Tasmalinda
Rabu, 26 Agustus 2026 | 17:07 WIB
proses water boombing yang dilakukan BNPB saat terjadi karhutla
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo membatalkan penambahan helikopter water bombing di Sumatera Selatan karena sisa lahan terbakar tinggal 200 hektare.
  • Pemerintah pusat mengalihkan dukungan penanganan karhutla dengan mengirimkan 500 mesin pompa, selang, dan 100 motor trail.
  • Biaya operasional satu helikopter water bombing mencapai Rp100 juta per jam yang ditanggung pemerintah pusat melalui BNPB.

SuaraSumsel.id - Memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari udara bukan pekerjaan murah. Biaya operasional satu helikopter water bombing disebut dapat mencapai lebih dari Rp100 juta per jam.

Angka tersebut disampaikan Kepala Pelaksana BPB-PK Kalimantan Tengah Ahmad Toyib pada Agustus 2026. Menurutnya, satu helikopter yang terbang selama enam hingga tujuh jam sehari dapat menelan biaya sekitar Rp600 juta hingga Rp700 juta per hari. Biaya tersebut ditanggung pemerintah pusat melalui BNPB.

Angka itu menjadi menarik jika dibawa ke Sumatera Selatan. Dalam rapat koordinasi yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Palembang, Senin (24/8/2026), Sumsel meminta tambahan kekuatan udara untuk menghadapi karhutla.

Namun, keputusan tersebut ternyata berubah.

Dalam laporan awal kepada Presiden, BPBD Sumsel menyebut dukungan operasi udara terdiri dari dua helikopter patroli dan lima helikopter water bombing. Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M. Iqbal Alisyahbana juga melaporkan luas lahan terbakar hingga 23 Agustus mencapai 1.926 hektare.

Dalam rapat itu, kebutuhan tambahan helikopter water bombing sempat disampaikan kepada Prabowo. Tetapi setelah Gubernur Sumsel Herman Deru memberikan pembaruan, situasinya ternyata berbeda.

Deru melaporkan luas lahan yang masih terbakar saat rapat tinggal sekitar 200 hektare, jauh lebih kecil dibanding total lahan yang telah terbakar sepanjang Januari-Juli yang mencapai sekitar 1.900 hektare.

Prabowo kemudian memutuskan membatalkan pengiriman tambahan satu helikopter water bombing karena menilai lima helikopter yang tersedia sudah cukup untuk menangani sisa kebakaran tersebut.

Perubahan keputusan itu dikira penting. Sebab, jika tambahan helikopter tetap dikirim, negara tentu harus menanggung biaya operasi tambahan. Namun, karena kebutuhan dinilai sudah berkurang, Presiden memilih mengalihkan dukungan ke peralatan lain.

Baca Juga: Dalam 4 Jam PM2.5 Palembang Melonjak 3 Kali Lipat, Begini Kondisi Terbarunya

Berapa Besar Kalau Helikopter Tetap Ditambah?

Di sinilah angka Rp100 juta per jam bisa digunakan sebagai simulasi, bukan sebagai angka realisasi anggaran Sumsel. Jika satu helikopter tambahan beroperasi enam jam sehari dengan biaya sekitar Rp100 juta per jam, maka kebutuhan operasionalnya secara kasar mencapai Rp600 juta per hari.

Jika beroperasi tujuh jam tentu akan Rp700 juta per hari, sehingga dalam 10 hari, simulasi tersebut menjadi sekitar Rp6–7 miliar untuk satu helikopter.

Tetapi angka itu tidak berarti negara benar-benar mengeluarkan Rp6–7 miliar untuk Sumsel, karena tambahan helikopter tersebut akhirnya dibatalkan. Selain itu, tarif aktual setiap armada dapat berbeda tergantung jenis helikopter, kontrak, mobilisasi, jam terbang dan komponen operasional lainnya.

Justru keputusan pembatalan itulah yang membuat perhitungan biaya menjadi menarik.

Lima Helikopter Bisa Bawa 1.200 Ton Air Sehari

Load More