- Program FAITH diinisiasi untuk membangun kemandirian pangan cerdas iklim melalui pesantren, khususnya di Ponpes Al Khoiriyah Banyuasin.
- FAITH bertujuan menjadikan kebun pangan pesantren sebagai laboratorium bisnis pertanian bagi santri melalui program santripreneur.
- Pelatihan dasar pertanian cerdas iklim melibatkan petani terampil dan KWT dalam transfer pengetahuan "dari petani ke petani" kepada santri.
SuaraSumsel.id - Isu ketahanan dan kemandirian pangan kini tak lagi sebatas wacana global. Di tengah ancaman perubahan iklim, banjir, kekeringan, serta alih fungsi lahan yang terus terjadi di pedesaan, sebuah gerakan pangan berbasis komunitas mulai tumbuh dari lingkungan pesantren.
Program bertajuk Food Always in the Home (FAITH) yang diinisiasi ICRAF Sumatera Selatan bersama Kibo Alliance kini mulai diujicobakan di Pondok Pesantren Al Khoiriyah, Desa Timbul Jaya, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin.
Gerakan ini bukan sekadar menanam sayur, tetapi membangun sistem kemandirian pangan berbasis pertanian cerdas iklim yang menyasar generasi muda, khususnya para santri.
Koordinator ICRAF Sumatera Selatan, David Susanto, menjelaskan bahwa FAITH merupakan pengembangan dari inisiatif kebun dapur yang sebelumnya telah dijalankan kelompok perempuan di 12 desa di Kabupaten Musi Banyuasin dan Banyuasin. Program tersebut diselaraskan dengan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan.
Menurut David, pesantren menjadi mitra strategis dalam memperluas gerakan pangan karena memiliki komunitas yang solid dan kebutuhan konsumsi yang besar setiap hari.
Di Ponpes Al Khoiriyah sendiri, terdapat sekitar 800 santri, dengan 600 di antaranya tinggal di asrama. Setiap hari, pihak pesantren harus menyiapkan sekitar 1.200 porsi makanan untuk sarapan dan makan malam.
Kepala Madrasah Tsanawiyah Al Khoiriyah, Muhammad Gufron, mengakui bahwa selama ini kebutuhan sayur dan lauk pauk masih dipasok dari pedagang dan pasar induk Jakabaring. Namun pasokan tersebut tidak selalu stabil dan berkelanjutan.
“Konsep FAITH ini sangat relevan bagi kami. Selain mendukung kemandirian pangan pesantren, juga selaras dengan program santripreneur yang sedang kami rintis,” ujarnya.
Program santripreneur di pesantren tersebut mendorong santri belajar kewirausahaan di sektor pertanian, mulai dari budidaya hingga pengolahan hasil panen. Dengan demikian, kebun pangan tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur, tetapi juga menjadi laboratorium bisnis pertanian bagi generasi muda.
Baca Juga: Inflasi Pangan Tembus 3,55 Persen, BI Jadikan Sumsel Kunci Stabilitas Harga 2026
Pelaksanaan FAITH dilakukan melalui tiga tahapan. Tahap pertama berupa pembekalan dasar pertanian cerdas iklim yang digelar pada 7 Februari 2026 di Desa Ganesha Mukti. Sebanyak 90 santri mengikuti pelatihan tersebut.
Menariknya, pelatih dalam program ini bukan hanya akademisi, tetapi para petani terampil dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi yang telah berpengalaman mengelola kebun dapur. Pendekatan “dari petani ke petani” menjadi kunci transfer pengetahuan berbasis pengalaman.
Tahap kedua dilaksanakan pada 8-9 Februari 2026 di lingkungan pesantren. Hasilnya, kini telah terbentuk cikal bakal kebun pangan di Ponpes Al Khoiriyah yang ditanami berbagai jenis sayuran dan umbi-umbian.
Yesi Lismawati, Ketua Komunitas Wikipangan Sumatera Selatan yang turut mendampingi program ini, menegaskan bahwa masa depan ketahanan pangan sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda.
“FAITH menjadi ikhtiar awal membangun kemandirian pangan berbasis anak muda. Harapannya, konsep ini bisa direplikasi lebih luas, terutama oleh para santri di berbagai pesantren,” katanya.
Di tengah ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim, langkah kecil dari pesantren di pedesaan Banyuasin ini menjadi contoh bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari halaman sendiri.
Berita Terkait
-
Inflasi Pangan Tembus 3,55 Persen, BI Jadikan Sumsel Kunci Stabilitas Harga 2026
-
Viral Dua Kontainer Mengambang di Laut Banyuasin, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Apa Itu Bioavtur dan Benarkah Pabrik di Banyuasin Sumsel yang Pertama di Dunia?
-
Jepang Garap Pabrik Bioavtur di Banyuasin, Ini 7 Fakta Investasi Rp310 Miliar
-
Jepang Tanam Investasi Rp310 Miliar, Pabrik Bioavtur Pertama Mulai Dibangun di Sumsel
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Cuaca Panas Lahat Bikin Makeup Luntur? Ini 5 Bedak Tabur yang Terbukti Tahan Seharian
-
Tiba-Tiba Ditunda! Car Free Night Palembang Batal, Jembatan Ampera Tak Ditutup
-
Mengapa Selapan Sering Disebut dalam Kasus Hacker? Ini Penjelasan di Balik Kasus Dana BOS Prabumulih
-
Penumpang Kereta di Sumsel Naik 15 Persen, Tembus 296 Ribu, Ini Penyebabnya
-
50 Korban Tertipu Guru di Palembang, Rp1,1 Miliar Raib, Modus Tukar Uang Lebaran Terungkap