- Buku karya Taufik Wijaya membahas sejarah dan peran penting lahan basah Sungai Musi bagi peradaban masyarakat Sumatera Selatan.
- Diskusi buku di Palembang menyoroti hilangnya pengetahuan lokal dan tradisi akibat kerusakan lingkungan serta perubahan tata guna lahan.
- Para ahli menekankan perlunya dokumentasi pengetahuan masyarakat perairan agar identitas dan sejarah peradaban air tidak punah sepenuhnya.
SuaraSumsel.id - Sulit membayangkan Sumatera Selatan tanpa Sungai Musi. Bagi sebagian orang, sungai sepanjang lebih dari 700 kilometer itu mungkin hanya dikenal sebagai jalur transportasi atau ikon Kota Palembang. Namun, jauh sebelum jalan raya menghubungkan kota-kota di Sumatera, Musi telah menjadi nadi yang menghidupi sebuah peradaban. Dari sungai inilah perdagangan berkembang, permukiman tumbuh, pangan diproduksi, hingga lahir kebudayaan yang membentuk identitas masyarakat Sumatera Selatan.
Ironisnya, ketika pembangunan terus bergerak maju, hubungan masyarakat dengan ruang air justru perlahan memudar. Lahan basah dipandang sebagai lahan yang harus dikeringkan, sungai dianggap sekadar saluran air, sementara pengetahuan yang diwariskan masyarakat tentang kehidupan lahan basah semakin jarang terdokumentasikan.
Kegelisahan itu menjadi benang merah dalam buku Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa karya jurnalis dan pekerja seni dan budaya, Taufik Wijaya. Gagasan tersebut kemudian diperdalam dalam sebuah diskusi buku di Rajo Coffee and Roastery Palembang akhir pekan lalu, yang menghadirkan akademisi, budayawan, hingga pegiat kebudayaan. Alih-alih sekadar membahas isi buku, forum itu berkembang menjadi refleksi tentang bagaimana Sumatera Selatan memandang lahan basah di tengah perubahan zaman.
Selama bertahun-tahun, lahan basah lebih sering dibicarakan dalam konteks lingkungan. Pembahasannya berkisar pada kerusakan gambut, banjir, kebakaran hutan, atau alih fungsi lahan. Namun Taufik Wijaya mengajak pembaca keluar dari cara pandang tersebut.
Taufik bahkan menyebutnya sebagai ekosida peradaban air Sumatera Selatan. Bukan karena yang hilang hanya bentang alamnya, melainkan karena bersamaan dengan itu ikut lenyap pengetahuan, tradisi, dan cara hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya akibat kerusakan lingkungan.
“Kerusakan lahan basah telah memutus hubungan masyarakat dengan sumber kehidupan yang selama ratusan tahun menjadi fondasi ekonomi dan kebudayaan,” ujarnya.
Perubahan itu, kata Taufik, tampak dari bergesernya cara pandang generasi muda terhadap desa dan lahan basah. Sungai dan rawa tak lagi dipandang sebagai ruang yang menjanjikan masa depan.
"Perubahan cara pandang membuat banyak anak muda meninggalkan desa. Mereka lebih memilih menjadi pekerja di kota, padahal lahan basah di sekitar mereka menyimpan kekayaan ekonomi yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu, bahkan sebelum masa Sriwijaya," ujarnya.
Dalam pengantar bukunya, ia menempatkan lahan basah sebagai ruang tempat manusia membangun pengetahuan, budaya, dan cara hidup. Baginya, sungai, rawa, dan gambut bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang yang menyimpan pengalaman kolektif masyarakat selama ratusan tahun. Ketika bentang itu berubah, yang ikut tergerus bukan hanya ekosistem, tetapi juga ingatan masyarakat terhadap ruang hidupnya.
Baca Juga: Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan dan Rasa Taufik Wijaya
Pemulihan lahan basah, karena itu, tidak cukup dilakukan melalui rehabilitasi lingkungan, tetapi juga melalui upaya mendokumentasikan pengetahuan yang hidup di dalamnya.
Gagasan tersebut menjadi menarik karena berangkat dari fakta bahwa Sumatera Selatan memang dibangun di atas bentang air. Buku ini mencatat kawasan lahan basah Sungai Musi membentang seluas 3 juta hektar berupa rawa lebak, rawa pasang surut, dan lahan gambut yang saling terhubung melalui Sungai Musi beserta ratusan anak sungainya. Kawasan ini bukan hanya menjadi penyangga ekosistem, tetapi juga menopang kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sejak berabad-abad lalu.
Pandangan tersebut sejalan dengan kajian ilmiah yang menyebut lahan basah sebagai salah satu ekosistem paling produktif di dunia. Selain menjadi habitat bagi sekitar 40 persen spesies tumbuhan dan satwa, lahan basah berfungsi menyimpan cadangan karbon, mengurangi risiko banjir, menjaga kualitas air, hingga menopang mata pencaharian banyak penduduk di dunia. Ironisnya, dalam satu abad terakhir, kawasan lahan basah juga menjadi ekosistem yang mengalami kehilangan paling cepat akibat perubahan tata guna lahan dan eksploitasi manusia.
Membaca Sumatera Selatan dari Jalur Air
Menariknya, Taufik tidak membuka bukunya dengan pembahasan mengenai kerusakan lingkungan. Ia justru memulai kisah melalui rempah-rempah.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Melalui bab tersebut, Taufik ingin menunjukkan bahwa Sungai Musi sejak lama merupakan koridor perdagangan yang menghubungkan pedalaman Sumatera dengan dunia luar. Damar, jernang, gaharu, pinang, kemenyan, hingga lada mengalir melalui jalur air yang sama, membawa serta pedagang dari berbagai wilayah Nusantara maupun Asia.
Tag
Berita Terkait
-
Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan dan Rasa Taufik Wijaya
-
21 Ton Solar Ilegal Nyaris Masuk Tiga Tug Boat di Sungai Musi, Siapa di Baliknya?
-
Mayat Perempuan Mengapung di Sungai Musi Bikin Heboh, Ini Ciri-ciri Korban yang Dicari Polisi
-
Jembatan Ampera hingga Masjid Agung Palembang Resmi Jadi Cagar Budaya Nasional
-
BI Ungkap Strategi Jaga Harga Pangan di Sumsel, Inflasi Melandai Meski Kemarau Mengintai
Terpopuler
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 4 HP dengan Baterai 8000 mAh Plus Tahan Hingga 2 Hari, RAM 8 GB Cocok Buat Ojol
- 11 Pilihan HP Murah Bujet Rp1-2 Juta, Spek dan Performa Terbaik untuk Multitasking
- 6 Cara Membedakan Jam Tangan Seiko Asli atau Palsu, Biar Tidak Tertipu saat Beli
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Kronologi Menantu Bakar Rumah Mertua di Lubuklinggau, 11 Rumah Hangus
-
Suami Istri Kompak Jadi Spesialis Curanmor dan Bobol Rumah di Palembang, Polisi Ungkap Modusnya
-
LRT Sumsel Kampanyekan Transportasi Publik, Penumpang Stasiun Cinde Tembus 110 Ribu
-
Tagih Utang Berujung Maut, Pria di Palembang Tewas dengan Luka Bacok di Punggung
-
Ekosida Peradaban Air Sumsel, Ketika Lahan Basah Tak Lagi Menjadi Ruang Hidup