Tasmalinda
Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:44 WIB
Kualitas udara di Kota Palembang memburuk tajam akibat kabut asap karhutla pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Baca 10 detik
  • Kualitas udara di Kota Palembang memburuk tajam akibat kabut asap karhutla pada Selasa, 25 Agustus 2026.
  • Konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 sempat mencapai kategori berbahaya sebesar 285,3 mikrogram per meter kubik.
  • Pemerintah Kota Palembang menyiapkan puskesmas siaga dan BMKG mengimbau kelompok rentan membatasi aktivitas luar ruangan.

SuaraSumsel.id - Kualitas udara di Kota Palembang sempat memburuk tajam pada Selasa (25/8/2026). Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Stasiun Musi 2 bahkan mencapai 285,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dan masuk kategori berbahaya.

Data pemantauan BMKG menunjukkan kenaikan konsentrasi PM2.5 terjadi dalam waktu relatif singkat. Pada pukul 14.00 WIB, angkanya masih berada di 91,5 µg/m³.

Konsentrasi kemudian meningkat menjadi 126,5 µg/m³ pada pukul 15.00 WIB dan 213,8 µg/m³ satu jam berikutnya.

Kondisi semakin memburuk pada pukul 17.00 WIB ketika PM2.5 mencapai 280,1 µg/m³. Angka tersebut kembali naik menjadi 285,3 µg/m³ pada pukul 18.00 WIB.

Berdasarkan klasifikasi BMKG, konsentrasi PM2.5 di atas 250,5 µg/m³ masuk kategori berbahaya. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama.

Dua jam kemudian, konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 turun cukup drastis menjadi 71,9 µg/m³ pada pukul 20.00 WIB. Meski jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya, angka tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat.

Kualitas udara masih perlu diwaspadai

Pemantauan kualitas udara melalui IQAir yang diperbarui pada pukul 22.01 WIB juga menunjukkan kondisi yang belum sepenuhnya membaik.

Indeks kualitas udara (AQI) Palembang tercatat 164 AQI-US, dengan status tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 berada di angka 83 µg/m³, sementara PM10 mencapai 220 µg/m³.

Baca Juga: Bukan Cuma Kabut Asap, 3 Kecamatan Palembang Kini Krisis Air Bersih

IQAir juga mencatat kondisi cuaca di Palembang berupa smoky haze atau kabut asap.

Meski angka dari BMKG dan IQAir berbeda, keduanya menunjukkan kondisi udara Palembang masih perlu mendapat perhatian. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena sistem indeks, sumber data, maupun lokasi pemantauan yang berbeda.

Palembang masih terdampak kabut asap

Buruknya kualitas udara tersebut terjadi ketika Palembang masih diselimuti kabut asap akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Sebelumnya, BMKG menyebut kualitas udara Palembang berada pada level tidak sehat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh asap karhutla yang terbawa ke wilayah perkotaan.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengingatkan masyarakat, terutama kelompok rentan, agar membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Load More