- Harapan Kita Institute (HAKI) memperingatkan potensi kerusakan ekologis Sungai Musi akibat aktivitas angkutan batubara.
- Ceceran batubara dan operasional kapal berisiko meningkatkan kekeruhan air serta menurunkan kadar oksigen terlarut.
- HAKI mendesak pemerintah memperkuat pengawasan jalur logistik guna melindungi kualitas air dan kesehatan masyarakat Palembang.
SuaraSumsel.id - Dari tepian Benteng Kuto Besak hingga kawasan hilir Banyuasin, Sungai Musi tak pernah benar-benar sepi. Sejak pagi, kapal tunda menarik tongkang-tongkang bermuatan batubara menyusuri aliran sungai yang selama berabad-abad menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Sumatera Selatan.
Di sungai inilah nelayan mencari ikan. Airnya menjadi sumber bahan baku air bersih bagi jutaan warga. Di sepanjang bantarannya tumbuh permukiman, pelabuhan, hingga pusat perdagangan yang menjadikan Musi sebagai denyut ekonomi Palembang.
Namun, di balik lalu lintas logistik yang semakin padat, muncul pertanyaan yang mulai sering disuarakan pegiat lingkungan: seberapa besar beban ekologis yang kini harus ditanggung Sungai Musi?
Momentum Hari Sungai Nasional dimanfaatkan Hutan Kita Institute (HAKI) dan "Sumsel Bersih" untuk mengingatkan bahwa aktivitas angkutan batubara perlu diawasi lebih ketat agar tidak mengorbankan fungsi ekologis sungai.
Juru Kampanye Sumsel Bersih, Bonifasius Ferdinandus Bangun mengungkapkan menyoroti potensi ceceran batubara (coal spillage) saat proses bongkar muat maupun pelayaran tongkang.
"Serpihan batu bara yang jatuh ke sungai berpotensi meningkatkan Total Suspended Solids (TSS) atau padatan tersuspensi. Jika kondisi ini terus terjadi, air menjadi lebih keruh sehingga cahaya matahari lebih sulit menembus kolom air, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kehidupan organisme akuatik," ujarnya.
HAKI juga mengingatkan bahwa endapan material padat dalam jangka panjang berpotensi mempercepat pendangkalan di sejumlah titik sungai.
Persoalan lingkungan, menurut HAKI, tidak berhenti pada ceceran batubara. Operasional kapal tunda dan tongkang juga dinilai memiliki risiko kebocoran bahan bakar maupun pelumas. Jika terjadi, lapisan minyak yang terbentuk di permukaan air dapat mengganggu pertukaran oksigen antara udara dan air.
Organisasi tersebut menyebut kondisi itu berpotensi menurunkan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) yang dibutuhkan ikan dan biota air lainnya untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Ekosida Peradaban Air Sumsel, Ketika Lahan Basah Tak Lagi Menjadi Ruang Hidup
Selain itu, HAKI mengingatkan perlunya pengawasan terhadap kemungkinan masuknya logam berat maupun senyawa hidrokarbon ke perairan apabila terjadi pencemaran.
Bagi masyarakat Palembang, Sungai Musi bukan sekadar bentang alam. Air sungai ini menjadi salah satu sumber bahan baku air bersih yang kemudian diolah sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Karena itu, menurut HAKI, peningkatan kekeruhan air dapat membuat proses pengolahan menjadi lebih kompleks dan membutuhkan biaya yang lebih besar.
"Perlindungan kualitas Sungai Musi harus dipandang sebagai bagian dari perlindungan terhadap kesehatan masyarakat sekaligus keberlanjutan ekosistem. HAKI mendorong pemerintah memperkuat pengawasan terhadap jalur logistik batubara, mengevaluasi potensi sumber pencemaran, dan menindak pelaku yang terbukti melanggar ketentuan lingkungan," sambung Bangun.
Bagi organisasi itu, Sungai Musi bukan hanya jalur distribusi komoditas, tetapi juga ruang hidup yang menopang jutaan orang.
Di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi di Sungai Musi, tantangan terbesar bukan hanya menjaga kelancaran logistik, melainkan memastikan bahwa pembangunan tidak mengurangi kemampuan sungai untuk tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Tag
Berita Terkait
-
Ekosida Peradaban Air Sumsel, Ketika Lahan Basah Tak Lagi Menjadi Ruang Hidup
-
Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan dan Rasa Taufik Wijaya
-
21 Ton Solar Ilegal Nyaris Masuk Tiga Tug Boat di Sungai Musi, Siapa di Baliknya?
-
Misteri Penembakan di Tambang Banyuasin, Operator Ekskavator Ditembak Saat Hendak Makan Malam
-
Mayat Perempuan Mengapung di Sungai Musi Bikin Heboh, Ini Ciri-ciri Korban yang Dicari Polisi
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
- 5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Pilihan
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
Terkini
-
Sebelum Tragedi Bali, Deretan Kasus Main Hakim Sendiri di Sumsel Sudah Berulang Kali Terjadi
-
Sungai Musi dan Jejak Batu Bara: Ketika Jalur Logistik Bertemu Krisis Ekologi
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Kronologi CR-V Terguling di Depan Kejari Palembang, Tabrak Dua Mobil Parkir Usai Hindari Motor