Tasmalinda
Minggu, 20 September 2026 | 19:15 WIB
museum tekstil PT Bukit Asam
Baca 10 detik
  • PT Bukit Asam merencanakan proyek hilirisasi batu bara di Tanjung Enim untuk memproduksi 1,4 juta ton dimethyl ether per tahun guna mengurangi impor LPG nasional.
  • Proyek coal-to-DME yang masuk dalam daftar hilirisasi nasional tahap II tersebut ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada tahun 2027 mendatang.
  • PT Bukit Asam juga mengembangkan diversifikasi lahan pascatambang di Tanjung Enim menjadi kawasan wisata produktif untuk mempersiapkan perekonomian masa depan.

SuaraSumsel.id - Tujuh juta ton batu bara dari Tanjung Enim dirancang masuk ke satu rantai industri yang berbeda: gasifikasi, metanol, lalu dimethyl ether (DME).

Dari proses itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan produksi 1,4 juta ton DME per tahun. Produk tersebut disiapkan sebagai substitusi sebagian LPG impor, dengan Pertamina Group sebagai offtaker.

Proyek coal-to-DME Tanjung Enim telah masuk daftar proyek hilirisasi nasional dan menjalani groundbreaking pada 29 April 2026. Pemerintah memasukkannya sebagai salah satu proyek hilirisasi tahap II bersama 12 proyek lain dengan total nilai investasi sekitar Rp116 triliun.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto mengatakan proyek DME kini masih berada dalam proses pematangan teknologi, keekonomian dan skema bisnis. Pada April 2026, PTBA telah mengidentifikasi calon mitra teknologi dari China, Korea Selatan dan Jepang, tetapi belum menetapkan mitra. Keputusan investasi dan struktur pendanaan berada dalam proses bersama Danantara.

Perkembangan pada September menunjukkan proses tersebut terus berjalan. Turino menyebut proyek coal-to-DME ditargetkan memasuki konstruksi pada 2027. PTBA dan Danantara masih melakukan studi kelayakan dari hulu hingga hilir.

Groundbreaking hilirisasi batu bara dari Sumatera Selatan menjadi DME

Bagi Tanjung Enim, perubahan itu bukan sekadar memindahkan batu bara dari satu tempat ke tempat lain. Selama ini batu bara keluar dari tambang sebagai komoditas. Dalam skema DME, batu bara menjadi bahan baku industri kimia dan energi. China sudah lebih dahulu mengolah batubara

China memberi gambaran mengenai skala yang dapat dicapai ketika batu bara masuk lebih jauh ke industri.

China telah mengembangkan industri pengolahan batu bara menjadi bahan kimia, bahan bakar dan gas dalam skala besar. Pada 2024, sekitar 276 juta ton batu bara masuk ke sektor tersebut. Salah satu fasilitas besar dikembangkan Ningxia Baofeng Energy dengan investasi sekitar US$6,7 miliar.

Gasifikasi menjadi salah satu teknologi kuncinya, mengubah batu bara menjadi syngas yang kemudian dapat diproses menjadi metanol dan berbagai produk turunan. Pengalaman China menjadi pembanding bagi pengembangan hilirisasi batu bara di Indonesia, dengan penyesuaian terhadap teknologi, bahan baku, kebutuhan energi, investasi dan pasar.

Baca Juga: PTBA Dorong Kemandirian Kelompok Binaan lewat Penguatan Kepemimpinan

China telah memiliki pengalaman komersial panjang dalam teknologi tersebut. Dalian Institute of Chemical Physics mencatat teknologi coal-to-olefins yang dikembangkan lembaga tersebut telah memperoleh puluhan lisensi komersial dengan kapasitas produksi olefin mencapai puluhan juta ton per tahun.

Pengalaman itu menjadi relevan ketika PTBA menentukan teknologi untuk Tanjung Enim, namun China membawa catatan tersendiri.

Presiden Prabowo Subianto pernah menekankan hal tersebut ketika meresmikan proyek hilirisasi tahap II pada 29 April 2026. Dalam arahan yang dicatat Kementerian ESDM, ia meminta kajian teknologi dan perhitungan keekonomian dilakukan secara mendalam.

Tujuh juta ton batu bara untuk 1,4 juta ton DME

Dalam desain terbaru yang disampaikan PTBA pada Agustus 2026, kebutuhan bahan baku mencapai sekitar 7 juta ton batu bara per tahun untuk menghasilkan 1,4 juta ton DME. Prosesnya berlangsung dalam tiga tahap utama: batu bara digasifikasi menjadi syngas, syngas diolah menjadi metanol, kemudian metanol dikonversi menjadi DME.

PTBA akan menyediakan dukungan teknis dan direncanakan menjadi operator pabrik setelah beroperasi. Pertamina menjadi offtaker, sementara Danantara mengorkestrasi struktur proyek dan pemilihan teknologi. Kapasitas 1,4 juta ton DME itu diarahkan untuk menggantikan sekitar 1 juta ton LPG, dari kebutuhan LPG nasional yang sekitar 8 juta ton per tahun menurut data yang disampaikan PTBA pada Agustus.

Besarnya substitusi tersebut menjadi alasan DME ditempatkan dalam agenda ketahanan energi. Indonesia masih mengandalkan impor untuk sebagian besar kebutuhan LPG. Pada April 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut konsumsi LPG nasional sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 1,6–1,7 juta ton.

Dalam struktur tersebut, DME Tanjung Enim dirancang untuk mengambil sebagian ruang yang selama ini dipenuhi produk impor. Namun proyeknya membutuhkan industri pendukung.

Kawasan yang disiapkan PTBA berada di Bukit Asam Coal Based Industrial Estate. Area industri tersebut sekitar 585 hektare, dengan sekitar 164 hektare untuk fasilitas DME. Proyek membutuhkan utilitas, listrik, air, logistik, rekayasa, konstruksi, laboratorium, bahan kimia, otomasi dan tenaga kerja berkeahlian khusus.

Sebagian peralatan utama masih harus didatangkan dari luar negeri. Karena itu, PTBA mengajukan kawasan tersebut menjadi Kawasan Ekonomi Khusus untuk memperoleh fasilitas investasi, termasuk tax holiday.

Di titik ini, ukuran hilirisasi tidak hanya berada pada jumlah DME yang keluar dari pabrik.

Ada pertanyaan mengenai berapa banyak industri pendukung yang dapat tumbuh di sekitarnya dan berapa besar nilai tambah yang tetap berada di dalam negeri.

Sawahlunto sudah menghadapi hari setelah tambang Jika China menunjukkan fase ketika batu bara masuk lebih jauh ke industri, Sawahlunto menunjukkan fase ketika tambang tidak lagi menjadi pusat ekonomi kota.

Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto dibangun sebagai sistem pertambangan terpadu. Kawasan itu mencakup tambang, fasilitas pengolahan, kota tambang, jalur kereta api sepanjang 155 kilometer, dan pelabuhan. UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Dunia pada 2019.

Komponen pertambangan di kawasan tersebut kini tidak lagi digunakan seperti masa produksinya. UNESCO mencatat Sawahlunto mengembangkan heritage tourism sebagai aktivitas ekonomi utama seiring menurunnya pertambangan. Sejumlah fasilitas tambang juga diarahkan untuk penggunaan baru.

Bukit Asam dorong Sawahlunto Go Internasional lewat simposium site manager di Hotel Saka Ombilin

Transformasi itu tidak cukup dengan mempertahankan bangunan.

UNESCO menempatkan pengembangan fasilitas wisata, pengalaman pengunjung, konservasi dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sebagai bagian dari strategi pengelolaan kawasan. PTBA masih terlibat dalam pemanfaatan aset warisan tambang tersebut. Perusahaan merevitalisasi Gedung Pusat Kebudayaan Ombilin setelah kebakaran dan mengalokasikan sekitar Rp22 miliar untuk revitalisasinya.

Sawahlunto juga terus mengembangkan kunjungan wisata berbasis warisan tambang. Tetapi pengalaman kota ini menunjukkan bahwa perubahan fungsi aset tidak otomatis mengubah struktur ekonomi.

Penelitian tentang ekosistem pariwisata pascatambang Sawahlunto yang terbit pada 2026 mencatat kunjungan wisatawan meningkat 505 persen dalam empat tahun. Namun kontribusi akomodasi serta makanan dan minuman terhadap PDRB belum berubah secara berarti. Penelitian tersebut memperkirakan nilai tambah sekitar Rp890 ribu per kunjungan pada 2025.

Data itu menunjukkan satu persoalan penting: jumlah pengunjung dan nilai ekonomi yang tinggal di daerah merupakan dua ukuran berbeda.

Tanjung Enim mulai sebelum tambang berakhir dan belum berada pada fase Sawahlunto.

Produksi batu bara masih menjadi bisnis utama PTBA. Pada semester I 2026, produksi batu bara PTBA mencapai 19,45 juta ton, sedangkan penjualan mencapai 21,10 juta ton. Penjualan ekspor mencapai 10,33 juta ton.Pada saat produksi masih berjalan, PTBA mulai memperluas sumber pendapatan.

Turino menyebut kontribusi hilirisasi dan diversifikasi ditargetkan mencapai sekitar 20 persen dari total pendapatan PTBA dalam empat tahun ke depan. Portofolionya mencakup hilirisasi, energi terbarukan, optimalisasi aset dan lahan pascatambang.

Diversifikasi lahan sudah terlihat di Tanjung Enim.

PTBA mengembangkan Botanical Garden seluas 17 hektare di lahan pascatambang. Fasilitas yang dibangun mencakup area edukasi, cottage, camping ground, food court, tempat ibadah dan fasilitas pengunjung. PTBA juga mengembangkan Klawas Waterpark. Perusahaan mencatat fasilitas seluas 3.200 meter persegi itu dikunjungi lebih dari 58 ribu orang pada 2024 dan melibatkan masyarakat Tanjung Enim sebagai pekerja serta UMKM kuliner lokal.

Langkah tersebut menempatkan Tanjung Enim pada posisi berbeda dari Sawahlunto. Kota ini belum menunggu tambang selesai untuk mencari fungsi baru bagi lahannya.

Nilai batu bara tidak berhenti pada batu bara

China memperlihatkan bagaimana batu bara dapat menjadi bahan baku industri dalam skala besar. Sawahlunto memperlihatkan bagaimana kota tambang harus mencari sumber ekonomi baru ketika aktivitas ekstraksi menurun.

Tanjung Enim berada di antara dua pengalaman itu. PTBA masih memiliki produksi batu bara dalam skala puluhan juta ton. Pada saat yang sama, perusahaan menyiapkan DME, metanol, energi terbarukan dan pemanfaatan lahan pascatambang sebagai sumber pertumbuhan berikutnya.

DME memberi batu bara rantai nilai baru. Satu ton batu bara tidak lagi dihitung hanya berdasarkan nilai jual komoditas. Ia menjadi bahan baku proses gasifikasi, metanol dan DME, lalu masuk ke rantai distribusi energi domestik.

Lahan pascatambang juga tidak berhenti sebagai lahan reklamasi. Botanical Garden, fasilitas wisata dan ruang ekonomi masyarakat memberi fungsi baru pada kawasan yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas ekstraksi. Dua arah itu menentukan bentuk ekonomi Tanjung Enim setelah dominasi batu bara berkurang.

Hilirisasi membutuhkan teknologi, modal, pasar dan industri pendukung. Pascatambang membutuhkan lahan yang produktif, tenaga kerja baru, usaha masyarakat dan pasar yang mampu menyerap aktivitas ekonomi.

China sudah melewati sebagian perjalanan pertama. Sawahlunto sudah menjalani sebagian perjalanan kedua. Tanjung Enim masih memiliki waktu untuk mempelajari keduanya.

Batu bara yang keluar dari bumi tidak harus berhenti sebagai komoditas. Ia dapat menjadi bahan bakar, bahan industri, pengetahuan, pekerjaan dan rantai usaha.

Ketika cadangan suatu hari berkurang, yang tersisa bukan hanya lubang bekas tambang. Yang tersisa adalah industri yang sudah dibangun, manusia yang sudah memiliki keahlian, usaha masyarakat yang sudah tumbuh dan kawasan yang telah memiliki fungsi baru.

Dari bumi, nilainya diperpanjang. Dari batu bara, kedaulatan energi sedang dicari.

Load More