Tasmalinda
Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:25 WIB
diskusi festival lahan basah Tempirai, Pali
Baca 10 detik
  • Festival Lahan Basah Tempirai di Kabupaten PALI membahas pengelolaan lingkungan berkelanjutan berdasarkan kearifan lokal Kerajaan Sriwijaya masa lalu.
  • Prasasti Talang Tuo tahun 684 Masehi menunjukkan strategi Raja Dapunta Hyang menanam vegetasi lahan basah demi kemakmuran rakyat.
  • Masyarakat Sriwijaya membangun bendungan dan telaga untuk mengendalikan aliran air serta beradaptasi dengan karakter alam tanpa eksploitasi besar.

Pandangan tersebut mendapat penguatan dari budayawan Husni Tamrin, yang mengajak peserta melihat pelestarian lingkungan melalui perspektif ekoteologi.

Menurut Husni, manusia tidak pernah ditempatkan sebagai penguasa mutlak bumi, melainkan sebagai pengelola yang memiliki tanggung jawab moral menjaga keseimbangan alam. "Hubungan manusia dengan alam harus dibangun dalam harmoni, bukan keserakahan," ujarnya.

Ia menjelaskan, nilai tersebut telah lama hidup dalam kebudayaan masyarakat Melayu seperti di Tempirai ini.

Permukiman tradisional selalu dibangun menghadap sungai karena air dipandang sebagai pusat kehidupan. Dari sungai masyarakat memperoleh air bersih, pangan, jalur transportasi, hingga ruang interaksi sosial. "Air menjadi bagian dari peradaban masyarakat Musi. Karena itu masyarakat tidak membangun kehidupan dengan melawan alam, tetapi hidup mengikuti alam," katanya.

Menurut Husni, ketika manusia mulai memandang alam hanya sebagai komoditas ekonomi, keseimbangan yang selama ini terjaga perlahan akan hilang.

Pandangan tersebut diamini tokoh adat Tempirai, Amrullah Marsup. Ia mengatakan budaya masyarakat Tempirai tumbuh dari kehidupan di kawasan sungai, lebak, dan rawa.."Lahan basah melahirkan tradisi, identitas, dan perlengkapan adat masyarakat. Semua berkembang karena masyarakat hidup berdampingan dengan air," ujarnya.

Karena itu, menurut Amrullah, menjaga lahan basah bukan hanya soal melestarikan lingkungan, tetapi juga mempertahankan kebudayaan yang telah diwariskan turun-temurun.

Festival yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Sepanjang penyelenggaraannya, Festival Lahan Basah Tempirai tidak hanya menghadirkan diskusi ilmiah, tetapi juga menggelar sastra tutur, hiking Jongot, pameran budaya, pasar rakyat, hingga pertunjukan seni yang menggambarkan kehidupan masyarakat perairan.

Baca Juga: Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi

Bagi para peserta, festival ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan arkeologi, adat, ekologi, dan budaya dalam satu benang merah: masyarakat Sumatera Selatan telah lama memiliki cara sendiri mengelola lahan basah secara berkelanjutan.

Apa yang kini disebut konservasi, ternyata bukan gagasan baru. Lebih dari 1.300 tahun lalu, nilai-nilai itu telah ditanamkan melalui kebijakan seorang raja, diwariskan dalam prasasti, dipraktikkan oleh masyarakat, dan hingga hari ini masih hidup dalam budaya masyarakat Musi.

Di Tempirai, jejak pengetahuan itu kembali dibaca, bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi sebagai pengingat bahwa masa depan lahan basah Sumatera Selatan mungkin justru dapat dipelajari dari sejarahnya sendiri. 

"Insya Allah, festival ini akan berlangsung secara berkala minimal dua tahun sekali dan melibatkan masyarakat lebih luas di kabupaten Pali," ujar Ketua Pelaksana Festival Lahan Basah, Azizah Syamsudin. 

Load More