- Gelaran Masak Tepi Sungai 2026 akan berlangsung pada 20-21 Juni 2026 di Kampung Perigi, Palembang, membahas tradisi kopi.
- Acara mengeksplorasi pengaruh budaya Arab, India, Persia, dan Tiongkok terhadap perkembangan kuliner kopi serta roti khas Palembang.
- Berbagai kegiatan edukatif seperti diskusi, workshop, dan walking tour diselenggarakan untuk melestarikan identitas budaya bagi generasi muda.
SuaraSumsel.id - Tradisi minum kopi di Palembang ternyata menyimpan kisah panjang yang dipengaruhi beragam budaya dunia, mulai dari Arab, India, Persia hingga Tiongkok. Kekayaan sejarah itu akan menjadi tema utama dalam gelaran Masak Tepi Sungai 2026 bertajuk Kopi & Roti yang akan berlangsung pada 20–21 Juni 2026 di Kampung Perigi, kawasan bersejarah di tepian Sungai Musi.
Berbeda dari festival kuliner pada umumnya, Masak Tepi Sungai tahun ini tidak hanya menghadirkan sajian makanan dan minuman, tetapi juga mengajak masyarakat menelusuri jejak budaya kopi yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga Palembang selama berabad-abad. Rangkaian acara akan diisi diskusi budaya, workshop, walking tour, hingga aktivitas fotografi dan sketsa di kawasan kampung tua tersebut.
Penyelenggara menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan budaya Palembang. Sejarawan RM Ali Hanafiah, misalnya, akan membahas kekayaan roti dan kue khas Palembang yang selama ini menjadi teman setia dalam tradisi minum kopi masyarakat kota tertua di Indonesia tersebut. Menurutnya, ragam roti dan kue yang berkembang di Palembang mencerminkan pertemuan berbagai kebudayaan yang pernah singgah dan berkembang di kota ini.
Sementara itu, fotografer sekaligus pemilik restoran Teh Aba, Obay Minoral, akan mengangkat kisah toko-toko kopi yang dibangun komunitas peranakan India di kawasan Plaju. Kehadiran mereka turut membentuk budaya ngopi khas Palembang yang dikenal hingga sekarang, termasuk popularitas martabak telur kuah kari yang menjadi menu andalan sejumlah toko kopi legendaris.
Cerita lain datang dari Mardho Tilla atau yang lebih dikenal sebagai Mardho Harum. Warga kampung tua di sekitar Sungai Sekanak ini akan berbagi kisah tentang kebiasaan masyarakat Palembang menikmati kopi pada masa lalu. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana kopi bukan sekadar minuman, melainkan ruang interaksi sosial yang telah diwariskan lintas generasi.
Nuansa budaya Arab juga akan diangkat melalui paparan Abu Bakar Syukri dari Kampung Al-Munawwar. Ia akan menjelaskan tradisi menikmati kopi di kalangan peranakan Arab Palembang. Menariknya, di wilayah hulu Sumatera Selatan, kopi dikenal dengan istilah kawe, yang diduga berasal dari kata Qahwah dalam bahasa Arab. Fakta ini menunjukkan kuatnya pengaruh budaya Timur Tengah dalam sejarah kopi di wilayah Palembang dan sekitarnya.
Menurut Laila Dimyati, pemegang sertifikasi Evolved Q Grader dan juri kopi bersertifikat ICE, Palembang sejak lama menjadi titik pertemuan berbagai peradaban besar dunia. Interaksi tersebut tidak hanya membentuk karakter masyarakatnya, tetapi juga memengaruhi tradisi kuliner dan budaya minum kopi yang berkembang hingga saat ini. Dalam sesi khusus, ia akan mengajak peserta menelusuri keunikan budaya kopi Palembang yang berbeda dari daerah lain di Indonesia.
Selain diskusi, warga Kampung Perigi juga akan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan. Pengunjung dapat mengikuti workshop membuat cetakan kue berbahan aluminium bersama perajin terakhir yang masih bertahan di kampung tersebut, Masagus Nasir. Ada pula workshop memasak kue tradisional, walking tour menyusuri lorong-lorong kampung tua, hingga sesi berburu foto dan sketsa bersama komunitas seni Palembang.
Sahabat Cagar Budaya selaku penyelenggara berharap Masak Tepi Sungai tidak hanya menjadi ruang perayaan kuliner, tetapi juga wadah untuk mengenalkan kembali identitas budaya Palembang kepada generasi muda. Melalui kopi, roti, dan cerita dari warga kampung, pengunjung diajak melihat bahwa sejarah Palembang sesungguhnya hidup dalam tradisi sehari-hari yang masih bertahan hingga kini.
Baca Juga: Minggu Besok, Tari Perang Menteng Tampil di Lawang Borotan BKB Palembang
Tag
Berita Terkait
-
Minggu Besok, Tari Perang Menteng Tampil di Lawang Borotan BKB Palembang
-
Kampung Tua di Palembang yang Pernah Disinggahi Bung Karno Kini Jadi Lokasi Festival Kopi
-
7 Restoran Keluarga di Palembang yang Cocok buat Makan Besar saat Long Weekend, Harga Ramah Kantong
-
Rayakan HUT Sumsel, Tamu Wyndham Opi Palembang Bisa Nikmati Hidangan Gratis Ini
-
7 Museum di Palembang yang Kini Wajib Dikunjungi untuk Belajar Sejarah Sriwijaya
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
- PT Blueray Cargo Milik Siapa? Perusahaan Logistik yang Seret Raffi Ahmad dalam Kasus Suap Importasi
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Pertamax Naik, Ongkos Travel Sumsel Ikut Merangkak: Rute Palembang hingga Rp280 Ribu
-
Kasus BPK Sumsel: Mengapa KPK Belum Tetapkan Kabid BPK Sebagai Tersangka?
-
Masak Tepi Sungai 2026 Digelar di Kampung Perigi, Mengungkap Budaya Kopi Palembang
-
Masih Ada Promo! Nikmati Martabak HAR Lebih Hemat dengan QRIS BSB Mobile
-
Bank Sumsel Babel Dukung Palembang Great Sale 2026, Ada Promo QRIS BSB Mobile