Tasmalinda
Senin, 25 Mei 2026 | 16:21 WIB
Penampilan Tari Menteng di Lawang Borotan Benteng Kuto Besak Palembang [dok rumah Sri Ksetra Palembang]
Baca 10 detik
  • Koreografer Salwa Pratiwi menampilkan tari Perang Menteng di Lawang Borotan, Palembang, pada Minggu (24/5/2026) malam.
  • Pertunjukan ini mengisahkan perlawanan Kesultanan Palembang Darussalam melawan pasukan Belanda dalam Perang Menteng tahun 1819 silam.
  • Karya tari kontemporer tersebut memadukan unsur bela diri tradisional dan Ratib Saman sebagai sarana edukasi sejarah lokal.

“Saya ingin menunjukkan bahwa masyarakat Palembang memiliki budaya bela diri dan strategi perang sendiri. Karena itu saya menggunakan unsur pencak keraton dan kuntau dalam koreografi,” katanya.

Menurut Salwa, penggunaan bela diri tradisional bukan sekadar unsur visual, tetapi juga bagian penting untuk memperkenalkan kembali budaya Palembang kepada generasi muda.

Pemilihan kawasan Benteng Kuto Besak sebagai lokasi pertunjukan juga memiliki hubungan erat dengan sejarah yang diangkat.

Lawang Borotan diketahui menjadi gerbang terakhir yang dilalui Sultan Mahmud Badaruddin II sebelum dibawa Belanda ke Batavia dan diasingkan ke Ternate pada 1821.

Karena itu, penonton tidak hanya menyaksikan pertunjukan tari, tetapi juga merasakan langsung ruang sejarah tempat kisah tersebut pernah terjadi.

Selain mengangkat kisah perang, pertunjukan ini juga memperlihatkan hubungan erat antara budaya, agama, dan kehidupan masyarakat Palembang pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Salwa berharap karya tersebut dapat menjadi cara alternatif untuk memperkenalkan sejarah lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Banyak anak muda tahu tentang perang besar di daerah lain, tetapi belum banyak yang mengenal Perang Menteng. Padahal itu bagian penting dari sejarah Palembang,” ujarnya.

Penulis:  Ariadi Damara, pegiat sosial dan budaya di Rumah Sriksetra.

Baca Juga: Slank Puji Penonton Palembang, Konser HS Hey Slank Tetap Kondusif Meski Membludak

Load More