- Masyarakat Suku Musi di Penukal mempertahankan jongot, kebun buah hutan warisan leluhur yang menjaga kelembapan serta mencegah kebakaran lahan.
- Akademisi Ainur Ropik menemukan bahwa vegetasi lebat dan sumber air di dalam jongot mampu menahan laju kebakaran hutan.
- Pemerintah daerah Kabupaten PALI berencana mengusulkan jongot agar mendapat pengakuan resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Di Talang Tanjung Eran dan Talang Sebetung, kawasan yang sebagian besar terdiri atas jongot dan kebun karet tidak ditemukan terbakar ketika kebakaran terjadi di kawasan sekitarnya. Warga justru berusaha menjaga kebun dan jongot agar tidak ikut terbakar. Dalam kondisi kemarau, keberadaan ruang yang masih memiliki kelembapan menjadi penting.
Sebab, ketika lahan mengering, api tidak hanya membawa kerugian ekonomi. Ia juga mengancam sumber air, pangan, tanaman produktif, dan ruang hidup masyarakat.
Jongot bukan sekadar hutan buah
Bagi masyarakat Suku Musi, jongot tidak dibangun sebagai hutan konservasi dalam pengertian modern. Ia bermula dari kebun keluarga.
Pohon ditanam, dirawat dan diwariskan. Dari waktu ke waktu, kebun tersebut tumbuh menyerupai hutan dengan lapisan vegetasi yang semakin beragam.
Di dalamnya dapat ditemukan durian rimba, cempedak, asam kandis, aren, nibung, tampui, rambutan hutan hingga berbagai jenis pohon kayu. Sebagian dimanfaatkan sebagai pangan, obat, bahan bangunan dan kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, jongot memiliki banyak fungsi sekaligus. Jongot menjadi sumber pangan ketika musim buah datang, apotek hidup bagi keluarga, habitat satwa, penyimpan air sekaligus bagian dari identitas keluarga yang mengelolanya.
Pada musim kemarau, fungsi itu menjadi semakin penting.
Jongot yang tetap memiliki kelembapan dapat menjadi ruang perlindungan bagi makhluk hidup ketika kawasan lahan basah di sekitarnya mengering. Mongabay mencatat bahwa kelembapan mikro di dalam jongot tetap terjaga ketika gambut di sekelilingnya mengering dan rentan terbakar.
Baca Juga: Ekosida Peradaban Air Sumsel, Ketika Lahan Basah Tak Lagi Menjadi Ruang Hidup
Pengetahuan lama untuk menghadapi bencana baru
Bagi masyarakat Penukal, mempertahankan jongot tidak berdiri sendiri. Ada pula pengetahuan mengenai air, lahan dan api yang diwariskan antargenerasi.
Dalam masyarakat Tempirai, misalnya, paye atau rawa kecil menjadi bagian penting dari tata air. Paye berfungsi sebagai sumber air dan pangan serta terhubung dengan sungai-sungai kecil di lanskap Penukal. Jongot dan paye bahkan memiliki hubungan ekologis yang erat.
Ketika karhutla datang, sumber air seperti paye menjadi tempat masyarakat mengambil air untuk memadamkan api. Pada September 2026, warga Tempirai bahkan menggunakan pompa air milik masyarakat secara gotong royong untuk memadamkan kebakaran yang mendekati kebun karet dan jongot mereka.
Ia dimulai jauh sebelumnya yakni dari bagaimana masyarakat mempertahankan vegetasi, menjaga sumber air, mengelola kebun dan memahami lanskap tempat mereka hidup.
Cerita tentang jongot kembali dibawa ke ruang publik melalui film dokumenter “Jongot: An Ancestral Legacy for All Living Beings” karya Nopri Ismi.
Berita Terkait
-
Ekosida Peradaban Air Sumsel, Ketika Lahan Basah Tak Lagi Menjadi Ruang Hidup
-
Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan dan Rasa Taufik Wijaya
-
Festival Lahan Basah Tempirai Hidupkan Lagi Joadah, Kuliner Beras Hitam Masyarakat Musi
-
Festival Lahan Basah Tempirai: Kedatuan Sriwijaya Menjaga Lahan Basah Sungai Musi
-
Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 15 Kode Redeem FF Terbaru 27 September 2026, Lengkap Trik Jitu Dapatkan Bundle Sasuke
- 9 Bedak Padat dan Tabur Terbaik di Indomaret di Bawah 50 Ribu
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
Terkini
-
Pegawai SPPG Hendak Kerja Dini Hari, Dibegal di Jembatan Musi VI Palembang
-
Jongot, Benteng Ekologis Masyarakat Musi di Sumatera Selatan Menghadapi Karhutla
-
Hari Pertambangan dan Energi, PTBA Perkuat Pasokan dan Hilirisasi untuk Kemandirian Energi
-
Guruh Soekarnoputra Berpulang, Mengapa Kepergiannya Begitu Berarti bagi Indonesia?
-
Prabowo Audit Keuangan Haji, Ada Rp12,98 Triliun Nilai Manfaat Jemaah 2027