- BMKG melaporkan konsentrasi PM2.5 di Musi 2 Palembang mencapai kategori sangat tidak sehat pada Minggu, 13 September 2026.
- Sumatera Selatan tercatat masih menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla nasional dengan terdeteksinya 120 hotspot pada 5 September 2026.
- Warga Palembang harus terus beraktivitas di tengah kabut asap karena kualitas udara berulang kali memburuk dan tidak sehat.
SuaraSumsel.id - Angka kualitas udara di Palembang kembali berubah. Namun, bagi warga yang setiap hari harus beraktivitas di tengah kabut dan bau asap, persoalannya tampaknya tidak pernah benar-benar pergi.
Hari berganti, angka PM2.5 memang bisa turun. Tetapi dalam beberapa pekan terakhir, kualitas udara Palembang berulang kali kembali masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Pertanyaannya, sampai kapan warga Palembang harus terus menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara yang seharusnya tidak mereka hirup?
Aktivis Rawang, Zelvan Ramadhan, menegaskan udara bersih bukan sekadar kebutuhan, melainkan hak setiap warga negara yang wajib dijamin negara. Menurutnya, hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat telah diamanatkan dalam Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 serta diperkuat dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
“Udara bersih bukan kemewahan. Udara bersih adalah hak warga negara. Kami sudah membeli air ketika air bersih sulit didapat. Lalu sekarang, bagaimana dengan udara? Sampai kapan warga harus membeli masker sendiri, berobat sendiri, dan menanggung dampak asap sendiri?” ujar Zelvan Ramadhan.
Zelvan menilai kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang membuat hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang sehat semakin jauh dari kenyataan. Ia menegaskan, warga tidak seharusnya terus menanggung sendiri dampak kabut asap yang mengancam kesehatan. “Udara bersih adalah hak. Memastikan hak itu terpenuhi adalah tanggung jawab negara,” katanya.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi PM2.5 di Musi 2 Palembang pada Minggu, 13 September 2026, sempat mencapai 152,2 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Pada pembaruan pukul 12.00 WIB, konsentrasi PM2.5 turun menjadi 67,7 mikrogram per meter kubik. Meski membaik dibandingkan pagi hari, kondisi tersebut masih masuk kategori tidak sehat.
Penurunan angka dalam hitungan jam memang dapat menjadi kabar baik. Namun, sulit mengatakan persoalan telah selesai ketika kualitas udara Palembang dalam beberapa hari terakhir terus berada di level yang mengkhawatirkan.
Baca Juga: Kronologi Pasutri Palembang Diduga Kunci Pria di Kamar Mandi, Motor dan 3 HP Raib
Pada 10 September 2026, konsentrasi PM2.5 di Musi 2 Palembang juga mencapai 122,7 mikrogram per meter kubik dan menjadi salah satu yang tertinggi di wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Sebelumnya, kualitas udara Palembang juga berulang kali masuk kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan. Artinya, persoalan yang dihadapi bukan sekadar satu angka tinggi pada satu pagi.
Yang terjadi adalah kondisi udara yang terus berubah dari tidak sehat menjadi sangat tidak sehat, kemudian turun, tetapi kembali memburuk.
Warga Tidak Bisa Terus Menunggu Angka Membaik
Di tengah kondisi seperti ini, masyarakat menjadi pihak yang paling langsung merasakan dampaknya. Anak-anak tetap harus belajar. Pekerja tetap harus berangkat. Pedagang dan pengemudi tetap mencari penghasilan di luar ruangan.
Ketika kualitas udara memburuk, pilihan untuk tinggal di dalam rumah tidak selalu tersedia bagi semua orang. Karena itu, persoalan kualitas udara seharusnya tidak berhenti pada informasi bahwa PM2.5 hari ini naik atau turun.
Tag
Berita Terkait
-
Kronologi Pasutri Palembang Diduga Kunci Pria di Kamar Mandi, Motor dan 3 HP Raib
-
Bulan Literasi Keuangan, OVO Finansial dan OJK Dorong UMKM Palembang Naik Kelas lewat Teras Perwira
-
Paket Pernikahan Ciatok di Wyndham Opi Hotel Palembang Mulai Rp4,8 Juta per Meja
-
Media Gathering JNE Palembang, Saat Logistik Jadi Jalan UMKM Menjangkau Pasar Lebih Luas
-
Kabut Asap Makin Pekat, ISPA di Palembang Tembus 113 Ribu Kasus
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Saat Karhutla Mengancam Sumsel, Generasi Muda Lintas Agama Diajak Turun Tangan
-
Besok Sekolah Palembang Masuk atau Masih Daring? Ini Patokan ISPU untuk Tatap Muka
-
Dukung Tumbuh Kembang Anak Sungai Rebo, Kilang Plaju Salurkan PMT di Posyandu Asparagus
-
Suahasil Gantikan Purbaya, Pemprov Sumsel Berharap Kebijakan Fiskal Daerah Kembali seperti Semula
-
Kabut Asap Palembang, KAI Bagikan 2.800 Masker untuk Lindungi Pekerja Operasional