- BMKG melaporkan konsentrasi PM2.5 di Musi 2 Palembang mencapai kategori sangat tidak sehat pada Minggu, 13 September 2026.
- Sumatera Selatan tercatat masih menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla nasional dengan terdeteksinya 120 hotspot pada 5 September 2026.
- Warga Palembang harus terus beraktivitas di tengah kabut asap karena kualitas udara berulang kali memburuk dan tidak sehat.
Yang lebih penting adalah bagaimana kondisi tersebut benar-benar dikendalikan agar warga tidak terus menjalani aktivitas dengan kekhawatiran menghirup udara tercemar.
Sumsel Masih Jadi Perhatian Karhutla
Kondisi ini juga tidak dapat dipisahkan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Data Kementerian Kehutanan sebelumnya menunjukkan Sumatera Selatan masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla. Pada 5 September 2026, masih terdeteksi 120 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumsel. Jumlah tersebut memang turun dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 165 titik. Namun, angka itu tetap menempatkan Sumatera Selatan sebagai salah satu wilayah dengan jumlah hotspot tinggi secara nasional.
Penurunan titik panas tentu penting. Tetapi bagi warga Palembang, pertanyaan utamanya bukan hanya apakah jumlah hotspot turun.
Yang ingin dirasakan masyarakat adalah udara yang benar-benar kembali aman untuk dihirup.
Jangan Sampai Warga Hanya Diminta Beradaptasi
Selama ini, ketika kualitas udara memburuk, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan diri jika harus beraktivitas.
Imbauan itu penting. Namun, persoalan udara tidak sehat tidak bisa hanya dibebankan kepada kemampuan warga untuk beradaptasi. Sebab, tidak semua orang memiliki pilihan untuk bekerja dari rumah atau menghentikan aktivitas ketika udara memburuk.
Kondisi kualitas udara Palembang dalam beberapa pekan terakhir seharusnya menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla dan pengendalian dampak asap membutuhkan hasil yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Baca Juga: Kronologi Pasutri Palembang Diduga Kunci Pria di Kamar Mandi, Motor dan 3 HP Raib
Bukan hanya penurunan angka di atas laporan. Sebab selama kualitas udara masih berulang kali masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, pertanyaan yang sama akan terus muncul: Sampai kapan warga Palembang harus menghirup udara seperti ini.
Tag
Berita Terkait
-
Kronologi Pasutri Palembang Diduga Kunci Pria di Kamar Mandi, Motor dan 3 HP Raib
-
Bulan Literasi Keuangan, OVO Finansial dan OJK Dorong UMKM Palembang Naik Kelas lewat Teras Perwira
-
Paket Pernikahan Ciatok di Wyndham Opi Hotel Palembang Mulai Rp4,8 Juta per Meja
-
Media Gathering JNE Palembang, Saat Logistik Jadi Jalan UMKM Menjangkau Pasar Lebih Luas
-
Kabut Asap Makin Pekat, ISPA di Palembang Tembus 113 Ribu Kasus
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla
-
Sopir Logistik Diminta Setop Masuk Empat Lawang, Ada Cerita Perampokan Pukul 05.00 WIB
-
Thai Street Buka Outlet Terluas di Indonesia di Palembang Icon Mall, Ada Tom Yum hingga Mango Sticky
-
PBB IGM Palembang Menunggak Rp2,33 Miliar, Bapenda dan Yayasan Beda Pandangan soal Status Nirlaba
-
438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?