- Banjir setinggi lutut melanda 40 titik di Palembang pada Minggu, 5 April 2026, yang melumpuhkan aktivitas warga.
- Petugas BPBD mengevakuasi dua lansia yang sakit dari rumah mereka yang terendam banjir menggunakan perahu karet.
- Kedua lansia tersebut berhasil diselamatkan dan segera mendapatkan perawatan medis lebih lanjut di RSUD Bari Palembang.
SuaraSumsel.id - Hujan deras yang mengguyur Palembang tak hanya meninggalkan genangan di jalanan. Di balik air yang naik perlahan hingga selutut orang dewasa, ada cerita yang lebih sunyi—tentang dua lansia yang tak lagi mampu bertahan di rumahnya sendiri.
Minggu (5/4/2026), air mulai masuk ke pemukiman. Bagi sebagian warga, itu mungkin sekadar rutinitas tahunan. Tapi bagi dua lansia yang sudah dalam kondisi sakit, genangan itu berubah menjadi ancaman nyata.
Saat air terus meninggi, rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi ruang yang menyesakkan. Kedua lansia itu sudah dalam kondisi lemah bahkan sebelum banjir datang.
Ketika Wali Kota Palembang meninjau lokasi, kondisi mereka menjadi perhatian. Tubuh yang tak lagi kuat, ditambah lingkungan yang tergenang, membuat mereka tak punya pilihan selain harus segera dievakuasi.
“Korban memang sudah dalam keadaan sakit,” kata Kepala BPBD Palembang Ahmad Furqon.
Petugas BPBD bergerak cepat. Di tengah genangan yang merata di puluhan titik kota, mereka menyusuri kawasan terdampak dengan perahu karet.
Bukan sekadar evakuasi biasa. Ini adalah upaya menyelamatkan nyawa yang tak bisa lagi menunggu.
Dengan hati-hati, kedua lansia itu dibawa keluar dari rumahnya yang terendam. Air, yang bagi sebagian orang hanya sebatas gangguan aktivitas, bagi mereka adalah batas antara bertahan dan menyerah.
Dari rumah sederhana yang digenangi air, perjalanan mereka berlanjut menuju ruang perawatan di RSUD Bari.
Baca Juga: Detik-detik Ayah Amankan Pria Misterius yang Incar Anaknya di Depan Sekolah
Banjir kali ini tercatat merendam sedikitnya 40 titik di Palembang. Ketinggian air bahkan mencapai lutut orang dewasa di sejumlah kawasan.
Jalan-jalan berubah menjadi aliran air, kendaraan mogok, dan aktivitas warga lumpuh.
Namun di tengah semua itu, satu hal yang patut dicatat: tidak ada korban jiwa.
Di balik angka-angka itu, ada kerja cepat petugas, ada kewaspadaan warga, dan ada kisah-kisah kecil yang jarang terlihat, seperti dua lansia yang berhasil diselamatkan tepat waktu.
Tag
Berita Terkait
-
Palembang Kebanjiran Tiap Hujan, Tapi Air Bersih Belum Merata: Ada yang Salah dengan Kota Ini?
-
Baru 30 Menit Hujan, Palembang Langsung Tenggelam: Kenapa Banjir Tak Pernah Selesai?
-
Digeruduk Korban, Oknum Guru di Palembang Akhirnya Menyerah: Modus Tukar Uang THR Rugikan Miliaran
-
Setelah Ditunda Mendadak, Ini Jadwal Baru CFN Palembang dan Perubahan di Kawasan Atmo
-
Tragedi di Jalan Kapten A Rivai: Kisah Pilu Driver Ojol Palembang Tewas Tertimpa Pohon Tumbang
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Kabut Asap Palembang Ganggu Penerbangan, 15 Pesawat Terdampak saat Jarak Pandang 400 Meter
-
Wamen LH Minta Perusahaan Bangun Infrastruktur Air untuk Cegah Karhutla Sumsel
-
Wisuda ke-8 USS, 109 Lulusan Ditantang Bawa Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Kerja
-
12 Perusahaan di Sumsel Disegel KLH Terkait Karhutla, Sampel Diuji untuk Tentukan Sanksi
-
Pemprov Sumsel Janji Pulihkan Lahan Bekas Karhutla dengan Bibit, Bagaimana Mekanismenya?