit,” ujarnya dihubungi Suara.com, Minggu (26/4/2026).
IDAI Sumatera Selatan mengungkapkan sudah melakukan kunjungan pada pengobatan yang tengah viral di media sosial tersebut.
Dalam kunjungan tersebut, pengelola rumah pengobatan mengaku praktik tersebut sudah dilakukan sejak 2012 dan merupakan ilmu turun-temurun yang diwariskan keluarga.
“Mereka menyampaikan bahwa pengobatan ini sudah berjalan sejak tahun 2012, menggunakan ilmu warisan keluarga. Bahkan ada pengakuan bahwa anak sendiri maupun keponakan mereka juga pernah menjalani metode serupa,” katanya.
Pihak pengobatan alternatif juga menyebut layanan yang diberikan tidak mematok tarif dan hanya menerima bayaran seikhlasnya dari masyarakat.
Menurut IDAI, tingginya minat masyarakat diduga karena layanan tersebut gratis atau berbasis donasi sukarela. “Hasil pemantauan kami, kemungkinan masyarakat datang karena pengobatannya gratis atau seikhlasnya,” jelasnya.
Baca Juga: Detik-detik Ayah Amankan Pria Misterius yang Incar Anaknya di Depan Sekolah
Meski demikian, IDAI Sumsel menegaskan tidak melarang keberadaan pengobatan alternatif selama tetap mengutamakan prinsip keselamatan anak.
“Prinsip IDAI Sumsel, kami tidak melarang pengobatan alternatif. Namun yang paling penting adalah keselamatan anak-anak harus dijaga betul. Jangan sampai tindakan yang dilakukan justru menyakitkan atau membahayakan,” tegasnya.
IDAI juga mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih bijak dalam menilai serta memilih metode pengobatan bagi anak.
“Tentu masyarakat bisa menilai sendiri. Kami hanya mengingatkan, begitu juga pemerintah daerah, agar semua pihak memperhatikan keselamatan anak,” pungkasnya.
Peristiwa ini sekaligus membuka diskusi lebih luas soal maraknya terapi alternatif untuk bayi di tengah masyarakat.
Hingga kini, video tersebut masih ramai diperbincangkan di media sosial. Publik berharap ada pengawasan lebih ketat terhadap praktik-praktik terapi bayi yang berpotensi membahayakan keselamatan anak.
Berita Terkait
-
Detik-detik Ayah Amankan Pria Misterius yang Incar Anaknya di Depan Sekolah
-
PP Tunas Mulai Diterapkan, Banyak Kasus Anak Berawal dari Medsos Tanpa Pengawasan
-
Waspada! Modus Kurir Online Ajak 'Cari Teman', Siswi SD di Palembang Jadi Korban
-
Bukan Sekadar Adopsi, Dugaan TPPO Mengemuka di Balik Bayi 3 Hari Ditawarkan Rp52 Juta
-
Alasan Sebenarnya Orang Tua di Palembang Hendak Jual Bayi Rp52 Juta Terungkap
Terpopuler
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Heran Febrie Adriansyah Dipanggil sebagai Tersangka, Pengacara: Baru Kali Ini Kami Lihat
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Mengurangi Flek Hitam pada Usia 50 Tahun ke Atas? Ini 7 Rekomendasinya
Pilihan
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
Terkini
-
Demi UMKM Naik Kelas, Kepala Unit BRI Rela Tempuh Jalan Berlumpur di Rantau Prapat
-
Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600
-
Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah
-
5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Anak Krakatau, Pencarian Diperluas di Selat Sunda
-
PTBA Dorong Budaya Inovasi Lewat BIGMIND Innovation Award 2026, Ubah Ide Jadi Dampak