- Festival Lahan Basah Tempirai di Kabupaten PALI membahas pengelolaan lingkungan berkelanjutan berdasarkan kearifan lokal Kerajaan Sriwijaya masa lalu.
- Prasasti Talang Tuo tahun 684 Masehi menunjukkan strategi Raja Dapunta Hyang menanam vegetasi lahan basah demi kemakmuran rakyat.
- Masyarakat Sriwijaya membangun bendungan dan telaga untuk mengendalikan aliran air serta beradaptasi dengan karakter alam tanpa eksploitasi besar.
Pandangan tersebut mendapat penguatan dari budayawan Husni Tamrin, yang mengajak peserta melihat pelestarian lingkungan melalui perspektif ekoteologi.
Menurut Husni, manusia tidak pernah ditempatkan sebagai penguasa mutlak bumi, melainkan sebagai pengelola yang memiliki tanggung jawab moral menjaga keseimbangan alam. "Hubungan manusia dengan alam harus dibangun dalam harmoni, bukan keserakahan," ujarnya.
Ia menjelaskan, nilai tersebut telah lama hidup dalam kebudayaan masyarakat Melayu seperti di Tempirai ini.
Permukiman tradisional selalu dibangun menghadap sungai karena air dipandang sebagai pusat kehidupan. Dari sungai masyarakat memperoleh air bersih, pangan, jalur transportasi, hingga ruang interaksi sosial. "Air menjadi bagian dari peradaban masyarakat Musi. Karena itu masyarakat tidak membangun kehidupan dengan melawan alam, tetapi hidup mengikuti alam," katanya.
Menurut Husni, ketika manusia mulai memandang alam hanya sebagai komoditas ekonomi, keseimbangan yang selama ini terjaga perlahan akan hilang.
Pandangan tersebut diamini tokoh adat Tempirai, Amrullah Marsup. Ia mengatakan budaya masyarakat Tempirai tumbuh dari kehidupan di kawasan sungai, lebak, dan rawa.."Lahan basah melahirkan tradisi, identitas, dan perlengkapan adat masyarakat. Semua berkembang karena masyarakat hidup berdampingan dengan air," ujarnya.
Karena itu, menurut Amrullah, menjaga lahan basah bukan hanya soal melestarikan lingkungan, tetapi juga mempertahankan kebudayaan yang telah diwariskan turun-temurun.
Festival yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Sepanjang penyelenggaraannya, Festival Lahan Basah Tempirai tidak hanya menghadirkan diskusi ilmiah, tetapi juga menggelar sastra tutur, hiking Jongot, pameran budaya, pasar rakyat, hingga pertunjukan seni yang menggambarkan kehidupan masyarakat perairan.
Baca Juga: Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi
Bagi para peserta, festival ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan arkeologi, adat, ekologi, dan budaya dalam satu benang merah: masyarakat Sumatera Selatan telah lama memiliki cara sendiri mengelola lahan basah secara berkelanjutan.
Apa yang kini disebut konservasi, ternyata bukan gagasan baru. Lebih dari 1.300 tahun lalu, nilai-nilai itu telah ditanamkan melalui kebijakan seorang raja, diwariskan dalam prasasti, dipraktikkan oleh masyarakat, dan hingga hari ini masih hidup dalam budaya masyarakat Musi.
Di Tempirai, jejak pengetahuan itu kembali dibaca, bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi sebagai pengingat bahwa masa depan lahan basah Sumatera Selatan mungkin justru dapat dipelajari dari sejarahnya sendiri.
"Insya Allah, festival ini akan berlangsung secara berkala minimal dua tahun sekali dan melibatkan masyarakat lebih luas di kabupaten Pali," ujar Ketua Pelaksana Festival Lahan Basah, Azizah Syamsudin.
Berita Terkait
-
Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi
-
Jongot, Tradisi Orang Musi yang Bertahan Ratusan Tahun Saat Kebun Tumbuh Menjadi Hutan
-
BEM Unsri Akhirnya Turun Aksi Kritisi Pemerintahan Prabowo, Bawa 8 Tuntutan
-
Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
-
Ahmad Nasuhi Korupsi Apa? Ini Perannya dalam Kasus Masjid Sriwijaya yang Berujung Vonis 8 Tahun
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Festival Lahan Basah Tempirai: Kedatuan Sriwijaya Menjaga Lahan Basah Sungai Musi
-
Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi
-
Bank Sumsel Babel Pacu Digitalisasi Keuangan Daerah, Banyuasin Percepat Implementasi KKPD
-
Di Tengah Ramai Desakan Tes Urine, Prima Salam Kembali Muncul di Acara Gerindra
-
Rp160 Miliar Diduga Tak Pernah Masuk Kas Daerah, Aktor Utama Korupsi Sungai Lalan Dibidik