- BMKG Sumatera Selatan menyatakan sebagian wilayah mulai memasuki musim kemarau sejak Juni 2026 dengan penurunan curah hujan.
- Suhu udara maksimum di wilayah Sumatera Selatan mencapai 33 hingga 34 derajat Celsius selama tiga hari terakhir.
- Masyarakat diimbau waspada terhadap risiko dehidrasi dan kebakaran hutan serta lahan akibat cuaca panas yang lebih terik.
SuaraSumsel.id - Banyak warga Sumatera Selatan mengeluhkan cuaca yang terasa lebih panas dan menyengat dalam beberapa hari terakhir. Aktivitas di luar ruangan menjadi tidak nyaman, sementara suhu udara pada siang hari terasa lebih tinggi dibandingkan biasanya.
Ternyata, kondisi tersebut bukan hanya perasaan semata. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan sebagian besar wilayah Sumsel kini mulai memasuki musim kemarau. Perubahan musim ini membuat curah hujan berkurang, sementara intensitas penyinaran matahari meningkat sehingga udara terasa lebih terik.
Bagi sebagian orang, cuaca panas mungkin hanya dianggap mengganggu kenyamanan. Namun di balik itu, BMKG mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai masyarakat, mulai dari dehidrasi, gangguan kesehatan akibat paparan panas berlebih, hingga meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah rawan.
Koordinator Kelompok Kerja Analisis, Diseminasi Informasi dan Edukasi BMKG Sumsel, Nandang Pangaribowo, menjelaskan tren penurunan curah hujan mulai terpantau sejak akhir Mei 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu tanda bahwa musim kemarau mulai berlangsung di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan.
"Sejak 27 Mei curah hujan mulai menurun. Pada Juni ini sebagian besar wilayah Sumsel sudah memasuki musim kemarau," ujarnya.
Dalam tiga hari terakhir, suhu maksimum di sejumlah wilayah Sumsel tercatat mencapai 33 hingga 34 derajat Celsius. Angka tersebut memang masih berada dalam kategori normal untuk wilayah tropis, namun kombinasi suhu tinggi dan paparan matahari yang berlangsung lebih lama membuat masyarakat merasakan udara yang lebih panas dari biasanya.
Fenomena ini terjadi karena berkurangnya tutupan awan yang biasanya menghalangi sinar matahari. Saat musim kemarau mulai berlangsung, langit cenderung lebih cerah sehingga energi panas dari matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi.
Tidak hanya membuat tubuh cepat berkeringat, kondisi tersebut juga dapat memicu dehidrasi apabila masyarakat tidak mencukupi kebutuhan cairan harian. Dehidrasi sering kali dianggap sepele, padahal dapat menyebabkan tubuh lemas, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, hingga menurunkan produktivitas.
Anak-anak, lansia, pekerja lapangan, pengendara ojek, pedagang kaki lima, hingga masyarakat yang sering beraktivitas di bawah terik matahari menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Baca Juga: Pinjaman hingga Rp200 Juta dari Bank Sumsel Babel, Bisa Diajukan ASN hingga Pelaku Usaha
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas berat pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB, serta menggunakan pelindung seperti topi, payung, atau pakaian yang mampu mengurangi paparan panas secara langsung.
Selain ancaman terhadap kesehatan, datangnya musim kemarau juga menjadi alarm bagi potensi kebakaran hutan dan lahan yang hampir setiap tahun menghantui Sumatera Selatan. Wilayah yang memiliki lahan gambut menjadi daerah yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena lebih rentan mengalami kebakaran saat kondisi semakin kering.
Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, hingga sektor transportasi.
Di sisi lain, musim kemarau juga menjadi tantangan bagi sektor pertanian. Berkurangnya curah hujan dapat memengaruhi ketersediaan air untuk lahan pertanian apabila berlangsung dalam periode yang panjang.
Melihat kondisi tersebut, masyarakat diminta mulai menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan perubahan cuaca yang terjadi. Menjaga asupan cairan, menghindari paparan panas berlebih, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak sekarang.
Dengan musim kemarau yang mulai menunjukkan dampaknya di berbagai wilayah Sumsel, warga diharapkan tidak hanya mengeluhkan cuaca panas, tetapi juga memahami risiko yang menyertainya agar tetap sehat dan aman selama beberapa bulan ke depan.
Tag
Berita Terkait
-
Pinjaman hingga Rp200 Juta dari Bank Sumsel Babel, Bisa Diajukan ASN hingga Pelaku Usaha
-
Biaya Kuliah Anak Naik Terus? Ini Cara Menyiapkan Dananya tanpa Mengganggu Keuangan Bulanan
-
Kredit Serba Guna Bank Sumsel Babel 2026: Syarat, Plafon Pinjaman, dan Cara Mengajukannya
-
Jemaah Haji Kloter Pertama Tiba Besok di Palembang, Keluarga Diimbau Tak Menjemput ke Asrama Haji
-
Panduan Lengkap Bank Sumsel Babel 2026: Tabungan, BSB Mobile, KPR, KUR, dan Layanan Digital
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Diminta Masakkan Makanan untuk Nenek, Pemuda di Banyuasin Aniaya Ibu Kandung
-
Kronologi Menantu Bakar Rumah Mertua di Lubuklinggau, 11 Rumah Hangus
-
Suami Istri Kompak Jadi Spesialis Curanmor dan Bobol Rumah di Palembang, Polisi Ungkap Modusnya
-
LRT Sumsel Kampanyekan Transportasi Publik, Penumpang Stasiun Cinde Tembus 110 Ribu
-
Tagih Utang Berujung Maut, Pria di Palembang Tewas dengan Luka Bacok di Punggung