Tasmalinda
Kamis, 11 Juni 2026 | 17:35 WIB
Direktur Eksekutif RISE Foundation, Artin Wuriyani, mempresentasikan paparan Program RUMPUN HIJAU
Baca 10 detik
  • Kemenko PMK dan mitra meluncurkan program RUMPUN HIJAU di Kabupaten Muara Enim untuk mendukung transisi energi yang berkeadilan.
  • Program ini memberdayakan perempuan dan remaja sebagai aktor utama dalam literasi serta pengembangan keterampilan ekonomi hijau yang berkelanjutan.
  • Inisiatif ini menargetkan ribuan perempuan untuk memastikan kesiapan masyarakat menghadapi transisi dari sektor batu bara ke energi bersih.

SuaraSumsel.id - Ketika berbicara tentang transisi energi, banyak orang membayangkan pembangkit listrik tenaga surya, kendaraan listrik, atau teknologi ramah lingkungan. Namun di Muara Enim, Sumatera Selatan, transisi energi justru dimulai dari hal yang lebih mendasar: memperkuat peran perempuan dan masyarakat agar tidak tertinggal dalam perubahan yang sedang berlangsung.

Semangat itulah yang melatarbelakangi peluncuran RUMPUN HIJAU (Ruang Masyarakat dan Perempuan Hidupkan Inisiatif Hijau), sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan literasi, partisipasi, dan keterlibatan perempuan dalam mendukung transisi energi yang berkeadilan di Kabupaten Muara Enim.

Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia, Yayasan Remaja Indonesia Sehat (RISE Foundation), dan Pemerintah Kabupaten Muara Enim.

Mengapa Muara Enim?

Pemilihan Muara Enim sebagai lokasi pelaksanaan program bukan tanpa alasan. Kabupaten ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pusat energi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Muara Enim tahun 2025 menunjukkan sektor pertambangan dan penggalian menyumbang sekitar 69,59 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.

Besarnya ketergantungan terhadap sektor batu bara membuat Muara Enim menjadi daerah yang sangat penting dalam pembahasan mengenai masa depan energi Indonesia.

Di tengah tren global yang mengarah pada energi bersih dan rendah emisi, masyarakat di daerah penghasil energi seperti Muara Enim perlu dipersiapkan menghadapi perubahan ekonomi dan sosial yang akan terjadi.

Perempuan Jadi Kunci Transisi Energi Berkeadilan

Berbeda dengan banyak program lingkungan lainnya, RUMPUN HIJAU menempatkan perempuan dan remaja perempuan sebagai aktor utama perubahan. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, mengatakan isu energi dan perubahan iklim sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan perempuan.

Baca Juga: Komitmen Ciptakan Lingkungan Ramah Anak, PTBA Dapat Apresiasi dari Bupati Muara Enim

Menurutnya, dampak perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh kesehatan keluarga, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya rumah tangga, hingga peluang ekonomi baru yang lahir dari ekonomi hijau.

"Transisi energi yang berhasil bukan hanya menghasilkan energi yang lebih bersih, melainkan juga masyarakat yang lebih sejahtera, perempuan yang lebih berdaya, kelompok rentan yang lebih terlindungi, dan generasi muda yang lebih siap menghadapi masa depan," ujar Woro.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga menyangkut kualitas hidup masyarakat.

Membuka Peluang Green Jobs dan Green Skills

Direktur Eksekutif RISE Foundation, Artin Wuriyani, menjelaskan bahwa RUMPUN HIJAU hadir untuk memastikan isu transisi energi dapat dipahami secara lebih dekat oleh masyarakat.

Menurutnya, selama ini isu energi sering dianggap sebagai persoalan teknis dan kebijakan tingkat tinggi. Padahal dampaknya sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Load More