Tasmalinda
Jum'at, 12 Desember 2025 | 16:45 WIB
jembatan kelekar di Prabumulih ambruk
Baca 10 detik
  • Jembatan Kelekar di Prabumulih runtuh pada Kamis (11/12/2025) sore akibat arus deras Sungai Kelekar menghantam pondasi tua.
  • Runtuhnya jembatan tersebut memutus akses tiga kelurahan, memaksa warga menggunakan rute alternatif yang lebih jauh.
  • Satu anggota Bhabinkamtibmas terluka akibat terpeleset di lokasi jembatan yang struktur tanahnya tidak stabil.

SuaraSumsel.id - Hujan deras yang mengguyur wilayah Prabumulih sejak beberapa hari terakhir akhirnya memicu ambruknya Jembatan Kelekar di Jalan Tanggamus, Kelurahan Muara Dua Induk, pada Kamis (11/12/2025) sekitar pukul 17.45 WIB. Derasnya arus Sungai Kelekar menghantam pondasi jembatan yang telah berusia sekitar 25 tahun, hingga membuat struktur utama tidak mampu bertahan dan runtuh seketika.

Ambruknya jembatan itu langsung memutus akses penghubung antara Kelurahan Muara Dua Induk, Muara Dua Barat, dan Karang Jaya. Warga yang setiap hari menggunakan jembatan sebagai jalur utama menuju pusat aktivitas kini terpaksa mengambil rute alternatif yang jaraknya lebih jauh.

Kondisi ini membuat mobilitas masyarakat menjadi sangat terganggu, terutama bagi pekerja, pelajar, dan pengemudi kendaraan roda dua yang setiap hari bergantung pada jembatan tersebut.

Dalam insiden itu, seorang anggota Bhabinkamtibmas dilaporkan mengalami luka setelah terpeleset saat berada di sekitar lokasi. Polisi tersebut sempat terjatuh akibat kondisi tanah dan struktur jembatan yang tidak stabil. Rekan-rekan sesama petugas langsung memberikan pertolongan dan membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat. Meski tidak mengalami luka berat, kejadian itu menambah panjang dampak yang ditimbulkan oleh keruntuhan jembatan.

Aparat dari Dishub, Polres Prabumulih, dan perangkat kelurahan segera mendatangi lokasi untuk melakukan pengamanan. Garis pembatas dipasang di dua sisi jembatan guna mencegah warga mendekati titik yang berpotensi longsor lebih lanjut. Petugas juga mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan diri menyeberangi area yang runtuh karena kondisi tanah di sekitar jembatan masih labil dan bisa kembali amblas sewaktu-waktu.

Warga yang berada di sekitar lokasi mengaku sudah sejak lama mengkhawatirkan kondisi jembatan tersebut. Usia yang sudah lebih dari dua dekade disertai tingginya intensitas hujan membuat kekuatan konstruksi semakin menurun. Beberapa warga bahkan menyebutkan bahwa getaran dan retakan kecil sudah terlihat sejak awal musim hujan, namun belum ada perbaikan struktural yang signifikan.

Keruntuhan Jembatan Kelekar ini menjadi perhatian serius pemerintah kota. Selain merupakan akses vital menuju permukiman padat penduduk, jembatan ini juga menghubungkan jalur ekonomi lokal yang sehari-hari dilalui pedagang dan pekerja. Warga berharap pemerintah segera melakukan asesmen teknis, membangun jembatan darurat, dan mempercepat rencana pembangunan jembatan baru agar aktivitas masyarakat tidak lumpuh berlarut-larut.

Petugas masih melakukan pemantauan kondisi sungai dan struktur yang tersisa. Pemerintah daerah juga berencana berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk melihat kemungkinan penanganan darurat terhadap aliran air yang semakin kuat selama musim hujan.

Kerusakan jembatan ini kembali mengingatkan pentingnya pemeriksaan berkala dan penguatan infrastruktur yang berada di area risiko banjir dan luapan sungai. Masyarakat kini menunggu tindak lanjut pemerintah agar akses penghubung tersebut segera kembali pulih dan tidak membahayakan keselamatan warga.

Baca Juga: Bank Sumsel Babel Hadir Lebih Dekat bagi Masyarakat Pulau Rimau melalui Kantor Kas Baru

Load More