- Peristiwa heroik Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang, yang berlangsung 1-5 Januari 1947 baru mendapat perhatian serius setelah beberapa dekade.
- Rencana penetapan peringatan resmi Perang 5 Hari 5 Malam Palembang sebagai agenda daerah dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2027.
- Keterlambatan institusionalisasi ingatan sejarah menimbulkan kekecewaan bagi veteran yang berjuang melawan kolonialisme dahulu.
SuaraSumsel.id - Peringatan Perang 5 Hari 5 Malam Palembang seharusnya menjadi momentum kebanggaan kolektif wong Palembang. Namun di balik gegap gempita perayaan yang kini mulai digulirkan, muncul perenungan kritis di tengah publik: mengapa peristiwa heroik yang terjadi pada 1–5 Januari 1947 itu baru mendapat perhatian serius setelah puluhan tahun berlalu?
Perang tersebut jelas bukan catatan kecil dalam sejarah Indonesia. Palembang pernah menjadi medan perlawanan sengit rakyat melawan kolonialisme, dengan pengorbanan nyawa, harta, dan masa depan. Namun, berbeda dengan sejumlah kota lain yang berhasil merawat ingatan kolektifnya, Palembang justru lama tertinggal dalam menginstitusikan sejarahnya sendiri.
Bagi sebagian veteran, keterlambatan ini menyisakan rasa getir. Banyak pejuang telah wafat tanpa sempat menyaksikan perjuangan mereka dihormati secara layak di daerahnya sendiri. Perang yang mereka jalani di usia muda kini baru dirayakan ketika rambut telah memutih, bahkan saat sebagian besar rekan seperjuangan telah tiada.
Dari situ, pertanyaan publik pun mengemuka: apakah selama ini Palembang kekurangan peristiwa heroik, atau justru lalai merawat sejarahnya sendiri?
Pemerintah daerah menyebut rencana menjadikan peringatan Perang 5 Hari 5 Malam sebagai agenda resmi akan dimulai pada 2027. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sulaiman Amin, dalam penutupan peringatan Perang 5 Hari 5 Malam, menyatakan bahwa peringatan ini perlu dikelola lebih baik, lebih meriah, dan tidak lagi bergantung pada inisiatif mandiri komunitas sejarah.
Sementara itu, suara dari kalangan veteran menegaskan betapa waktu kian menipis. Seorang veteran Palembang, Rupawi Djimuun, berusia 84 tahun dengan pangkat terakhir kopral, menyebut hanya satu veteran pelaku langsung Perang 5 Hari 5 Malam yang hadir dalam peringatan tahun 2026.
“Tadi ada satu veteran, tapi memang kondisi kesehatannya tidak memungkinkan lagi untuk berbicara lama,” ujarnya.
Sebagai kota yang terus tumbuh, Palembang dinilai telah mengalami kemajuan fisik dan ekonomi. Namun kemajuan tersebut tidak selalu sejalan dengan kematangan ingatan sejarah.
Peringatan Perang 5 Hari 5 Malam seharusnya menjadi cermin bahwa kota besar bukan hanya diukur dari gedung dan jalan, melainkan dari kemampuannya menghormati pengorbanan yang membentuknya.
Baca Juga: Inflasi Sumsel Naik Jelang 2026, Ini 8 Fakta yang Perlu Diwaspadai Warga
Kini, ketika peringatan mulai digarap lebih serius, publik berharap langkah ini bukan sekadar penebusan atas kelalaian masa lalu. Momentum tersebut harus dijaga agar tidak berhenti sebagai proyek tahunan atau pencitraan sesaat.
Peringatan Perang 5 Hari 5 Malam idealnya menjadi monumen hidup, yang mengajarkan nilai keberanian, solidaritas, dan pengorbanan kepada generasi muda. Bukan hanya mengenang siapa yang gugur, tetapi juga berani bertanya secara jujur: mengapa kita begitu lama diam?
Sejarah tidak juga menuntut kemeriahan. Ia menuntut kejujuran dan konsistensi. Jika Palembang mampu menjawab tantangan itu, maka peringatan yang terlambat ini masih bisa bermakna.
Berita Terkait
-
Di Balik Penyerangan Sadis di PS Mall Palembang, Ada Konflik yang Sudah Lama Membara
-
Terungkap! 5 Fakta Penyerangan Depan PS Mall Palembang yang Libatkan Antar Kelompok
-
Tak Perlu ke Rumah Sakit! Ini Daftar Puskesmas di Palembang yang Bisa Rawat Inap 2026
-
Kronologi Penyerangan Pria oleh Kelompok OTK Bersenjata Tajam di Depan PS Mall Palembang
-
Ramai Efisiensi Anggaran, Kenapa SILPA Pemkot Palembang Masih Rp79 Miliar?
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?