- Dugaan perundungan sistemik terjadi di PPDS Mata FK Unsri, mengungkap praktik yang dibenarkan sebagai tradisi pendidikan dokter spesialis.
- Relasi kuasa timpang antara senior dan junior, diperparah aturan tidak jelas, memicu praktik sewenang-wenang dan jam kerja ekstrem.
- Kemenkes menghentikan sementara PPDS Unsri, mendorong institusi membentuk badan anti-perundungan sebagai respons terhadap masalah struktural ini.
SuaraSumsel.id - Di lingkungan pendidikan dokter spesialis, kata tradisi kerap menjadi tameng. Ia terdengar netral, bahkan terhormat. Tradisi jaga panjang, tradisi ditegur keras, tradisi yang 'ditempa' oleh senior. Namun di balik istilah itu, praktik yang sejatinya menyakiti, secara mental maupun profesional, yang kerap dinormalisasi dan diwariskan lintas angkatan.
Kasus dugaan perundungan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya menjadi contoh nyata bagaimana praktik tersebut bisa bertahan lama. Fakta yang terungkap menunjukkan bahwa korban perundungan bukan satu orang, melainkan berasal dari satu angkatan mahasiswa yang sama.
Kepala Humas Unsri, Nurly Meilinda, menyatakan bahwa meskipun hanya satu mahasiswa yang berani mengungkapkan kejadian tersebut ke publik, pengalaman serupa diduga dialami oleh rekan-rekannya dalam angkatan yang sama.
Fakta ini menggeser narasi kasus dari sekadar konflik personal menjadi persoalan yang lebih dalam yakni pola sistemik dalam pendidikan dokter spesialis.
Pendiri lembaga kajian Center for Indonesia Strategic Development Initiatives (CISDI), Diah Saminarsih, menilai praktik perundungan di PPDS sangat rentan terjadi karena relasi kuasa yang timpang antara senior dan junior. Dalam struktur hierarkis seperti ini, permintaan yang tampak sederhana bisa perlahan dianggap wajar, padahal menjadi pintu masuk perundungan.
“Awalnya mungkin cuma dianggap nolongin sesekali. Tapi yang begitu enggak boleh dan enggak boleh dinormalisasi,” ujar Diah melansir BBC Indonesia.
Menurutnya, perundungan jarang muncul dalam bentuk ekstrem sejak awal. Ia tumbuh pelan-pelan, dimulai dari hal kecil yang dibiarkan, lalu berulang, hingga akhirnya dianggap sebagai bagian dari budaya.
Diah juga menyoroti persoalan mendasar lain dalam PPDS, yakni ketidakjelasan aturan main. Jam kerja residen yang tidak menentu, ketiadaan insentif yang layak, serta minimnya batasan tegas antara kewajiban akademik dan relasi personal menciptakan apa yang ia sebut sebagai ruang abu-abu.
Di ruang inilah, kata Diah, seseorang atau sekelompok orang dapat bertindak sewenang-wenang. Ketika batas profesional kabur, junior bisa ditekan untuk bekerja lembur, bahkan mengerjakan tugas-tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab senior.
Baca Juga: Kredit UMKM Sumsel Capai Rp41,3 Triliun, OJK Ungkap 7 Indikator Penguatan Ekonomi Daerah
“Kalau tidak ada aturan main yang jelas, maka terbuka kesempatan untuk memainkan aturan dengan menunjukkan bahwa saya punya kuasa lebih daripada kamu,” ujarnya.
Tekanan berat dalam pendidikan dokter spesialis juga diakui oleh RH, seorang lulusan PPDS Unsri yang meminta identitasnya disamarkan. Ia mengatakan bahwa sejak awal memilih jalur kedokteran, dirinya sudah menyadari konsekuensi yang harus dihadapi, terutama saat menjalani masa residensi.
Namun, realitas di lapangan tetap tidak mudah. Saat menjadi residen junior PPDS di salah satu rumah sakit di Kota Palembang, RH mengklaim tidak mendapat hari libur selama dua tahun penuh.
“Ritmenya memang padat banget. Kalau orang biasa, mungkin bisa gila,” ujarnya.
Selama periode tersebut, RH harus selalu siaga di rumah sakit, mempelajari berbagai kasus, menganalisis kondisi pasien, dan memastikan ilmu yang diperolehnya benar-benar terpakai dalam praktik. Pasien harus dipantau sejak bangun hingga tidur kembali.
“Selama dua tahun di awal, tidak ada libur kecuali hal yang sangat penting. Kita benar-benar mendedikasikan diri untuk belajar,” katanya.
Tag
Berita Terkait
-
Fakta-fakta Perundungan Mahasiswa PPDS Unsri: Gaya Hidup Mewah Senior hingga Ancaman Bunuh Diri
-
Cek Fakta: Viral Ustaz Ajak Jamaah Bersahabat dengan Israel, Ini Faktanya!
-
5 Pertimbangan Memilih HP untuk Hindari Salah Beli di 2026, Merek Terkenal atau Spek Gahar?
-
7 Cushion Matte Finish untuk Menahan Minyak Seharian Tanpa Geser
-
Kredit UMKM Sumsel Capai Rp41,3 Triliun, OJK Ungkap 7 Indikator Penguatan Ekonomi Daerah
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Fadli Zon Kaget! Acara Serah Terima SK Keraton Solo Diserbu Protes, Mikrofon Direbut
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
Terkini
-
Revitalisasi Makam Ario Damar Tuai Kritik, Dari Nama Salah sampai Bangunan Bocor
-
7 Foundation Tahan Air untuk Makeup Awet di Acara Outdoor
-
Transfer Gratis Tanpa Ribet, Ini Cara Bank Sumsel Babel Bikin Transaksi Makin Hemat
-
Cek Skincaremu! BPOM Ungkap 26 Kosmetik Berbahaya, Termasuk Daviena Skincare
-
Perundungan PPDS Disebut 'Tradisi', Kasus FK Unsri Bongkar Pola yang Lama Dibiarkan