- Koreografer Salwa Pratiwi menampilkan tari Perang Menteng di Lawang Borotan, Palembang, pada Minggu (24/5/2026) malam.
- Pertunjukan ini mengisahkan perlawanan Kesultanan Palembang Darussalam melawan pasukan Belanda dalam Perang Menteng tahun 1819 silam.
- Karya tari kontemporer tersebut memadukan unsur bela diri tradisional dan Ratib Saman sebagai sarana edukasi sejarah lokal.
SuaraSumsel.id - Sejarah perlawanan masyarakat Palembang terhadap kolonial Belanda dihidupkan kembali melalui pertunjukan Tari “Perang Menteng” karya koreografer Salwa Pratiwi di Lawang Borotan, gerbang barat Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang, Minggu (24/5/2026) malam.
Pertunjukan tersebut mengangkat kisah Perang Menteng atau Perang Palembang yang terjadi di Sungai Musi pada 12 Juni 1819, saat Kesultanan Palembang Darussalam melawan pasukan Belanda.
Dengan latar Benteng Kuto Besak dan tepian Sungai Musi, pertunjukan terasa seperti membawa penonton kembali ke masa ketika Palembang menjadi salah satu pusat perlawanan terhadap kolonialisme di awal abad ke-19.
Karya yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana dan LPDP Tahun 2025 itu memadukan unsur sejarah, tradisi, religi, hingga bela diri khas Palembang ke dalam bentuk tari kontemporer.
Salah satu bagian yang paling mencuri perhatian penonton adalah lantunan kalimat “La ilaha illallah” yang diucapkan berulang kali oleh para penari sepanjang pertunjukan berlangsung.
Salwa Pratiwi menjelaskan lantunan tersebut merupakan Ratib Saman, tradisi zikir dan doa berjemaah masyarakat Muslim yang dahulu digunakan untuk membangkitkan semangat saat menghadapi peperangan.
“Ratib saman digunakan masyarakat Palembang untuk membangun semangat ketika melawan penjajah. Saya memasukkan unsur itu karena memiliki hubungan kuat dengan sejarah Perang Menteng,” ujar Salwa.
Perang Menteng sendiri merupakan perang antara Kesultanan Palembang Darussalam yang dipimpin Sultan Mahmud Badaruddin II melawan Belanda di bawah pimpinan Herman Warner Muntinghe.
Peristiwa itu menjadi salah satu perlawanan terbesar masyarakat Palembang terhadap kolonialisme Belanda dan juga tercatat dalam naskah Melayu klasik Syair Perang Menteng.
Baca Juga: Slank Puji Penonton Palembang, Konser HS Hey Slank Tetap Kondusif Meski Membludak
Selain unsur ratib, pertunjukan ini juga menggunakan gerakan pencak keraton dan kuntau sebagai dasar koreografi.
Kedua bela diri tradisional tersebut pernah menjadi bagian dari strategi pertahanan masyarakat Palembang pada masa perang.
Gerakan para penari yang cepat lalu berubah menjadi lebih lambat, dipadukan dengan penggunaan pedang dan tombak, menggambarkan suasana pertempuran di atas perahu di Sungai Musi.
Pada beberapa bagian, formasi penari juga dibuat menyerupai perahu perang yang bergerak di sungai.
Salwa mengatakan proses penciptaan karya dilakukan melalui riset sejarah, diskusi dengan budayawan dan sejarawan, hingga eksplorasi gerak bersama penari dan penata artistik.
Ia ingin menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki hubungan kuat dengan sejarah dan identitas budaya Palembang.
Berita Terkait
-
Slank Puji Penonton Palembang, Konser HS Hey Slank Tetap Kondusif Meski Membludak
-
Warga Sumsel Mulai Takut Keluar Malam, Aksi Begal dan Kejahatan Jalanan Kembali Meresahkan
-
5 Fakta Ngeri Maling Bersenpi di Warung Bakso Palembang, Korban Sampai Kabur Naik Lantai Dua
-
Blackout Sumatra Nyaris Makan Korban, Mahasiswi UMP Terjebak di Lift Kampus
-
CFD Palembang Kian Ramai Setiap Pekan, Benarkah Masih Nyaman untuk Olahraga?
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?
-
Derby Sumatera Dimulai! Sumsel United Bidik Balas Kekalahan dari PSMS di Laga Perdana
-
60 Hari Tak Diguyur Hujan, Karhutla Padang Sugihan Picu Kekhawatiran Habitat Gajah
-
Udara Palembang Terus Memburuk, Sampai Kapan Warga Harus Menghirup Asap?