- Seorang pelari pria mengenakan gandik pada acara Ramadhan Run Palembang, memicu perhatian publik dan perbincangan luas.
- Budayawan Palembang menegaskan bahwa gandik adalah atribut khusus perempuan, sementara laki-laki menggunakan tanjak dalam tradisi Melayu.
- Fenomena ini menyoroti perlunya edukasi mengenai penggunaan atribut budaya agar makna simbol tradisional tetap terjaga.
SuaraSumsel.id - Sebuah pemandangan tak biasa muncul di Ramadhan Run Palembang—pelari pria mengenakan gandik, atribut yang selama ini identik dengan perempuan. Momen ini sontak menyita perhatian, bukan hanya di lokasi acara, tetapi juga memicu perbincangan luas di tengah masyarakat.
Di tengah suasana Ramadan yang hangat dan penuh kebersamaan, detail kecil itu justru berubah menjadi sorotan besar. Sebagian peserta dan penonton mungkin melihatnya sebagai bentuk kreativitas atau cara memeriahkan acara. Namun di sisi lain, kalangan budayawan menilai fenomena ini tidak bisa dianggap sepele.
Dalam tradisi Melayu Palembang, gandik merupakan hiasan kepala yang secara khusus dikenakan oleh perempuan. Sementara laki-laki memiliki atribut tersendiri, yakni tanjak. Perbedaan ini bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari simbol dan identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Budayawan Palembang, Vebri Alintani, menegaskan bahwa penggunaan atribut adat perlu disertai pemahaman yang tepat agar tidak terjadi kekeliruan makna.
“Gandik itu penutup kepala untuk perempuan, biasanya dikenakan oleh wanita. Untuk laki-laki, penutup kepala tradisionalnya adalah tanjak,” ujar Vebri.
Menurutnya, fenomena ini menunjukkan masih adanya kekurangan edukasi terkait penggunaan atribut budaya, terutama ketika unsur tradisi dihadirkan dalam kegiatan modern seperti event olahraga.
Reaksi pun bermunculan. Sejumlah budayawan mengecam penggunaan gandik oleh pelari pria karena dinilai berpotensi mengaburkan nilai-nilai budaya yang selama ini dijaga. Mereka mengingatkan bahwa simbol budaya tidak bisa dilepaskan dari konteks dan peruntukannya.
Di sisi lain, Ramadhan Run tetap berlangsung meriah. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, dengan warga yang memadati sepanjang rute untuk menyaksikan para peserta berlari di malam hari. Event ini pun menjadi bagian dari semarak Ramadan di Kota Palembang.
Namun di balik kemeriahan tersebut, diskusi tentang budaya justru menjadi lebih mencuat. Fenomena ini membuka ruang refleksi yang lebih luas: ketika budaya dibawa ke ruang publik modern, apakah maknanya masih dijaga, atau justru mengalami pergeseran?
Baca Juga: Sinergi Bank Sumsel Babel dalam Mudik Gratis 1447 H, Perkuat Layanan Publik untuk Masyarakat
Bagi banyak pihak, kejadian ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar atribut visual. Ia adalah identitas yang mengandung nilai, sejarah, dan makna yang tidak bisa dipisahkan begitu saja.
Ramadhan Run mungkin hanya berlangsung satu malam, tetapi perbincangan tentang gandik dan tanjak berpotensi berlangsung lebih lama. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa menjaga budaya bukan hanya soal melestarikan bentuknya, tetapi juga memahami makna di baliknya.
Berita Terkait
-
Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Rp10 Miliar, Wajah Baru atau Sekadar Percantik Kota?
-
Tak Sekadar Narik, Ratusan Driver Ojol Palembang Turun ke Jalan Bagikan Takjil Gratis
-
Imsak dan Buka Puasa Palembang 18 Maret 2026, Catat Batas Sahur dan Jam Magrib Hari Ini
-
Imsak Palembang Hari Ini 17 Maret 2026, Jangan Sampai Terlewat Batas Sahur
-
Promo Alfamart Sumsel! 7 Paket Snack Mudik Murah, Ada Tango dan Marjan Hanya Rp40 Ribuan
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Peran Strategis dalam TPKAD Award 2026 Lewat Program Sultan Muda
-
Direktur Bus ALS Jadi Tersangka, Kasus Kecelakaan 19 Korban Naik ke Tahap Penyidikan
-
Bahlil Ngaku IPK Kuliahnya 2,75, Candaan soal Gelar Doktor Bikin Peserta Musda Tertawa
-
Beruang Liar Ngamuk di Muratara, Dua Petani Karet Diserang Berturut-turut
-
BRI Dukung Transformasi PMI di Taiwan Menjadi Wirausaha Produktif