Tasmalinda
Selasa, 02 Juni 2026 | 17:27 WIB
ilustrasi matahari terik di Sumatera Selatan.
Baca 10 detik
  • BMKG Sumatera Selatan menyatakan sebagian wilayah mulai memasuki musim kemarau sejak Juni 2026 dengan penurunan curah hujan.
  • Suhu udara maksimum di wilayah Sumatera Selatan mencapai 33 hingga 34 derajat Celsius selama tiga hari terakhir.
  • Masyarakat diimbau waspada terhadap risiko dehidrasi dan kebakaran hutan serta lahan akibat cuaca panas yang lebih terik.

SuaraSumsel.id - Banyak warga Sumatera Selatan mengeluhkan cuaca yang terasa lebih panas dan menyengat dalam beberapa hari terakhir. Aktivitas di luar ruangan menjadi tidak nyaman, sementara suhu udara pada siang hari terasa lebih tinggi dibandingkan biasanya.

Ternyata, kondisi tersebut bukan hanya perasaan semata. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan sebagian besar wilayah Sumsel kini mulai memasuki musim kemarau. Perubahan musim ini membuat curah hujan berkurang, sementara intensitas penyinaran matahari meningkat sehingga udara terasa lebih terik.

Bagi sebagian orang, cuaca panas mungkin hanya dianggap mengganggu kenyamanan. Namun di balik itu, BMKG mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai masyarakat, mulai dari dehidrasi, gangguan kesehatan akibat paparan panas berlebih, hingga meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah rawan.

Koordinator Kelompok Kerja Analisis, Diseminasi Informasi dan Edukasi BMKG Sumsel, Nandang Pangaribowo, menjelaskan tren penurunan curah hujan mulai terpantau sejak akhir Mei 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu tanda bahwa musim kemarau mulai berlangsung di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan.

"Sejak 27 Mei curah hujan mulai menurun. Pada Juni ini sebagian besar wilayah Sumsel sudah memasuki musim kemarau," ujarnya.

Dalam tiga hari terakhir, suhu maksimum di sejumlah wilayah Sumsel tercatat mencapai 33 hingga 34 derajat Celsius. Angka tersebut memang masih berada dalam kategori normal untuk wilayah tropis, namun kombinasi suhu tinggi dan paparan matahari yang berlangsung lebih lama membuat masyarakat merasakan udara yang lebih panas dari biasanya.

Fenomena ini terjadi karena berkurangnya tutupan awan yang biasanya menghalangi sinar matahari. Saat musim kemarau mulai berlangsung, langit cenderung lebih cerah sehingga energi panas dari matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi.

Tidak hanya membuat tubuh cepat berkeringat, kondisi tersebut juga dapat memicu dehidrasi apabila masyarakat tidak mencukupi kebutuhan cairan harian. Dehidrasi sering kali dianggap sepele, padahal dapat menyebabkan tubuh lemas, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, hingga menurunkan produktivitas.

Anak-anak, lansia, pekerja lapangan, pengendara ojek, pedagang kaki lima, hingga masyarakat yang sering beraktivitas di bawah terik matahari menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.

Baca Juga: Pinjaman hingga Rp200 Juta dari Bank Sumsel Babel, Bisa Diajukan ASN hingga Pelaku Usaha

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas berat pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB, serta menggunakan pelindung seperti topi, payung, atau pakaian yang mampu mengurangi paparan panas secara langsung.

Selain ancaman terhadap kesehatan, datangnya musim kemarau juga menjadi alarm bagi potensi kebakaran hutan dan lahan yang hampir setiap tahun menghantui Sumatera Selatan. Wilayah yang memiliki lahan gambut menjadi daerah yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena lebih rentan mengalami kebakaran saat kondisi semakin kering.

Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, hingga sektor transportasi.

Di sisi lain, musim kemarau juga menjadi tantangan bagi sektor pertanian. Berkurangnya curah hujan dapat memengaruhi ketersediaan air untuk lahan pertanian apabila berlangsung dalam periode yang panjang.

Melihat kondisi tersebut, masyarakat diminta mulai menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan perubahan cuaca yang terjadi. Menjaga asupan cairan, menghindari paparan panas berlebih, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak sekarang.

Dengan musim kemarau yang mulai menunjukkan dampaknya di berbagai wilayah Sumsel, warga diharapkan tidak hanya mengeluhkan cuaca panas, tetapi juga memahami risiko yang menyertainya agar tetap sehat dan aman selama beberapa bulan ke depan.

Load More