- Dua perupa, Aan Gunawan dan Rahmat Kurniawan, memamerkan lukisan ikan endemik Sumatera Selatan di Palembang.
- Aan Gunawan menyoroti simbol perjuangan hidup melalui lukisan ikan betok, sementara Rahmat fokus pada ancaman eksploitasi ikan gabus.
- Pameran "Estetika Psikedelik" menampilkan 54 karya untuk merefleksikan hubungan manusia dengan keberlanjutan ekosistem air tawar lokal.
SuaraSumsel.id - Sumatera Selatan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan ikan air tawar yang melimpah. Ratusan jenis ikan hidup dan berkembang di sungai, rawa, hingga danau. Namun, kekayaan hayati itu jarang menjadi objek dalam karya seni rupa. Dunia lukis selama ini lebih akrab dengan ikan hias seperti koi, ikan emas, atau cupang.
Kondisi itulah yang coba diterobos dua perupa, Aan Gunawan dan Rahmat Kurniawan. Keduanya menghadirkan ikan endemik Sumatera Selatan, ikan betok (Anabas testudineus) dan ikan gabus (Channa striata), sebagai objek utama lukisan dalam pameran seni rupa Estetika Psikedelik yang digelar di Hotel The Alts Palembang, 19–27 Desember 2025.
Aan Gunawan menampilkan karya berjudul “Survival Insting”, sebuah lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 100 x 80 sentimeter. Melalui figur ikan betok, Aan menyoroti naluri dasar setiap makhluk hidup untuk bertahan hidup, bahkan dalam kondisi paling sulit.
“Saya punya ingatan yang kuat tentang ikan betok sejak kecil, saat tinggal di dusun. Ikan ini punya naluri bertahan hidup yang luar biasa. Ketika berada di tanah kering tanpa air, ia akan menggerakkan tubuhnya untuk mencari sumber air,” ujar Aan.
Menurutnya, ikan betok bukan sekadar objek visual, melainkan simbol perlawanan terhadap keputusasaan. “Kalau ikan betok saja mampu bertahan hidup, apalagi manusia yang punya akal dan kesadaran. Lukisan ini bagi saya adalah simbol perjuangan,” katanya.
Rahmat Kurniawan juga menghadirkan lukisan berjudul “Dilahap Predator” di atas kanvas berukuran 130 x 100 sentimeter, juga menggunakan media akrilik. Karya ini langsung mengajukan pertanyaan tajam kepada penikmat seni yakni siapa sebenarnya predator?
“Ikan gabus dikenal sebagai predator puncak di ekosistem air tawar. Ia agresif dan karnivora sejati, memangsa ikan lain, udang, cacing, serangga, hingga katak,” jelas Rahmat.
“Namun, ikan gabus tetap tak berdaya di hadapan manusia sebagai predator sesungguhnya.”
Di Sumatera Selatan, ikan gabus diburu hampir setiap hari. Selain dikonsumsi langsung, ikan ini menjadi bahan utama pempek, makanan khas Palembang yang nyaris hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Baca Juga: Bank Sumsel Babel Dampingi ASN Siapkan Masa Purna Tugas yang Sejahtera
Rahmat mengaku khawatir, jika eksploitasi terus berlangsung tanpa kontrol, ikan gabus berpotensi menjadi langka dalam beberapa tahun ke depan. “Banyak rawa telah berubah menjadi perkebunan. Padahal, rawa adalah habitat utama ikan gabus,” ujarnya.
Melalui lukisan tersebut, Rahmat menyampaikan pesan ekologis yang kuat. “Kalau rawa dan sungai rusak atau hilang, maka ikan-ikan air tawar juga akan hilang. Termasuk ikan gabus,” katanya.
Pameran Estetika Psikedelik sendiri menampilkan 54 karya lukisan dari 23 perupa. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Timur, Lampung, hingga Yogyakarta. Pameran ini bukan hanya ruang apresiasi seni, tetapi juga menjadi medium refleksi tentang hubungan manusia, alam, dan keberlanjutan ekosistem air tawar.
* Penulis: Mohamad Shabir Al Fikri - Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang
Tag
Berita Terkait
-
Harga Emas Hari Ini Melejit! Cek Angka Terbarunya, Waktunya Beli atau Jual?
-
Liburan Nataru di Palembang Makin Murah, 10 Hotel dengan Promo Menginap & Dinner Spesial
-
Sriwijaya FC Selamat! Hakim Tolak Gugatan PKPU, Asa Bangkit Terbuka
-
Perkara TPPU Rp38 Miliar Eks Rektor Bina Darma Palembang Dilimpahkan ke Jaksa, Segera Disidang?
-
Waspada! Ini Peta Lokasi Rawan Begal di Pinggiran Kota Palembang
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Halal Bihalal Bank Sumsel Babel 2026: Perkuat Sinergi dan Bangun Budaya Kerja Positif
-
5 Fakta Aksi Begal Sadis di Prabumulih: Korban Ditendang hingga Motor Raib
-
Ditemukan Bersimbah Darah di Kontrakan, 5 Fakta Kematian Pegawai Bawaslu OKU Selatan
-
WFH Demi Hemat BBM, Gubernur Herman Deru Siapkan Langkah Ini di Sumsel
-
Cek Tarif Penyeberangan TAA-Muntok 2026: dari Motor Rp138 Ribu hingga Truk Rp6 Jutaan