- ASETI cabang Sumsel dikukuhkan 1 Desember 2025 untuk mengembalikan arah seni tari tradisional dari kekeliruan praktik pertunjukan.
- Organisasi ini fokus standarisasi gerak, busana, dan filosofi tari ikonik Sumsel seperti Gending Sriwijaya dan tari tradisional lainnya melalui edukasi.
- ASETI berupaya menjembatani tari tradisi dengan modernitas serta merencanakan pembentukan cabang di seluruh wilayah Sumsel.
SuaraSumsel.id - ASETI atau Asosiasi Seniman Tari Indonesia hadir sebagai lembaga yang berupaya mengembalikan arah seni tari tradisional di Sumatera Selatan (Sumsel). Di tengah pergeseran pakem dan semakin seringnya kekeliruan dalam praktik pertunjukan, ASETI memposisikan diri sebagai penjaga gerak, estetika, dan nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
ASETI cabang Sumsel resmi dikukuhkan pada 1 Desember 2025 di Jakarta. Di bawah kepemimpinan Nik Cik Ali, A.Md sebagai Ketua Harian dan Hj Nina Marliana sebagai Ketua Umum, organisasi ini menjadi rumah bagi penari, pelatih, koreografer, dan pemerhati seni tari yang memiliki kepedulian untuk mengembalikan marwah tari Sumsel pada jati dirinya.
Saat ini, tari-tari ikonik Sumsel seperti Gending Sriwijaya, Tanggai, dan sejumlah tari tradisi lainnya kerap tampil dengan berbagai kekeliruan. Kesalahan penempatan busana, perubahan gerak tanpa pemahaman filosofi, hingga penempatan tarian sakral di konteks acara yang tidak tepat menjadi pemandangan yang semakin sering ditemui. Akibatnya, nilai luhur dan makna simbolik yang seharusnya melekat pada setiap tarian perlahan memudar.
Situasi inilah yang mendorong ASETI mengambil peran strategis. Organisasi ini hadir untuk menjaga dan melestarikan tari tradisional agar kembali berpijak pada nilai dasar dan pakem yang seharusnya. Peran utama ASETI terletak pada upaya pemulihan dan pelestarian, mulai dari standarisasi gerak, struktur penampilan, hingga tata busana adat sesuai kaidah yang diwariskan para leluhur.
Lebih dari sekadar menjaga bentuk, ASETI juga menempatkan edukasi sebagai fondasi utama. Para penari, pelatih sanggar, dan koreografer diajak kembali memahami bahwa setiap lengkung tangan, langkah kaki, hingga atribut adat bukanlah sekadar ornamen estetika, melainkan simbol sejarah dan identitas budaya yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
“ASETI ingin menjadi wadah bagi seniman yang sungguh-sungguh menjaga budaya. Kami hadir untuk merawat tradisi serta memastikan masyarakat memahami dan menghargai kembali warisan ini,” tegas Ketua Umum ASETI Sumsel, Hj Nina Marliana.
Ia menegaskan bahwa ASETI terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan berkontribusi, tidak hanya bagi penari tradisional, tetapi juga mereka yang ingin mengenali identitas budaya Sumsel melalui seni tari.
Secara nasional, ASETI bukanlah organisasi baru. Berdiri sejak 2017, ASETI merupakan organisasi profesi seniman tari pertama di Indonesia yang bergerak independen dengan semangat perserikatan. ASETI lahir untuk memperjuangkan kesetaraan profesi seniman tari dengan profesi lain, sekaligus memastikan hak, kompetensi, dan seniman tari mendapat pengakuan yang layak. Visi tersebut diterjemahkan melalui berbagai program strategis, mulai dari peningkatan profesionalisme, pembangunan basis data pelaku tari, hingga advokasi kebijakan yang berpihak pada seniman.
Di tingkat nasional, ASETI telah mencatat berbagai capaian penting, termasuk penyelenggaraan Musyawarah Nasional Seniman Tari pertama, perumusan dokumen strategis kebudayaan, keterlibatan dalam penyusunan Pedoman Protokol Seni Pertunjukan, hingga Peta Okupasi Nasional Bidang Tari yang memetakan puluhan peluang karier di dunia tari.
Baca Juga: Haru dari Hutan Sumsel: Bayi Gajah Betina Lahir Sehat, Mama Ronika Setia Mendampingi
Sejumlah gerakan seperti Hari Tari Indonesia, program tari inklusi, hingga penciptaan karya inovatif juga memperkuat posisi ASETI sebagai mitra strategis pemajuan kebudayaan.
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan ASETI Sumsel ke dalam konteks lokal. Selain menjaga pakem, ASETI berupaya membawa tari tradisi kembali dekat dengan masyarakat. Melalui kelas tari, pelatihan, dan kegiatan komunitas, seni tari diperkenalkan bukan sebagai sesuatu yang eksklusif, melainkan sebagai praktik budaya yang elegan, bermakna, dan relevan dengan kehidupan masa kini. Tradisi diperlakukan bukan sebagai artefak masa lalu, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup budaya yang hidup.
ASETI juga memainkan peran sebagai jembatan kolaborasi. Penari yang datang dari latar belakang tari modern, termasuk dance sport dan lainnya, dirangkul dan diarahkan untuk mengenal dasar-dasar tari tradisional. Pendekatan ini membangun ekosistem seni tari Sumsel yang tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dan saling menguatkan antara tradisi dan modernitas.
Komitmen ASETI Sumsel semakin nyata melalui rencana pembentukan cabang di seluruh kota dan kabupaten di Sumatera Selatan. Langkah ini bertujuan agar pembinaan budaya tidak hanya terpusat di Palembang, tetapi menjangkau akar komunitas sanggar, sekolah, pelatih lokal, hingga penari muda di daerah. Setiap cabang diharapkan menjadi ruang edukasi, pengembangan, sekaligus pengawasan tradisi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Dalam waktu dekat, ASETI juga akan menggelar tari massal sebagai bagian dari rangkaian pelantikan. Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi pernyataan simbolis bahwa tari tradisional harus kembali hadir di ruang publik, dirayakan bersama, dan ditempatkan sebagai sumber kebanggaan daerah.
ASETI bukan sekadar organisasi, melainkan penggerak kebangkitan seni tari Sumatera Selatan. ASETI menghidupkan tradisi, membenahi pakem, estetika, dan memastikan warisan leluhur tetap berdenyut di tengah laju zaman modern.
Tag
Berita Terkait
-
Misteri Si Pahit Lidah di Sumsel: Benarkah Kutukannya Mengubah Manusia Jadi Batu?
-
Baru Tahu? 7 Jalan di Palembang Ini Diambil dari Nama Pahlawan
-
Bukan Sekadar Gambar di Uang Rp10 Ribu, Begini Kisah Rumah Limas yang Jadi Ikon Palembang
-
Belajar Bahasa Palembang untuk Pemula: 10 Kata Unik Bikin Kamu Cepat Jadi Wong Kito
-
Menyelami Kekayaan Budaya Sumatera Selatan: Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
12 Kali Raih WTP, Mengapa BPK Masih Minta Sumsel Benahi Sejumlah Hal?
-
Puasa 1 Muharram, Sunnah atau Sekadar Tradisi? Ini Niat dan Penjelasan Ulama
-
Korban Terus Bertambah, Dugaan Penipuan Rp1,4 Miliar yang Seret Ibu Bhayangkari Bikin Heboh
-
PTBA Uji Biomassa Kaliandra Merah untuk Kurangi Emisi Karbon dan Dukung Transisi Energi
-
Terbang ke Kuala Lumpur Kini Lebih Mudah, AirAsia Tambah Penerbangan dari Palembang