- Wayang Palembang merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan lokal yang berkembang sejak abad ke-15 atau ke-17.
- Popularitas seni wayang ini menurun sejak era 1980-an akibat perubahan selera masyarakat terhadap hiburan yang lebih modern.
- Rumah Sri Ksetra akan menyelenggarakan pertunjukan Wayang Palembang pada 26 Juli 2026 untuk melestarikan identitas budaya bagi generasi muda.
SuaraSumsel.id - Kebudayaan Sumatera Selatan merupakan hasil pertemuan berbagai peradaban yang telah berlangsung selama berabad-abad. Jejak budaya Melayu berpadu dengan pengaruh dari Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga berbagai daerah di Nusantara seperti Minangkabau, Sunda, Cirebon, Johor, dan Jawa. Perpaduan itu melahirkan identitas budaya Sumatera Selatan yang kaya dan khas.
Di Palembang, akulturasi tersebut tercermin dalam hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, mulai dari arsitektur, kuliner, busana, sistem pemerintahan, bahasa, hingga kesenian.
Salah satu warisan budaya yang lahir dari perjumpaan budaya Jawa dan Palembang adalah Wayang Palembang. Seni pertunjukan ini berkembang dari tradisi wayang kulit purwa yang dibawa masyarakat Jawa ke Palembang dan kemudian bertransformasi dengan karakter lokal sehingga memiliki ciri khas tersendiri.
Mengutip jurnal Eksistensi Kesenian Wayang Kulit Palembang Tahun 2000–2019 karya Nurhidayanti, Nuril Shalifah, Syarifuddin, dan Supriyanto (2022), terdapat dua versi mengenai masuknya Wayang Palembang. Versi pertama menyebut wayang telah hadir sejak abad ke-17 berdasarkan kajian artefak. Sementara versi lain menyatakan wayang dibawa oleh bangsawan Jawa, Aryo Dila, bersama rombongannya pada abad ke-15.
Pada awal abad ke-20, Wayang Palembang berkembang pesat dengan hadirnya sejumlah dalang ternama, seperti Dalang Lot, Dalang Jan, Dalang Abas, Dalang Abdul Rahim, Dalang Syairin, Dalang Agus, hingga Dalang Ali.
Memasuki era 1950-an, muncul sosok Kiagus Muhammad Abdul Rasyid atau yang lebih dikenal sebagai Dalang Rasyid. Ia merupakan murid Raden Muhammad Hanan atau Dalang Hanan, yang sebelumnya berguru kepada Dalang Syairin. Mata rantai pewarisan inilah yang menjaga keberlangsungan Wayang Palembang selama beberapa generasi.
Wayang Palembang mencapai masa kejayaannya hingga dekade 1970-an. Namun memasuki era 1980-an dan 1990-an, popularitasnya mulai memudar seiring perubahan selera masyarakat yang beralih ke hiburan modern seperti orkes melayu dan organ tunggal.
Meski demikian, nilai budaya wayang tetap mendapat pengakuan dunia. Pada 2004, UNESCO mengakui wayang sebagai salah satu karya agung budaya dunia (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity), yang kemudian pada 2013 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Sayangnya, di tengah pengakuan tersebut, pengetahuan masyarakat Palembang terhadap Wayang Palembang justru semakin berkurang. Regenerasi dalang berjalan lambat, bahkan nyaris terhenti. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pelestarian salah satu identitas budaya Palembang tersebut.
Baca Juga: Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
Berangkat dari keprihatinan itu, Rumah Sri Ksetra bersama Sanggar Sri Wayang Kulit Palembang akan menggelar pertunjukan Wayang Palembang yang melibatkan generasi muda di Ruang Pameran Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, pada Minggu, 26 Juli 2026.
Ketua Rumah Sri Ksetra, Nopri Ismi, mengatakan kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, sekaligus menjadikan Wayang Palembang sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
"Harapan kami, kegiatan ini mendorong generasi muda untuk menjadikan Wayang Palembang sebagai salah satu seni yang dapat menjadi simbol identitasnya, dalam menjelaskan harapan dan nilai-nilai dalam kehidupannya," ujar Nopri.
Kegiatan yang mendapat dukungan Dana Indonesiana 2025 tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan Wayang Palembang, tetapi juga dirangkai dengan pembuatan film dokumenter tentang maestro Dalang Rasyid, lomba melukis Wayang Palembang bagi pelajar, serta lomba desain poster bertema Wayang Palembang.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, penyelenggara berharap Wayang Palembang tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi kembali hidup di tengah masyarakat melalui kreativitas dan semangat generasi muda sebagai penerusnya.
Berita Terkait
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam
-
Tak Perlu Transit, Wings Air Buka Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Mulai 7 Agustus
-
Gibran Minta PSEL Palembang Tak Sekadar Olah Sampah, Warga dan UMKM Harus Ikut Untung
-
Sehari di Palembang, Ini yang Dilakukan Wapres Gibran dari RSUD hingga PSEL
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Merajut Masa Depan Wayang Palembang Bersama Generasi Muda
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam
-
Tak Perlu Transit, Wings Air Buka Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Mulai 7 Agustus