- Pemerintah Kota Palembang mencatat Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) sebesar Rp79 miliar pada akhir tahun anggaran 2025.
- Realisasi pendapatan daerah mencapai Rp4,8 triliun dari anggaran Rp5,2 triliun, sementara belanja terealisasi Rp4,8 triliun.
- SILPA ini disebabkan oleh pengendalian belanja dan kehati-hatian penggunaan anggaran, melebihi target perencanaan awal nol rupiah.
SuaraSumsel.id - Isu efisiensi anggaran tengah ramai dibahas di berbagai daerah seiring dorongan pemerintah untuk memperketat belanja dan meningkatkan kualitas penggunaan APBD. Namun, di tengah narasi efisiensi tersebut, Pemerintah Kota Palembang justru mencatat Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) sebesar Rp79 miliar pada akhir tahun anggaran 2025.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik: jika efisiensi diklaim berjalan, mengapa masih tersisa anggaran yang cukup besar?
Berdasarkan data realisasi APBD 2025, Pemerintah Kota Palembang membukukan pendapatan daerah sebesar Rp4,8 triliun dari total anggaran Rp5,2 triliun, atau setara 91,67 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan secara nominal dibandingkan tahun sebelumnya, meski persentase realisasi lebih rendah dari capaian 2024.
Di sisi belanja, anggaran tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp5,3 triliun dengan realisasi mencapai Rp4,8 triliun. Artinya, serapan belanja berada di kisaran 90 persen. Dari perhitungan pendapatan, belanja, dan pembiayaan tersebut, Pemkot Palembang mencatat SILPA sebesar Rp79 miliar, padahal dalam perencanaan awal APBD 2025, SILPA ditargetkan nol rupiah.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Palembang, Ahmad Nashir, menjelaskan bahwa munculnya SILPA tidak selalu identik dengan lemahnya serapan anggaran. Menurutnya, SILPA justru mencerminkan adanya pengendalian belanja dan efisiensi dalam pelaksanaan program.
Ia menuturkan, sepanjang 2025 pemerintah kota menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penggunaan anggaran. Sejumlah kegiatan mengalami penghematan biaya tanpa mengurangi target kinerja, sementara sebagian program lain mengalami penyesuaian waktu pelaksanaan. Kondisi ini membuat tidak seluruh anggaran yang tersedia harus dihabiskan di akhir tahun.
“Secara nilai, realisasi pendapatan dan belanja tahun 2025 lebih tinggi dibandingkan 2024. Jadi SILPA ini lebih karena efisiensi dan pengendalian anggaran, bukan karena kinerja yang menurun,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah pembiayaan netto. Pada 2025, pembiayaan netto ditargetkan sebesar Rp67,1 miliar, namun realisasinya mencapai lebih dari Rp102,1 miliar atau sekitar 152 persen dari target. Kelebihan realisasi pembiayaan ini ikut berkontribusi terhadap terbentuknya SILPA di akhir tahun anggaran.
Meski demikian, besarnya SILPA tetap menjadi catatan penting dalam evaluasi pengelolaan APBD. Di satu sisi, SILPA dapat dipandang sebagai ruang fiskal yang menunjukkan kehati-hatian pemerintah daerah. Namun di sisi lain, angka SILPA yang cukup besar juga memunculkan diskusi publik mengenai efektivitas perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan.
Baca Juga: Kronologi Komplotan Ngaku Petugas PLN Masuk Rumah Warga Palembang, Emas Rp220 Juta Raib
Menatap tahun 2026, Pemkot Palembang telah menetapkan target pendapatan daerah sebesar Rp4,6 triliun. Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, menekankan bahwa efisiensi anggaran tetap akan menjadi prinsip utama, bersamaan dengan upaya mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Salah satu strategi yang diusung adalah program Anti Mager, yang mendorong aparatur sipil negara lebih aktif turun ke lapangan untuk menggali potensi PAD yang belum tergarap. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memastikan anggaran yang dibelanjakan benar-benar tepat sasaran.
Dengan kondisi tersebut, SILPA Rp79 miliar di APBD 2025 menjadi refleksi dua sisi pengelolaan keuangan daerah: sebagai indikator efisiensi dan kehati-hatian, sekaligus sebagai bahan evaluasi agar perencanaan dan pelaksanaan anggaran ke depan semakin selaras dengan kebutuhan masyarakat.
Tag
Berita Terkait
-
Kronologi Komplotan Ngaku Petugas PLN Masuk Rumah Warga Palembang, Emas Rp220 Juta Raib
-
Ratusan Sekolah Negeri Masih Rusak di 2026, Ada yang Tak Beres di Palembang?
-
Terkuak! 7 Fakta Kasus Dugaan Pelecehan Oknum Dosen FH UMP yang Bikin Heboh
-
Ngebut Tak Terkendali, 7 Fakta Xpander Diduga Mabuk Hantam Empat Mobil di Kertapati
-
Jejak Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang: Peta Lokasi Pertempuran yang Kini Jadi Kota Modern
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Terima Uang Palsu Bisa Bikin Rugi, BI Sumsel Tegaskan Tak Bisa Diganti Meski Korban
-
BRI Region 4 Palembang Salurkan Bantuan ke Enam Gereja, Perkuat Kepedulian dan Toleransi
-
PTBA Cetak Mekanik Muda Siap Industri, Lulusan Basic Mechanic Course Ring 1 Tanjung Enim Dikukuhkan
-
Viral Minta Uang ke Sopir Pakai Seragam Polisi, Eks Bripka di Lubuk Linggau Ditangkap
-
Mulai Hari Ini, Isi Solar Subsidi di 10 SPBU Palembang Wajib Ikuti Aturan Baru