Tasmalinda
Minggu, 02 Agustus 2026 | 19:26 WIB
Focus Group Discussion (FGD) "Kaidah Langgam Irama Tembang Batanghari Sembilan Masyarakat Melayu Sumatera Selatan" yang digelar di Pascasarjana UIN Raden Fatah
Baca 10 detik
  • Wanda Lesmana menggelar FGD riset disertasi di UIN Raden Fatah Palembang pada 1 Agustus 2026.
  • Penelitian tersebut merumuskan kaidah baku Tembang Batanghari Sembilan guna mengatasi kurangnya dokumentasi serta ancaman modernisasi.
  • Hasil penelitian berfungsi sebagai rujukan akademik untuk melestarikan identitas budaya dan nilai Islam masyarakat Melayu Sumsel.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan ruang pertunjukan, dari lingkungan agraris dan kawasan sungai menuju festival budaya, media digital, hingga industri kreatif, memperkaya bentuk ekspresi Tembang Batanghari Sembilan. Namun, perubahan tersebut juga berpotensi menggeser bentuk aslinya apabila tidak disertai pedoman yang jelas.

Menjaga Identitas Budaya Melayu Sumsel
Bagi masyarakat Melayu, Tembang Batanghari Sembilan bukan sekadar seni pertunjukan. Syair-syairnya mengandung nilai tauhid, akidah, akhlak, dan adab yang menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus media dakwah kultural.

Melalui penelitian ini, Wanda juga merumuskan strategi pelestarian yang berlandaskan falsafah Melayu "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah", sehingga pewarisan budaya tidak hanya mempertahankan bentuk keseniannya, tetapi juga menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Ia berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi rujukan bagi dunia pendidikan, penelitian, dokumentasi, hingga proses regenerasi para penutur, sehingga Tembang Batanghari Sembilan tetap hidup sebagai salah satu identitas penting masyarakat Melayu Sumatera Selatan.

Load More