- Jaksa menuntut mantan Wali Kota Palembang Harnojoyo tiga setengah tahun penjara dan Raimar delapan tahun penjara kasus korupsi revitalisasi Pasar Cinde.
- Raimar Yousnaidi dibebani uang pengganti Rp2,2 miliar, sementara Harnojoyo tidak dibebani karena telah mengembalikan Rp750 juta.
- Kedua terdakwa terbukti korupsi merugikan negara, menyebabkan bangunan cagar budaya tidak berfungsi optimal serta terbengkalai.
SuaraSumsel.id - Sidang kasus dugaan korupsi revitalisasi Pasar Cinde Palembang memasuki babak penting. Jaksa Penuntut Umum menjatuhkan tuntutan berbeda terhadap dua terdakwa, yakni mantan Wali Kota Palembang Harnojoyo dan Raimar Yousnaidi selaku Kepala Cabang PT Magna Beatum.
Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Fauzi Isra SH MH, jaksa menuntut Harnojoyo dengan pidana penjara selama 3 tahun 6 bulan serta denda Rp200 juta subsider 6 bulan kurungan. Sementara itu, Raimar dituntut jauh lebih berat, yakni 8 tahun penjara dan denda Rp400 juta subsider 6 bulan kurungan.
Tak hanya itu, Raimar juga dibebani tuntutan membayar uang pengganti sebesar Rp2,2 miliar. Jika tidak dibayarkan, maka diganti dengan pidana penjara selama 4 tahun. Perbedaan tuntutan ini langsung memantik perhatian publik.
Dalam amar tuntutannya, jaksa menyatakan kedua terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Ayat (1) juncto Pasal 18 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, serta juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.
Jaksa menilai perbuatan para terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi dan juga tidak mendukung pelestarian bangunan cagar budaya. Proyek revitalisasi Pasar Cinde yang semula digadang-gadang sebagai simbol modernisasi pusat perdagangan bersejarah Palembang justru berakhir dengan polemik panjang.
Akibat perbuatan tersebut, bangunan disebut tidak dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya dan terbengkalai. Dampaknya bukan hanya pada kerugian negara, tetapi juga hilangnya potensi pendapatan bagi Pemerintah Kota Palembang serta para pedagang yang menggantungkan hidup di kawasan tersebut.
Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah pengembalian uang negara sebesar Rp750 juta oleh Harnojoyo sebelum tuntutan dibacakan. Uang tersebut dititipkan melalui kuasa hukum kepada penyidik dan menjadi pertimbangan meringankan dalam tuntutan jaksa.
Karena pengembalian itu, jaksa tidak lagi membebankan pidana tambahan berupa uang pengganti kepada Harnojoyo. Hal ini berbeda dengan Raimar yang tetap dituntut membayar uang pengganti Rp2,2 miliar.
Perbedaan ini memicu diskusi di tengah masyarakat. Sebagian menilai pengembalian sebagian kerugian negara patut diperhitungkan sebagai bentuk tanggung jawab. Namun ada pula yang mempertanyakan apakah pengembalian dana dapat secara signifikan memengaruhi berat-ringannya tuntutan pidana dalam perkara korupsi.
Baca Juga: Bank Sumsel Babel Wujudkan Hunian Layak melalui CSR Bedah Rumah di OKU Timur
Dalam tuntutannya, jaksa menyebut hal yang memberatkan bagi para terdakwa adalah tindakan mereka yang dinilai tidak mendukung upaya pemberantasan korupsi dan berdampak pada hilangnya fungsi bangunan cagar budaya.
Sementara hal yang meringankan, kedua terdakwa dinilai bersikap sopan selama persidangan dan belum pernah dihukum sebelumnya.
Kini, sorotan publik tertuju pada majelis hakim. Vonis yang akan dijatuhkan nantinya akan menjadi penentu akhir dari perkara yang sejak awal menyita perhatian warga Palembang dan Sumatera Selatan.
Kasus ini bukan sekadar soal angka 3,5 tahun, 8 tahun, atau miliaran rupiah uang pengganti. Lebih dari itu, ia menjadi ujian bagaimana keadilan ditegakkan terhadap pejabat publik dan pihak swasta yang terlibat dalam proyek strategis daerah. Putusan hakim nanti akan menjadi jawaban atas perdebatan yang terus bergulir di ruang publik.
Berita Terkait
-
LHKPN Rp15 Miliar, Harnojoyo Kembalikan Rp750 Juta ke Penyidik dalam Korupsi Pasar Cinde
-
Usia 75 Tahun dan Belum Bebas, Alex Noerdin Terancam Tambahan 20 Tahun Penjara
-
5 Fakta Sidang Kasus Korupsi Ketiga Alex Noerdin: Usia 75 Tahun, Terancam Hukuman Berat
-
Usia 75 Tahun, Alex Noerdin Jalani Kasus Korupsi Ketiga dengan Dakwaan Pasal Berlapis
-
Kompak di Kursi Terdakwa, Alex Noerdin dan Harnojoyo Jalani Sidang Perdana Kasus Pasar Cinde
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Polemik Tunggakan PBB Rp2,33 Miliar Yayasan IGM Palembang, Ratu Dewa Singgung Evaluasi Data
-
Sumsel United Tak Terkalahkan 4 Laga, Tegar Hening Absen Jelang Derby Sumatera
-
Laba PTBA Tembus Rp4,41 Triliun, Pendapatan Naik 12 Persen hingga Kuartal III 2026
-
Nasib Bayi yang Ditemukan di Toilet Tol Terpeka: Sudah Boleh Pulang, 5 Keluarga Berminat Mengadopsi
-
Bank Sumsel Babel Luncurkan Sultan Muda Corner, Perkuat Pembiayaan UMKM dan Wirausaha Muda