Tasmalinda
Jum'at, 30 Januari 2026 | 13:22 WIB
Kekalahan Sriwijaya FC yang paling kelam
Baca 10 detik
  • Sriwijaya FC mengalami kekalahan terburuk 15-0 dari Adhyaksa FC di Banten pada Kamis, 29 Januari 2026.
  • Kekalahan telak tersebut menjadi cerminan akumulasi masalah sepanjang musim kompetisi yang berat.
  • Hasil buruk ini memaksa klub bersejarah tersebut mengevaluasi arah serta melakukan pembangunan ulang fundamental tim.

SuaraSumsel.id - Angka 15-0 tidak hanya besar, tetapi juga memukul. Dalam hitungan menit setelah laga berakhir, skor itu menyebar luas di linimasa media sosial, memantik keterkejutan, kemarahan, hingga rasa tak percaya.

Namun bagi Sriwijaya FC, kekalahan telak tersebut terasa lebih dari sekadar hasil pertandingan. Ia seperti ringkasan pahit dari satu musim penuh yang berjalan tanpa jawaban.

Kekalahan dari Adhyaksa FC di Banten International Stadium, Kamis (29/1/2026), memang mencatatkan rekor terburuk Sriwijaya FC musim ini. Tetapi angka di papan skor justru membuka pertanyaan yang lebih dalam: mengapa sebuah klub dengan sejarah besar bisa sampai pada titik ini?

Pertanyaan itulah yang membuat skor 15-0 tak lagi bicara soal menang atau kalah, melainkan tentang arah, identitas, dan masa depan Laskar Wong Kito.

Sepanjang Pegadaian Championship 2025/2026, Sriwijaya FC menjalani musim yang berat. Dari total pertandingan yang dimainkan, mereka belum sekali pun meraih kemenangan. Hasil imbang datang sesekali, sementara kekalahan terus berulang. Dalam konteks itu, skor 15-0 terasa bukan sebagai kejutan, melainkan akumulasi dari perjalanan panjang yang penuh tekanan.

Di atas lapangan, Sriwijaya FC kerap terlihat berusaha bertahan di tengah situasi yang tidak ideal. Tekanan lawan datang bertubi-tubi, sementara koordinasi antarlini sering kali terputus. Kesalahan kecil berubah menjadi peluang, lalu menjadi gol, dan akhirnya menjelma menjadi skor besar yang sulit dibendung.

Bagi publik sepak bola Sumatera Selatan, kondisi ini tentu menyesakkan. Sriwijaya FC bukan klub tanpa cerita. Mereka pernah menjadi simbol kebanggaan daerah, mengangkat trofi, dan dikenal sebagai kekuatan yang disegani. Namun musim ini memperlihatkan wajah lain sepak bola modern: nama besar tidak selalu sejalan dengan performa di lapangan.

Kekalahan telak kerap memicu luapan emosi. Ada kekecewaan, ada kemarahan, dan ada rasa kehilangan. Namun di balik itu, selalu ada ruang untuk jeda—ruang untuk membaca ulang keadaan secara lebih jernih. Skor 15-0 ini, suka atau tidak, memaksa semua pihak untuk menoleh ke dalam dan bertanya: apa yang perlu dibenahi agar situasi serupa tak terulang?

Sepak bola telah berkali-kali menunjukkan bahwa klub besar tidak runtuh karena satu kekalahan, tetapi karena kegagalan merespons masa sulit. Banyak tim menemukan kembali identitasnya justru setelah menyentuh titik terendah. Dalam konteks ini, kekalahan telak bisa menjadi akhir dari fase lama, sekaligus awal dari perubahan yang lebih mendasar.

Baca Juga: Malam Paling Kelam Laskar Wong Kito, Sriwijaya FC Dibantai 15 Gol Tanpa Balas

Musim mungkin telah berakhir dengan catatan pahit, tetapi cerita Sriwijaya FC belum selesai. Pertaruhan berikutnya bukan lagi tentang klasemen atau selisih gol, melainkan tentang keberanian mengambil keputusan dan membangun ulang kepercayaan—baik di dalam tim maupun di mata publik.

Karena pada akhirnya, skor akan tercatat sebagai angka. Yang akan diingat lebih lama adalah bagaimana sebuah klub merespons malam paling gelapnya: diam dan terpuruk, atau bangkit dan menulis ulang jalannya sendiri.

Load More