- Revitalisasi makam Ario Damar di Palembang menuai kritik keras dari sejarawan karena ketidaksesuaian standar teknis.
- Ario Damar adalah Adipati Palembang era akhir Majapahit abad ke-15 yang membuka jalan Kesultanan Palembang Darussalam.
- Kritikus menemukan kerusakan fisik seperti atap bocor, ornamen rusak, dan kesalahan penulisan nama tokoh sejarah.
SuaraSumsel.id - Nama Ario Damar kembali menjadi perbincangan publik di Palembang. Bukan semata karena perannya dalam sejarah, melainkan karena revitalisasi makamnya di kawasan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, yang belakangan menuai kritik keras dari sejarawan, budayawan, hingga Tim Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang.
Revitalisasi yang seharusnya menjadi upaya pelestarian justru dipersoalkan karena dinilai tidak sesuai standar, mulai dari penulisan nama yang salah hingga kualitas bangunan yang bocor. Lalu, siapa sebenarnya Ario Damar, dan mengapa makamnya memiliki nilai penting bagi sejarah Palembang?
Dalam berbagai sumber sejarah lokal dan nusantara, Ario Damar yang juga dikenal sebagai Ario Dillah disebut sebagai Adipati Palembang pada masa akhir Kerajaan Majapahit. Ia dikenal sebagai putra Raja Majapahit Brawijaya V, salah satu raja terakhir Majapahit yang berkuasa pada abad ke-15.
Ario Damar memiliki peran strategis sebagai penguasa wilayah Palembang, yang saat itu menjadi salah satu pelabuhan penting di Sumatera dan jalur perdagangan Nusantara. Dalam sejarah Islam Nusantara, Ario Damar juga kerap dikaitkan dengan proses awal peralihan kekuasaan dan budaya dari era Hindu-Buddha menuju Islam di Palembang.
Sejumlah literatur bahkan menyebut Ario Damar sebagai figur yang membuka jalan bagi lahirnya Kesultanan Palembang Darussalam pada generasi berikutnya. Karena peran itulah, makam Ario Damar dianggap sebagai situs sejarah dan cagar budaya penting bagi masyarakat Palembang.
Makam Ario Damar terletak di kawasan 20 Ilir, Palembang, dan selama bertahun-tahun dikenal sebagai situs ziarah sejarah. Pemerintah Kota Palembang kemudian melakukan revitalisasi makam dengan tujuan memperbaiki kondisi fisik dan meningkatkan nilai edukasi sejarah.
Namun, proyek revitalisasi tersebut justru menuai kritik tajam. Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang yang sebelumnya ikut terlibat dalam penyusunan Detail Engineering Design (DED) menilai hasil pekerjaan di lapangan jauh dari rencana awal.
Dalam peninjauan lapangan pada Sabtu (17/1/2026), Tim 11 bersama budayawan dan sejarawan menemukan sejumlah persoalan. Mulai dari genangan air di area makam, saluran air yang tidak berfungsi, hingga ornamen bangunan yang hanya ditempel dan mudah rusak.
Salah satu sorotan paling serius adalah penulisan nama Ario Damar dalam huruf Arab Melayu dan Latin yang dinilai tidak sesuai kaidah sejarah. Tulisan tersebut bahkan disebut hanya ditempel dan sebagian sudah lepas serta hancur.
Baca Juga: Revitalisasi Makam Ario Damar Tuai Kritik, Dari Nama Salah sampai Bangunan Bocor
Selain itu, kualitas bangunan pendopo juga dikritik. Atap disebut bocor, kayu dinilai berkualitas rendah, plafon tidak terpasang, dan pencahayaan dari lampu tenaga surya tidak berfungsi optimal. Kondisi ini dinilai ironis karena bangunan belum diserahterimakan ke Pemkot Palembang, namun sudah menunjukkan kerusakan.
Kritik tidak hanya berhenti pada aspek teknis. Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang bersama Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB) mendesak agar revitalisasi makam Ario Damar diaudit, baik dari sisi teknis maupun keuangan.
Mereka menilai, revitalisasi situs sejarah tidak bisa diperlakukan seperti proyek fisik biasa. Setiap detail—mulai dari material, ornamen, hingga penulisan nama tokoh—harus mengacu pada kajian sejarah dan DED yang telah disepakati.
Bagi sejarawan dan budayawan Palembang, makam Ario Damar bukan sekadar bangunan, melainkan penanda identitas sejarah kota. Kesalahan dalam revitalisasi dikhawatirkan tidak hanya merusak fisik situs, tetapi juga mencederai ingatan kolektif dan nilai sejarah Palembang.
Kini, publik menunggu langkah lanjutan dari Pemkot Palembang terkait evaluasi revitalisasi makam tersebut. Di sisi lain, polemik ini kembali mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam mengelola dan merawat warisan sejarah yang bernilai tinggi.
Tag
Berita Terkait
-
Revitalisasi Makam Ario Damar Tuai Kritik, Dari Nama Salah sampai Bangunan Bocor
-
7 Fakta Truk Ekspedisi Terbakar di Tol IndralayaPalembang Dini Hari, Seluruh Paket Hangus
-
Jadwal Terbang Scoot Palembang - Singapura 2026, Pilih Pagi atau Malam Tanpa Transit
-
Akhirnya Terbang Lagi! Scoot Resmi Layani Rute Langsung Palembang - Singapura
-
Sempat Lapor Balik Mahasiswi, Dosen yang Diduga Lakukan Pelecehan Dinonaktifkan Kampus
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Siapkan 3 Solusi Finansial untuk Tabungan, Pinjaman hingga Modal Usaha
-
Kinerja Transaction Banking BRI Melesat, Dukung Peningkatan Dana Murah Berkelanjutan
-
Imsak Palembang 5 Maret 2026 Jam Berapa? Catat Jadwal Sahur dan Buka Puasa Hari Ini
-
Bank Sumsel Babel Beri Diskon 10 Persen di MDP Super Store, Potongan hingga Rp250 Ribu
-
45 Tahun PTBA: Perkuat Komitmen Kelestarian Lingkungan dan Keselamatan Kerja