Tasmalinda
Rabu, 29 Juli 2026 | 17:35 WIB
desa wisata Penglipuran Bali
Baca 10 detik
  • Desa Penglipuran di Bali sukses mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat sejak awal 1990-an hingga menghasilkan pendapatan besar.
  • Pemerintah Sumatera Selatan mengelola sekitar 150 desa wisata untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.
  • Pengembangan desa wisata harus berpusat pada masyarakat dan budaya agar mendatangkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

Filosofi itu menjadi pembeda Penglipuran. Desa ini tidak hanya mengundang wisatawan datang, tetapi memberi alasan bagi mereka untuk tinggal lebih lama. Semakin panjang waktu yang dihabiskan wisatawan di desa, semakin banyak aktivitas yang dapat diikuti, mulai dari belajar budaya, menikmati kuliner, hingga menginap di rumah warga. Di titik itulah manfaat ekonomi mulai menyebar ke masyarakat.

perbandingan lama wisatawan tinggal di Bali dan Sumatera Selatan

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan rata-rata lama menginap tamu hotel di Sumatera Selatan masih berada di kisaran 1,4 malam, lebih rendah dibandingkan Bali yang mencapai sekitar 2,87 malam. Selisih itu mungkin tampak kecil, tetapi dalam ekonomi pariwisata setiap tambahan malam berarti bertambah pula peluang masyarakat memperoleh penghasilan dari akomodasi, kuliner, transportasi lokal, hingga produk kerajinan.

Perbedaan lama tinggal wisatawan menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur dampak ekonomi pariwisata. Semakin lama wisatawan berada di sebuah destinasi, semakin besar peluang mereka membelanjakan uangnya untuk akomodasi, kuliner, kerajinan, maupun aktivitas budaya yang dikelola masyarakat.

Selisih sekitar satu setengah malam mungkin terlihat sederhana. Namun, tambahan waktu tersebut menciptakan lebih banyak ruang bagi perputaran ekonomi lokal. Wisatawan yang menginap lebih lama cenderung mengikuti lebih banyak aktivitas, menikmati kuliner, membeli suvenir, serta menggunakan jasa masyarakat setempat.

Penglipuran menunjukkan bahwa memperpanjang lama tinggal tidak selalu dilakukan dengan membangun atraksi baru yang megah. Menghidupkan pengalaman berbasis budaya dan melibatkan masyarakat justru menjadi cara yang membuat wisatawan memiliki alasan untuk menetap lebih lama.

alokasi anggaran kegiatan wisata di desa wisata

Besarnya manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya ditentukan oleh jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga oleh banyaknya aktivitas yang mereka lakukan selama berada di destinasi tersebut. Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar peluang pengeluaran mereka mengalir ke masyarakat melalui akomodasi, kuliner, produk kerajinan, hingga jasa budaya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan rata-rata pengeluaran wisatawan nusantara mencapai sekitar Rp2,4 juta setiap perjalanan. Pengeluaran tersebut mencakup biaya transportasi, akomodasi, makan dan minum, serta belanja oleh-oleh. Karena itu, memperpanjang lama tinggal wisatawan menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi tanpa harus terus mengejar kenaikan jumlah kunjungan.

Pengalaman Penglipuran memberikan gambaran bagaimana strategi tersebut dijalankan. Desa ini tidak membangun atraksi yang sepenuhnya baru, melainkan mengembangkan aktivitas yang berangkat dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pendekatan serupa sesungguhnya mulai dibangun di Sumatera Selatan.

Baca Juga: Sebelum Tragedi Bali, Deretan Kasus Main Hakim Sendiri di Sumsel Sudah Berulang Kali Terjadi

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bidang Destinasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan Vita Sandra menjelaskan terdapat 150 desa wisata yang dipromosikan ke tingkat nasional sampai dengan tahun 2025.

Menurutnya, pengembangan desa wisata diarahkan untuk memberdayakan masyarakat agar mampu mengelola potensi wisata di daerahnya sendiri. Pemerintah provinsi juga melakukan promosi, pendampingan, dan pelatihan bagi pelaku desa wisata serta UMKM sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

Jika Penglipuran membutuhkan lebih dari tiga dekade untuk membangun ekosistem wisata berbasis masyarakat, Sumatera Selatan sesungguhnya sedang memulai perjalanan yang serupa. Tantangannya bukan lagi sekadar menambah jumlah desa wisata, melainkan memastikan setiap desa memiliki alasan yang cukup kuat agar wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga tinggal lebih lama dan meninggalkan lebih banyak manfaat bagi masyarakat.

Pengalaman Penglipuran juga memperlihatkan bahwa keberhasilan desa wisata lahir dari kolaborasi yang berjalan dalam keseharian. Pemerintah menghadirkan regulasi, promosi, dan pendampingan, sementara masyarakat menghidupkan desa melalui homestay, warung makan, penyewaan pakaian adat, kerajinan, hingga atraksi budaya. Ketika masing-masing menjalankan perannya, pariwisata tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga.

Semangat itu pula yang ingin diperkuat di Sumatera Selatan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Rudi Irawan, mengatakan pemerintah terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai komunitas, organisasi, dan pelaku budaya untuk memperkuat sektor pariwisata. Menurutnya, budaya merupakan kekuatan utama yang dimiliki Sumatera Selatan dan perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor.

"Budaya merupakan kekuatan utama pariwisata Sumatera Selatan yang perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor," ujar Rudi kepada Suara.com, (29/7/2026).

Load More