Tasmalinda
Minggu, 26 April 2026 | 14:01 WIB
Kolase pertemuan IDAI Sumsel dengan pemilik pengobatan tradisional
Baca 10 detik
  • Video praktik totok sirih pada bayi di Palembang viral karena memicu kekhawatiran publik terkait keamanan terapi fisik tersebut.
  • IDAI Sumatera Selatan menegaskan bahwa tekanan fisik berlebihan pada bayi berisiko menyebabkan cedera jaringan hingga trauma serius.
  • IDAI mengimbau orang tua agar berkonsultasi ke fasilitas kesehatan resmi demi menjamin keselamatan serta tumbuh kembang bayi.

SuaraSumsel.id - Video praktik totok sirih pada bayi di Palembang, Sumatera Selatan, yang viral di media sosial masih terus menjadi sorotan publik. Tangis histeris sang bayi dalam video tersebut memicu kekhawatiran banyak pihak soal keamanan terapi fisik pada anak.

Menanggapi viralnya video itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Selatan mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap praktik terapi atau pijat bayi yang dilakukan tanpa dasar medis yang jelas.

Ketua IDAI Sumsel, dr. Julius Anzar, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), menegaskan bahwa tubuh bayi sangat rentan terhadap tekanan fisik berlebihan.

“Kami melihat ada beberapa tindakan yang secara visual terkesan kasar dan menyakitkan. Kami mengingatkan agar proses pengobatan anak tidak sampai menimbulkan cedera atau memperburuk kondisi fisik anak. Kalau anak sedang sakit, seharusnya kondisinya menjadi lebih baik, bukan justru bertambah sakit,” ujarnya dihubungi Suara.com, Minggu (26/4/2026).

Dalam kunjungan tersebut, pengelola rumah pengobatan mengaku praktik tersebut sudah dilakukan sejak 2012 dan merupakan ilmu turun-temurun yang diwariskan keluarga.

“Mereka menyampaikan bahwa pengobatan ini sudah berjalan sejak tahun 2012, menggunakan ilmu warisan keluarga. Bahkan ada pengakuan bahwa anak sendiri maupun keponakan mereka juga pernah menjalani metode serupa,” katanya.

Pihak pengobatan alternatif juga menyebut layanan yang diberikan tidak mematok tarif dan hanya menerima bayaran seikhlasnya dari masyarakat.

Menurut IDAI, tingginya minat masyarakat diduga karena layanan tersebut gratis atau berbasis donasi sukarela. “Hasil pemantauan kami, kemungkinan masyarakat datang karena pengobatannya gratis atau seikhlasnya,” jelasnya.

Meski demikian, IDAI Sumsel menegaskan tidak melarang keberadaan pengobatan alternatif selama tetap mengutamakan prinsip keselamatan anak.

Baca Juga: Detik-detik Ayah Amankan Pria Misterius yang Incar Anaknya di Depan Sekolah

“Prinsip IDAI Sumsel, kami tidak melarang pengobatan alternatif. Namun yang paling penting adalah keselamatan anak-anak harus dijaga betul. Jangan sampai tindakan yang dilakukan justru menyakitkan atau membahayakan,” tegasnya.

IDAI juga mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih bijak dalam menilai serta memilih metode pengobatan bagi anak.

“Tentu masyarakat bisa menilai sendiri. Kami hanya mengingatkan, begitu juga pemerintah daerah, agar semua pihak memperhatikan keselamatan anak,” pungkasnya.

Langkah cepat itu pun mendapat apresiasi dari masyarakat. “Terima kasih IDAI Sumsel atas respon cepatnya dalam edukasi dan advokasi perlindungan anak. Kita kawal bersama,” tulis akun lainnya.

Peristiwa ini sekaligus membuka diskusi lebih luas soal maraknya terapi alternatif untuk bayi di tengah masyarakat.

Hingga kini, video tersebut masih ramai diperbincangkan di media sosial. Publik berharap ada pengawasan lebih ketat terhadap praktik-praktik terapi bayi yang berpotensi membahayakan keselamatan anak.

Load More